Tuesday, September 30, 2014

Jumatulis Season 2 - 01 POP - Luka memar


Tuan, ketika kau singgah pada pelabuhan yang menghubungkan darat dengan lautan yang luas. Kau tersenyum padaku. Aku tidak begitu memahami bagaimana cinta dapat dirasakan. Aku yang begitu lugu, tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta seperti teman-temanku.
Langkah kakimu mantap kala itu, sementara aku yang hanya duduk di atas jembatan kayu, menatap dengan kosong ke arah laut lepas. Mengombang-ambingkan pikiran yang sunyi. Derap sepatumu, mengetuk-ngetuk dinding kayu, juga hatiku.
Saat itu, topimu yang bulat dan putih, melindungi dari terik panas yang tidak aku hiraukan. Senyummu membuat hatiku menggebu, ternyata ada juga kupu-kupu yang terbang dalam perutku.
Dua tahun yang lalu, selama tiga bulan kita bersama dan tertawa, namun ternyata kisah kita hanya bertahan sebentar saja. Namun memar dalam hati ini yang merindu dan juga tak menentu, tidak lagi tahu bagaimana cara menyembuhkannya.
"Wo, obat buat menghilangkan memar, lebam, itu apa?"
"Lebam? Nah, ada nih, kemaren gue baru beli di apotek."
"Heh?"
"Ini, Trombo-POP. Bisa menghilangkan memar, lebam dan luka lain."
"Ini hati Wo, hati gue yang memar!!!!"
Dan saat itu hanya suara dengingan nyamuk yang terdengar kala malam semakin sunyi. Tatapan mata Wowo yang melirik ke arah Wati, hanya bisa pasrah. Hujan cubitan tengah turun deras malam ini, di lengan Wowo.
*********************************
#Jumatulis kembali lagi, kini Season 2 sudah dimulai. Bagi yang ingin ikutan dalam #Jumatulis, silakan langsung saja meluncur ke @jumatulis.

Saturday, September 27, 2014

Jumatulis Season 2 - 01 POP Musik POP Kenangan



 Aku sedang mendengarkan musik pop dari ponsel. Aku suka musik pop karena musik pop dapat mewakili perasaan pendengarnya. musik pop yang kuputar lagu cinta, lagu cinta yang mewakili cintaku padamu, cuma kamu, hanya kamu. Titik.
Kuputar berulang-ulang lagu cinta ini, sebagai pengobat rindu, rinduku padamu.
Tak ada rasa bosan telingaku mendengarkannya.
Lagu cinta berhenti tepat pada saat ponselku mati.
Seperti cintaku padamu hanya akan berhenti ketika detak jantung terhenti.
              Diluar hujan telah berhenti.
Seketika itu aku teringat saat-saat bersamamu.
Banyak momen yang kita lewati berdua. ...ahh aku tak ingin kutuliskan disini, biarlah kenangan itu tersimpan rapi. Er... maafkan aku, maafkan lelaki yang bodoh ini, yang telah mengakumimu diam-diam. Akulah lelaki yang setiap pagi mengirimu bunga, aku pula yang telah mengirim lukisan wajahmu, dan aku pula yang  mengirim puisi. Oh iya Er...kemarin aku membacakan puisi untukmu,
 judulnya Kepada Cinta yang Tak Sempat aku Ungkapkan.


Pada selembar kertas putih ini, aku menulis kata yang ingin aku sampaikan, sebelum aku pikun sebelum mata ku rabun dan tak dapat membaca

Pada ruang alam ini aku ingin bercerita tentang rasa yang sejak dulu ada yang sengaja tuhan cipta tentang rasa yang selalu engau tanyakan

Dulu katamu kau menunggu ungkapan cinta dariku tapi aku malu hingga ku pergi mendahuluiku

Lihatlah aku berdiri disini dengan kaki bergetar karna gemetar, dengan tangan yang masih menggenggam kertas

Jika saja aku tak merasa mungkin ini takkan aku katakan dan tak akan aku berikan

Kata yang tak sempat aku katakan ia selalu menggantung diujung lidah dan aku terkatung-katung karenanya


Er... jika suatu hari nanti aku mencintai wanita lain, percayalah dihatiku selalu ada tempat untukmu.



*lukisan karya: Feti Xuyan 16

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - Pop Untuk Popok Kain Modern

Pop! Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata POP?
Kalau saya, saya teringat dengan Popok J

Popok, pasti ini benda yang berhubungan dengan bayi kan? Yup betul, walaupun kadang orang yang sudah tua pun ada yang menggunakan popok karena alasan tertentu.

Perkenalan saya dengan popok dimulai sejak saya memiliki anak pertama. Pertama kali yang saya kenal adalah popok kain yang bertali, dimana setiap kali si bayi pipis atau pup maka setiap kali itu pula popok kainnya harus diganti. Anak pertama saya memakai popok kain selama lebih kurang dua bulan, setelah itu dengan alasan kepraktisan, saya menggunakan popok sekali pakai alias pospak.

Popok sekali pakai ini memang sesuai dengan budaya kita yang serba instan. Dari segi kepraktisan, jelas ini praktis sekali karena saya tidak harus selalu mengganti popok anak saya. Cukup kira-kira empat jam sekali saya mengganti popoknya, kecuali dia pup maka tetap pospaknya harus segera diganti. Dari segi pilihan merk dan harga, pospak juga memberikan banyak alternatif bagi orang tua, mulai dari pospak murah, menengah sampai yang mahal, semuanya tersedia, tinggal disesuaikan dengan kemampuan saja. Tetapi, sering juga terjadi kemapuan ortu mungkin pospak tingkat menengah (harga) sementara si bayi cocoknya memakai merk tertentu yang harganya mahal. Pada saat itu, saya merasa benar-benar tertolong dengan adanya pospak. Dan, kelihatannya modern juga ya kalau bayi kita memakai pospak . #Sigh.

Tapi… ada juga saat-saat dimana saya ingin nangis karena pospak ini. Saat dimana persediaan pospak anak saya habis berbanding lurus dengan keuangan saya yang menipis T_T. Sebagai kaum gaji, pertengahan sampai akhir bulan biasanya masuk masa kritis dalam keuangan. Anak saya biasanya memakai merk M yang dari segi kualitas baik dan harganya masih cukup terjangkau oleh saya. Satu waktu persediaan pospak anak saya benar-benar habis, dia sedang kurang sehat sehingga pup terus, jadilah pospak yang sedianya bisa untuk persediaan satu minggu habis dalam waktu tiga hari saja. Dan saat itu sudah akhir bulan dimana keuangan saya mengalami sindrom sesak napas. Berat rasanya harus melangkah ke mini market untuk membeli pospak, dengan persediaan keuangan yang menipis akhirnya saya membeli popok merk S yang lebih murah dan berharap kulit anak saya bisa cocok dengan pospak  ini. Alhamdulillah sih kulitnya baik-baik saja. #Lega

Selain di saat-saat tertentu saya ingin nangis, saya juga sering merasa bersalah dengan pemakaian pospak ini. Sering juga merasa jijik. Kenapa? Karena saya beberapa kali melihat sampah pospak yang berceceran, mending kalo isi pospaknya hanya air pipis… kalau isinya pup yang belum dibersihkan?! Hiiiihhh jijik bener deh.

Setelah anak pertama saya berusia dua tahun lebih satu bulan, saya Alhamdulillah hamil lagi. Waktu itu anak saya yang pertama masih memakai pospak di kesehariannya. Dengan adanya jabang bayi ini, saya mulai khawatir, sampai kapan anak pertama saya akan tergantung dengan pospak. Mulailah saya menyapih dia dari pospak. Ternyata bukan perkara gampang. Anak saya tersebut sudah kadung keenakan memakai pospak, dia sulit untuk diajari pipis apalagi pup di wc. Perjuangan banget deh sampai akhirnya di usia 2,8 tahun, dua bulan sebelum adiknya lahir, anak pertama saya bisa lepas dari pospak.

Pada kehamilan kedua ini, saya lebih banyak menggali informasi tentang masalah perpopokkan ini. Saya waktu itu masih aktif nge-blog di Multiply. Dari diskusi dengan para mama keren multiply, saya mendapatkan info tentang Popok Kain Modern yang kemudian sering disebut dengan Clodi.

Dari informasi yang saya dapatkan, ada banyak kelebihan dari si popok kain modern ini. Beberapa kelebihan popok jenis ini adalah: Penghematan (Subhanallah), pengurangan sampah, kesehatan dan juga beberapa alasan lain yaitu lebih nyaman bagi kulit bayi, lebih cepat lulus toilet training (Ini Pop Markopop deh), lebih bergaya dan kalau sudah tidak dipakai bisa dilungsurkan ke adiknya atau dalam kondisi yang masih baik juga bisa dijual kembali. #WowBanget
Beberapa Popok Kain Modern koleksi Reyhan

Bulan November 2011, saya berkesempatan datang ke Mother & Baby Expo di JCC. Di sanalah saya secara langsung melihat penampakan dari popok kain modern ini. Dari diskusi dengan produsen dan penjual di expo tersebut, saya akhirnya membawa pulang dua popok kain modern untuk persiapan si dede bayi yang coming soon J

Saya membeli model clodi atau popok kain newborn dan popok kain one size. Popok kain newborn merk GG untuk dipakai dari bayi baru lahir sampai usia sekitar 9 bulan, dan yang one size merk Momcare bisa dipakai dari usia 4 bulan sampai 2 tahun.

Sedikit pengetahuan tentang popok kain modern ini ya. Popok ini berbeda dengan popok kain biasa yang bertali. Ada beberapa bagian popok kain modern dan beberapa istilah yang berhubungan dengan popok jenis ini:
Outer. Bagian dari popok kain yang menghadap keluar
Inner. Bagian dari popok kain yang menghadap ke dalam dan menyentuh kulit si kecil
Soaker. Penyerap urine yang dijahit, diletakkan di atas inner, atau disisipkan di dalam popok kain.
Insert. Soaker yang disisipkan di dalam popok kain jenis pocket
Snap. Kancing penutup dan penyesuai ukuran pada popok kain.
Hook and Loop. Perekat untuk menutup popok kain, sering juga disebut Velcro
Diaper cover. Aksesoris popok kain bila bagian outer tidak waterproof.

Popok kain modern ini benar-benar Pop markopop buat saya. Semua alasan yang diberikan tentang kelebihan popok kain ini benar-benar saya rasakan. Beneran lebih hemat, tidak merusak lingkungan, lebih cepat lulus toilet training, dan lebih keren pastinya…

Lain kali saya cerita pengalaman saya berpopok kain dengan anak kedua deh… next postingan, insya Allah.

Friday, September 26, 2014

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - Dear Miss Pop

Dear Miss Pop,
Rambutmu adalah rangkai indah bunga bakung berwarna baur
Sarat dengan halus anak-anak rambut yang menjuntai lunglai
Lambai tanganmu pada tiap langkah penaka patahan dahan-dahan nyiur
Lengkap dengan jemarimu yang ramping, tak lain adalah jelma dari carang yang gemulai

Gerikmu berhasil merampok sukma dari raga yang telah lama terbuang
Pun kerjapmu telah dengan pongah membawa aku pergi sejenak dari nyata sebuah fana
Aku terjerat olehmu, secara utuh—tak bercerih

Miss Pop,
Ya, begitu aku mengenalmu
Garib memang untuk pertama diucap, namun menenangkan bila diulang tanpa bilangan
Jika waktu berkenan memberi jeda untuk tuntutan loka
Bisakah kita saling berbincang?
Tak akan lama, hanya sejenak
Sebilang

Kerjapmu

Yang

Mantra 


Jumatulis Season 2 – 01 Pop – Lolipop Lolita

“Ibu, Aku minta uang jajan.”
“Ibu belum punya uang, Nak.” Ujar Ibu Lolita sambil terus menyusun seikat demi seikat bayam yang baru dipetiknya tadi pagi di halaman belakang rumah ke dalam sebuah bakul yang sudah lusuh untuk kemudian dijual di pasar.
“Tapi, Bu.” Lolita memberanikan diri melangkah mendekati Ibunya.
“Semua teman sekelasku membeli lolipop yang dijual di warung seberang sekolah, lolipop yang ada dalam kartun Sailor Pop di televisi. Hanya aku yang tidak membelinya, Ibu. Mereka tidak mau mengajakku bermain karena aku tidak punya lolipop.”
Ia berkata sambil memilin ujung rok seragam sekolah yang dikenakannya, suaranya terdengar gemetar menahan tangis.
Ibunya tercenung, menghentikan pekerjaannya sejenak kemudian menoleh dan meraih kepala Lolita yang mungil, mengusapnya sepenuh kasih.
“Nanti kalau dagangan Ibu habis terjual, Ibu belikan, ya.”

***
Pukul 3 sore.
Tak seperti biasa, Ibu Lolita belum pulang dari pasar, namun ia tak terlalu khawatir, apalagi jika nanti Ibunya pulang tak membawa lolipop yang ia inginkan.

Lolita membayangkan besok di kelas teman-temannya akan mengajaknya bermain kembali, sebab ia kini telah menggenggam beberapa tangkai Lolipop, persis seperti milik teman-temannya. Pemberian Burhan, Ayah tirinya yang dengan nafas berat sedang meraba-raba kemaluannya.

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - Popping the Poop

 Oleh:

Sewaktu saya melempar tema "POP" sebagai tema perdana di #Jumatulis Season 2, saat itu saya sedang membayangkan untuk berburu buku anak yang berbentuk pop-up. Tapi, kali ini saya bukan bukan akan membahas buku di sini. Cukuplah di kata-nia saya membahas buku, hahaha.

Saya juga bukan akan membahas Fitri Poptropica, website untuk bermain ini dan itu. Walaupun tampilannya memang selalu menggoda untuk selalu di-klik. Warnanya cantik dan eye-catchy begitu, warna kesayangan saya juga, bagaimana bisa saya mudah menahan diri untuk tidak tergoda bereksplorasi di sana? Hahaha.

Saya memilih untuk membahas sesuatu yang saya temukan di POP-SCI alias Popular Science. Ini merupakan website yang keren!

Popular Science selalu mengupas berita terkini terkait science dan itu tidak melulu terkait informasi maha-ribet yang membuat saya sakit kepala, terutama kalau terkait dengan konsep sejenis fenomena time travelling, Taechyon Particle, atau Thermodynamics yang terkadang membuat saya sakit kepala dan migraine kumat ketika kesulitan mencerna informasinya, hahaha.

Nah, salah satu yang menarik minat saya untuk membacanya adalah salah satu artikel terbaru di pop-sci yang membahas tentang eek. 

What?!

Eek lagi?!

Tenang, hahaha. Kali ini akan membahas informasi yang keren kok...

Artikel yang saya maksud berjudul How Gorilla Poop Could Help Stop Ebola. See? Eek itu bermanfaat, hahaha. Bahkan dapat mencegah penyebaran virus ebola, yang beritanya sangat heboh di seluruh dunia sejak berminggu-minggu yang lalu, terutama bagi mereka yang tinggal di Afrika Barat. Ingat kan dengan berita yang menyatakan bahwa sampai ada proses sterilisasi besar-besaran di sana demi mencegah penyebaran virus ebola? Para jamaah haji Indonesia pun diminta suntik vaksin khusus supaya mencegah penularan karena ketika di Mekkah entah akan bertemu orang-orang dari belahan bumi mana, dan sangat mungkin akan ikut tertular jika tidak melakukan intervensi sejak dini. Semua pihak di sana berusaha keras untuk mengidentifikasi siapa pembawa pertama dari virus ebola ini. Apalagi, virus ini merupakan virus yang mematikan.

Berdasarkan artikel tersebut, Dr. William Karesh yang merupakan Executive Vice President for Health and Policy di EcoHealth Alliance serta seorang dokter hewan yang memusatkan pada penelitian-penelitian selama bertahun-tahun terkait dengan satwa liar (khususnya mempelajari virus ebola pada kera besar, termasuk gorilla), menemukan sebuah metode untuk mendeteksi antibodi terhadap virus ebola dari dalam tinja alias eek. Hingga saat ini, metode untuk mendeteksi virus ebola di alam liar berpusat pada pengumpulan darah atau jaringan-jaringan yang terinfeksi pada kera. 

Kenapa pada kera?

Karena kera merupakan salah satu sumber utama penyebaran virus ebola, meskipun pada penelitian-penelitian awal ditemukan bahwa penyebaran virus ebola pertama kali pada manusia diduga berasal dari kelelawar.

Penelitian dengan menggunakan sampe darah atau dengan mengangkut bangkai-bangkai hewan yang terinfeksi ebola membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga. Jadi, penelitian dengan menggunakan sampel tinja dirasakan jauh lebih mudah karena dianggap dapat membantu para ilmuwan untuk meneliti secara lebih. Selain itu, sampel tinja juga dianggap dapat lebih akurat dalam memprediksi kemungkinan resiko penularan wabah atau virus ebola di masa depan.

Gorilla

Penelitian Dr. Karesh dilakukan terhadap gorilla bukan tanpa alasan. Menurutnya, gorilla sebenarnya lebih rentang terkena virus ebola dibandingkan manusia. Bahkan, angka kematian gorilla yang terkena virus ebola mendekati 95% dan penyebaran virus ebola pada gorilla menjadi penyebab kahancuran populasi gorilla selama 2o tahun terakhir. Dr. Karesh memperkirakan bahwa ada sekitar 25% kera liar di Kongo yang tewas karena virus ebola. Dengan alasan inilah maka Dr. Haresh berharap teknik yang dilakukannya -- dengan meneliti melalui sampel tinja -- akan membantu para ilmuwan lainnya untuk mendeteksi ebola pada populasi kera, sehingga para ilmuwan akan lebih mudah lagi dalam menargetkan populasi mana saja yang rentan terhadap penyebaran virus ebola dan akhirnya mampu membuat vaksin pencegahan ebola yang lebih baik di masa depan.

"Everything is linked to animals" ~ Dr. William Karesh

Begitu, menurut Dr. Karesh. Jadi, apabila kotoran gorilla dapat membuka jalan adalam memahami bagaimana virus ebola menyebar, maka seluruh populasi yang rentan terhadap penularan virus tersebut serta spesies atau lingkungan lain di sekitar mereka akan mendapatkan keuntungan untuk tidak tertular virus ebola lagi.

Tuh kan!

Makanya jangan anggap remeh si eek, hahahaha.

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - My Pop Art Love

Jauh sebelum aku mengenalmu, aku telah sukses menekuni hobiku. Hobi yang mungkin tidak terlalu terkenal ini, membuatku bisa lebih dekat mengenalmu.
Pop Art (Populer Art, seni yang mendobrak batas-batas artian seni yang agung). Seni yang telah mempertemukan kita sekaligus menyatukan cinta kita. Dari simbol-simbol dan gaya visual karya senimu, mampu membuat perasaanku terbang di tengah bunga-bunga yang indah bertebaran.
"Kau menyukai pop art juga?"
Itulah awal dari pertemuan indah kita di sebuah pameran lukisan di Kota Bandung.
            Gayamu yang klasik membuat tanganku mulai menata satu demi satu titik fokus seni. Terbayang dibenakku untuk segera menggoreskan pensil dan mulai menggambar wajahmu dengan senyuman yang kian menghipnotisku.
            Jika seni adalah keindahan, maka kamu pun adalah salah satu seni yang Tuhan ciptakan dengan segala kesempurnaan. Aku mencintaimu dengan segala kekuarangan dan kelebihanmu.
---------------
"Kau menyukai pop art juga?" Aku mendekati seorang perempuan yang terlihat sedang asyik dengan laptopnya di salah satu meja yang menghadap ke arah lukisan Pablo Picasso.
Ia sedang bermain seni di Photoshop C3nya. Membuat pop art dari wajahnya sendiri.
"....." Ia hanya diam lalu mengangguk tanpa sedikit pun menoleh padaku.
"Boleh aku melihatnya?" Sejurus kemudian aku duduk disebelahnya dan memperhatikan gerak lincah tangannya memainkan mouse.
Sekali lagi ia hanya mengangguk.
"Sangat cantik!" Kataku.

            Tidak lama kemudian aku pun mengeluarkan laptopku yang pastinya ingin menunjukan karya-karya pop art-ku juga.
"Lihat! Ini karyaku." Aku mengarahkan laptop pada perempuan itu. Ia sedikit menoleh acuh. Namun tidak sampai sedetik pun ia menoleh lagi bahkan lebih dekat dan lebih lama, sangat lama.
Akhirnya ia memperlihatkan wajahnya padaku, kemudian ia tersenyum ceria sambil mengangkat kedua jempolnya.
            Kumanfaatkan waktu yang singkat itu untuk memandangnya lekat-lekat. Kutemukan pancaran dari matanya yang sangat teduh mampu menenangkan hati.
"Terimakasih. Pop art-mu juga sangat keren! Maukah kamu berbagi ilmu denganku?" Aku sangat tertarik dengan gaya visual yang tak segan ia gunakan untuk karyanya itu. Karyanya seperti mengungkapkan sebuah perasaan yang tak sempat tersampaikan.

            Angin berembus membuat dingin ruangan sekitar. Dan saat itu pula tercium aroma hujan yang sangat deras di luar.
Perempuan itu kini menutup jendela photoshopnya dan membuka jendela baru, microsoft word.
Lalu ia mengetik tanpa aku melihat apa yang ia tulis.
Dengan wajah menunduk, ia memperlihatkan laptopnya kepadaku.

Maaf. Aku tidak bisa bicara :)

            Kini dingin semakin menjalar ke tubuhku. Perempuan cantik ini, yang bagiku sempurna, tidak bisa berbicara! Seketika lidahku kelu, tak bisa mengucapkan satu kata pun. Perempuan itu memperlihatkan lagi sebuah tulisan padaku.

Kamu kaget, ya? Pasti kamu akan membatalkan keinginanmu yang tadi. Berbagi ilmu. Iya kan?

Melihat tulisan itu, aku terperanjat dan langsung merebut laptopnya kemudian menghapus tulisannya.
"Tidak! Kamu bisa membagi ilmumu dengan cara mempraktekan langsung kan!" Aku masih bingung harus bagaimana. Tapi aku tidak ingin ia salah paham. "Walau tidak dengan ucapan, aku bisa mempelajarinya dengan gerakan yang kau instruksikan, karena..." Aku menunduk, "karena aku menyukai seni pop art-mu." sekaligus menyukai dirimu cinta pandangan pertamaku. Cinta datang kapan saja dan pada siapa saja.

Baiklah. Terima kasih sudah mengerti.

"Iya." Aku pun berterimakasih karena kamu mau memberi jalan untukku agar bisa lebih mengenalmu.

            Kini, hampir setiap minggu kami bertemu, hanya sekedar untuk membuat pop art bersama. Sampai aku meminta untuk foto bersama dengan alasan untuk dijadikan bahan pembuatan pop art. Tapi dibalik itu  aku akan mencetak fotonya dan kusimpan di dompetku. Aku benar-benar mencintainya.

Terima kasih untuk hari ini. Ternyata pop art-mu lebih luar biasa!

Kini ia tidak lagi mengetik melainkan menulis pada sebuah buku catatannya.
"Sama-sama. Hehe."
            Mungkin, hari ini adalah hari yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung mengungkapkan semuanya.
"Hmm, aku menyukai pop art-mu, selain itu aku pun menyukaimu. Emm atau bisa dibilang aku mencintaimu saat pertama bertemu." Jantungku berdebar lebih kencang.

            Mungkin jika ia bisa bicara, ia pun pasti akan gugup untuk menjawab. Terlihat dari raut wajahnya yang kian memerah dan salah tingkah.
"Bagaimana, apa kau mau menerima cintaku? Emm aku tidak akan menjadikanmu pacar, emm mungkin menjadikanmu sebagai istriku. Apa itu terlalu cepat?" Entah apa yang telah merasukiku hingga aku tak sempat berhenti berbicara. Namun, ia langsung memandangku, memegang pundakku dan tersenyum malu.
"Bagaimana apa kamu menerimaku? Eh, emm tapi, sampai saat ini aku belum tahu namamu. Hehe." Aku baru menyadari itu.

           Dengan menyobekan kertas dibuku catatannya, ia menulis sesuatu dan kemudian memperlihatkannya padaku. Ia menutup wajahnya dengan kertas itu yang bertuliskan.

Kamu akan mengetahui namaku saat pembuatan buku nikah nanti. Hihi :)
Aku juga mencintaimu yang telah menerima kekuranganku.

            Ah! Jawaban sempurna! Kalau saja sudah halal, aku peluk ia!
Saat itu ia tak mau membuka wajahnya yang tertutup kertas itu. Sangat lucu. Aku berjanji akan setia bersamamu.
-------------
            Sejak saat itu hingga kini, aku membuka galeri pop art bersama isteriku. Ya, kini perempuan itu sudah menjadi isteriku. Nama indah yang tertulis dibuku pernikahan kami itu adalah, Syafira Nadin Arsyafani. Perempuan yang luar biasa yang mampu menciptakan keindahan semesta melalui visual pop art-nya.


picture source

            Cinta dan seni tidak akan terpisahkan justru keduanyalah yang menyatukan. Dengan cinta mampu melengkapi kelebihan, dengan seni pasti menyempurnakan kekurangan dan menjadi berbagai macam keindahan. Itulah dirimu, membuatku mengerti apa artinya cinta dan seni.

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - Tasya Tidak Takut Pop

Fia sedang mencari-cari hal apa saja yang bisa ia temukan di Thailand. Museum, taman hutan, tempat belanja, apa pun yang bisa memuaskan hasratnya untuk bersenang-senang setelah UAS semester ganjil ini selesai bersama teman-temannya.

"Ke taman hutan Phu Faek ya, Dim."

"Iya, boleh."

"Bagus kan? Mmm, nginepnya nih di Hotel Phiboon aja."

"Iyaa."

"Tempat belanjanya ada?"

"Rumah sakit juga ada, Fi. Bawel ih."

"Gue kan nggak tahu daerah sana, Dim. Kasian, eh, apa deh namanya? Lupa."

"Kalasin, ye dodol."

"Iya, maaf deh."

Beberapa saat setelahnya, Fia tidak lagi banyak bicara dan bertanya kepada Dimas tentang rencana liburannya ke negeri gajah putih. Artikel yang ia buka menariknya untuk terus mencari tahu tentang sesuatu. Sesuatu yang pernah terjadi di Kalasin, Thailand.

Pada tahun 2007, terjadi kematian misterius di Sam Chai District, Kalasin, Thailand. Menurut isu yang tersebar, kemungkinan kematian itu disebabkan oleh kekuatan sihir jahat yang pernah menghantui Thailand. Sebuah legenda menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang Raja yang memiliki sihir dan punya kemampuan untuk merasuki tubuh orang lain, hewan, atau makhluk hidup lainnya. Dengan sebuah mantra ajaib, sang Raja bisa langsung menguasai tubuh seseorang dan mengambil kendali atas tubuh itu. Seorang pelayan Raja yang mendengar mantra tersebut ternyata mencoba juga, lalu masuk ke dalam tubuh sang Raja yang sedang kosong. Ia berpura-pura menjadi Raja di depan semua orang. Sampai akhirnya, ketika sang Raja tahu bahwa tubuhnya dirasuki orang lain, ia merasuki tubuh seekor burung dan memberitahu sang Putri tentang kebenarannya. Mengetahui itu, sang Putri meminta si Raja palsu untuk masuk ke tubuh seekor hewan. Ketika si pelayan yang merasuki tubuh sang Raja berhasil masuk ke dalam tubuh seekor hewan, sang Raja yang asli masuk ke dalam tubuhnya dan menghancurkan tubuh si pelayan. Si pelayan yang tak bisa kembali ke tubuhnya yang sudah hancur, kemudian mencari tubuh lain untuk dirasuki. Begitu seterusnya dari satu tubuh ke tubuh yang lain.

Hantu ini disebut Pop di Thailand. Pop akan mencari tubuh untuk berpindah dan memakan bagian dalam tubuh tersebut saat sedang dalam keadaan tidur. Pop sendiri dalam bahasa Thailand ( ปอบ ) artinya roh perempuan kanibalisme yang suka memakan organ dalam tubuh manusia. Setelah kematian misterius yang terjadi di Kalasin, Thailand, pada tahun 2007, 10 pemuda juga ditemukan mati di Champa, Laos, pada tahun 2010.


-----------------------------------------------


"Terus Fia dan teman-temannya tetap liburan ke Thailand, Ma?" Wajah Tasya semakin tegang mendengar kisah yang dibacakan Mamanya.

"Iya. Tapi ada temannya yang nakal dan dimakan sama Pop."

"Hiii... Aku nggak mau jadi anak nakal. Takut sama Pop."

"Nak, Mama kan nggak tahu juga Pop benar-benar nyata atau tidak. Banyak sekali cerita hantu yang bisa dipercaya atau hanya mitos saja. Yang jelas, kamu nggak boleh takut sama apa pun, kecuali diri sendiri."

"Memangnya aku kenapa, Ma?"

"Diri kamu sendiri itu yang paling bahaya dari hantu apa pun, Tasya sayang. Makanya kalau sudah besar nanti, kamu harus bisa belajar mengontrol emosi, napsu, dan apa pun itu yang bisa membahayakan kamu."

Tasya mengangguk, tapi lebih karena sudah mengantuk, bukan karena ia mengerti. Jadi dewasa memang susah, tapi ia pasti harus melewatinya. Mamanya punya banyak pelajaran dan nasehat melalui cerita-cerita seru setiap malam sebelum tidur. Dan malam ini, ia tak takut pada hantu dan apa pun. Ia hanya takut dirinya sendiri... menjadi dewasa.



Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Pop_(ghost)

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - Pop dan Dagi Si Penjual Permen

Sewaktu kecil – mungkin hingga sekarang – aku meyakini Pop adalah beruang paling hebat dan mengasikkan sedunia. Dengan tangannya yang besar dan ajaib ia telah menciptakan berbagai jenis permen dan cokelat yang lezat, sangat lezat. Aku pun tumbuh dengan mencicipi permen dan cokelat ciptaannya itu, dan bermimpi ketika besar nanti akan menjadi seperti dirinya.

Pop ku bertubuh tinggi dan besar. Karena ketelatenan Mom, bulu-bulu Pop berwarna hitam mengkilap, juga dengan pakaiannya selalu bersih dan tersetrika rapi. Begitulah Mom, dia sangat suka tampil gaya dan begitu marah jika mendapati bulu atau pun pakaian kami bernoda. Dia dengan cerewet memerintahkan kami untuk mandi dan mengganti pakaian yang terkena noda itu. Ahh... tapi itu Mom, ada kesempatan lain aku akan menceritakan tentangnya. Kali ini aku hanya ingin bercerita tentang Pop... Pop jarang menunjukkan perasaannya, ia terlihat kalem bahkan mungkin menyeramkan. Kumisnya yang lebat dan mulutnya yang selalu terlihat cemberut – juga badannya yang tinggi dan besar – memang terlihat mengancam. Tapi sebenarnya Pop memiliki hati yang lembut dan sangat penyayang, dia hanya tidak tau atau canggung mengungkapkan dirinya yang sebenarnya secara blak-blakan. Perlahan-lahan jika kau telah mengenalnya kau akan mengerti apa yang kumaksudkan.

Pop sering mendudukkan ku di atas bahunya lalu mengajakku berkeliling hutan – terkadang bersama Mom, tetapi lebih seringnya hanya kami berdua – dia akan bercerita tentang pekerjaannya; bagaimana membuat permen dan cokelat, bagaimana memilih bahan yang benar-benar berkualitas, dan mengapa ia memilih menjadi pembuat permen dan cokelat. Kadang juga dia hanya mengajakku berkunjung ke rumah teman-temannya. Dan di sana dia akan membanggakanku seakan-akan akulah anak yang paling tampan dan paling pintar di dunia ini. Hal itu sebenarnya membuatku benar-benar malu.

Ketika Pop bekerja, aku selalu memperhatikannya, terkadang juga membantunya ini dan itu. Tidak jarang Pop meminta pendapatku saat membuat varian permen atau pun cokelat terbaru, aku selalu memiliki ide-ide cemerlang untuk itu. Tapi... hal yang paling membuatku kecewa adalah aku sama sekali tidak dapat membuat permen maupun cokelat. Sekeras apa pun aku berlatih membuatnya, permen buatanku selalu menjadi terlalu lengket, sehingga ketika dimakan permen itu akan mengelem mulutmu dan kau tidak dapat berbicara beberapa hari. Atau malah terlalu keras dan manis sehingga akan mematahkan gigimu atau membuatnya keropos di sana-sini. Dan cokelatku... adalah malapetaka! Cokelat buatanku akan sehitam ter dan sepahit kayu pohon yang diseduh. Memaksa memakannya hanya akan membuatmu sakit perut.

Pop, bahkan Mom sering menghiburku dan berkata bahwa sebagai anak yang cerdas aku pasti akan menemukan keterampilan yang lain, keterampilan yang akan membuatku sehebat Pop. Tapi aku pun tahu, Pop sebenarnya kecewa, ia berharap aku, anaknya satu-satunya dapat meneruskan usahanya.

Saat usiaku lima tahun, usia yang cukup dewasa untuk seekor beruang, Pop menemukan cara menumbuhkan permen dan cokelat. Dengan tangan ajaibnya, permen dan cokelat yang ia tanam di halaman rumah itu tumbuh dan berbuah. Mulai dari batang, daun, buah, hingga akarnya dapat di makan dan rasanya selezat buatan Pop. Pop pun bertambah berkali-kali lipat kehebatannya di mataku. Dia pun mulai dijuluki penyihir oleh makhluk hutan lainnya. Rahasianya mudah saja, dengan sepenuh cinta, Pop akan menanam permen dan cokelat itu dan menyiramnya setiap dua kali sehari, pagi dan sore. Dengan sepenuh cinta juga ia merawat tanaman-tanamannya itu dan memetik hasilnya. Tapi memang entah mengapa hanya Pop yang dapat melakukannya, mungkin itu memanglah sudah bakatnya atau memang dia adalah seorang penyihir.

Entah dari mana mulanya, hubunganku dengan Pop lama-kelamaan menjadi renggang. Kami mulai jarang berkomunikas. Mungkin ini sepenuhnya salahku, yang merasa tertekan pada kebesaran Pop sehingga memilih menjauh. Tanpa kusadari aku merasa kerdil dihadapannya, dan itu membuatku risih. Aku ingin dengan bangga dan penuh harga diri berdiri di sampingnya sebagai dua beruang yang sama-sama hebat, bukannya beruang hebat dan anaknya. Maka aku pun memilih pergi ke kota manusia.

Pop tidak menyukai pilihanku, dia memang kurang menyukai manusia. Dia sering ditipu oleh manusia, terutama dalam hal penjualan permen dan cokelatnya. Dia juga berapa kali merasa sakit hati ketika manusia menjauhinya karena takut padanya—karena dia berbeda. Sehingga Pop tidak lagi menjual permen dan cokelat kepada mereka, hingga aku membuka toko permen dan cokelat di sana...

Awalnya aku bekerja di sirkus, berputar-putar di atas sepeda beroda satu dengan memainkan lima buah bola berwarna-warni di tanganku. Menyenangkan rasanya ketika membuat manusia itu terpesona dan bertepuk tangan. Apalagi menyaksikan kanak-kanaknya tertawa. Tapi, diam-diam aku merasa tidak puas dengan pekerjaanku itu, tetapi terlalu malu untuk mengakuinya, apalagi ketika mengahadapi kemurkaan Pop saat mengetahui pekerjaanku.
“Apa yang salah dari bekerja di sirkus?!” kataku saat itu.
“Tidak ada! Kecuali bertingkah konyol dan memalukan dengan menyia-nyiakan bakatmu!”
“Aku tidak sepertimu! Aku menyesal kau tidak punya anak lain yang bisa mengikuti jejakmu sehingga kau tidak perlu merecokiku lagi!”
Ketika memuntahkan hal tersebut aku terdiam, Pop apa lagi. Dia lalu berbalik pergi, dan aku tetap diam di tempatku, menyesali perkataanku.

Lama semenjak itu aku dan Pop tidak lagi bertegur sapa. Aku pun tidak pernah pulang. Hanya Mom yang datang menjenguk ku, membawakanku kue-kue buatannya dan beberapa potong permen dan cokelat hasil karya Pop. Aku sangat merindukan Pop, tapi ia, terlalu malu dan gengsi untuk menemuinya. Nyatanya karirku tak lebih sebagai beruang hitam yang menaiki sepeda dan berputar-putar sambil memainkan kelima bolanya, hanya itu. Lama-kelamaan aku pun terancam akan dipecat, manusia-manusia itu sudah bosan pada penampilanku, yang kuakui memang hanya itu-itu saja.

Hingga suatu hari, ketika aku benar-benar telah dipecat dan terduduk lesu di bangku taman, meratapi nasip, seorang gadis kecil menghampiriku. Ia menatapku dengan matanya yang sipit dan sehitam malam, lalu tersenyum cerah dan mengulurkan tangannya kepadaku. Di telapak tangannya ada sebungkus permen, saat kutatap matanya ia mengangguk dan aku pun mengambil permen itu, membuka bungkusnya dan mengulumnya di lidahku. Ada perasaan hangat yang memenuhi hatiku saat itu dan saat akan berterimakasih kepada anak kecil itu, dia tidak ada lagi di sana.

Permen itu rasanya biasa saja, jauh bila dibandingkan buatan Pop. Dan memang, selama tinggal di kota manusia ini, aku tidak pernah menemukan permen apalagi cokelat seenak buatan Pop. Dan ide itu pun tiba-tiba saja terlintas dipikiranku. Mengapa tidak?! Sebuah toko permen di tempat ini! Toko permen yang menjual permen dan cokelat terlezat! Aku hanya perlu merubah rumah ku di sini menjadi toko permen, membeli rak-rak permen, merubah lantai bawah menjadi toko, membeli papan nama, dll. Kurasa tabunganku dari bekerja bersama Pop cukup membiayai itu semua. Hanya meminta Pop menjadi partnerku yang membuatku ketar-ketir. Maukah ia memaafkanku? Bisahkah kami seperti dulu lagi?

Aku pun pulang...

Di rumah aku disambut dengan pelukan dan air mata dari Mom sebentara Pop hanya diam saja memandangku. Mom kemudian menarikku masuk ke dalam rumah dan kami bertiga duduk diam di meja makan. Keheninggan itu terasa sangat janggal dan akhirnya dipecahkan dengan omelan Mom, “Ckckckck... tidak anak, tidak bapak, keduanya sama saja! Gengsian! Lihat kalian berdua!!! Ckckck...”
Gambar di ambil di sini
Menghela napas aku pun mulai berbicara, “Aku... Aku ke sini ingin bertemu denganmu Pop”.
“Hanya dengan Pop mu?!!” Sela Mom.
“Denganmu juga Mom, tentu saja, tapi memang ada yang ingin kubicarakan dengan Pop.” Dengan malu-malu kuangkat pandanganku dan menatap mata Pop, “Aku minta maaf... Aku...”. Pop menatap mataku lalu bangkit dari kursinya dan menepuk bahu kemudian berkata, “Kau sudah makan? Ayo kita makan dulu! Apa masakanmu hari ini Flo?”

Sambil menimkati makanan buatan Mom, aku pun membeberkan rencanaku kepada Pop dan Mom.

Mungkin kau pernah berkunjung ke toko Permen Pop?
Toko permen yang terkenal dengan permen dan cokelatnya yang lezat yang menghangatkan hatimu seperti pelukan keluarga?!
Jika ia, tentunya kau telah bertemu denganku bukan?! Dagi si penjual permen!

Cerita sebelumnya bisa di baca di sini ^^

Pop dalam bahasa Belanda adalah panggilan untuk Ayah.

Jumatulis Season 2 - 01 Pop - P.O.P


Portrait Of Pirates

oke, ini tema jumatulis yang pertama, POP, hualah hualah pake banget.. meski dikasih tau sama mbak ifa a.k.a kak fajri a.k.a wo nia atau juga pernah dikenal dengan kak koekoe temanya pop bebas, yah tentu aja tanpa ada sesuatu yang spesifik, sayah ga ngerti apa yang mau sayah tulis..
terlalu banyak ide, terlalu banyak pilihan yang seketika membuat sayah bingung, dan setelah 3 hari di depan laptop sambil melototin 9gag NSFW , ehh, maksudnya halaman entri blog, sayah akan coba menulis tentang POP yang sayah kenal.

POP yang sayah kenal adalah P.O.P dengan kepanjangan Portrait of Pirates yaitu figurin atau item koleksi khusus di lini anime/manga One Piece, dengan tinggi bervariatif tergantung pada model, tanpa artikulasi (ga bisa gerak) dan detail yang sangat bagus, juga punya aksesoris yang bisa dibongkar pasang.
Pengen koleksi tapi syukur lah, masih kuat iman, cuman sekedar menggemari, belom sampe gila pengen punya.
P.O.P one piece ini kalo sayah punya mah dijadiin pajangan di kotak kaca buat pamer ke sesama penggemar dan benda koleksi yang berharga tentunya, juga buat difoto-foto biasanya..

kalo ditanya uda punya koleksian P.O.P ato belom, seperti uda sayah bilang, sayah belom tergila-gila sama lini P.O.P nya one piece, sekarang baru mentok di model kit kapal One Piece dan chibi figurin..
ehehehhe.. tapi suer, P.O.P kalo mo dikoleksi mah bisa bikin jebol kantong..
P.O.P one piece buanyak banget soalnya, mana sekarang ada 13 series yang beda-beda, neh list seriesnya..

kalo butuh informasi lebih lanjut mah diklik aje ye..

ikz... ngebuat posting ginian bikin ngiler, ngeliat series2 nya T_T
mesti cepet2 diselesaiin neh..

udahan ah, dengan mengucapkan terima kasih dan terima duit, dengan ini sayah akhiri postingan ini sebelum sayah mulai ngubek2 fjb, facebook, amazon, dan web-web lain yang ngejual ginian gegara ngiler.. oh iya, mungkin banyak banget yang ga tau ini apaan, tapi berbahagialah, terkadang lebih baik tidak mengetahui daripada mengetahui kemudian lalu menyesali, kayak tahu mantan udah punya pacar lagi atau pacar selingkuh gitu.. nah gitu..

sampai jumpa di posting jumatulis season 2 yang berikutnya..

salam berantakan..~~






Thursday, September 25, 2014

Jumatulis Season 1 - 14 Gadis Kecil, Feminisme, Dongeng, Peluk, Perempuan - Dunia Nia [Part 1]

Oleh:

image

Gadis Kecil berlari lincah mengelilingi kamar. Pikirannya dipenuhi cerita-cerita yang ada di Negeri Dongeng. 

Dari luar kamar, Gadis Kecil mendengar suara-suara riuh para perempuan. Itu suara Mama dan teman-temannya. Mereka sedang sibuk membahas hal-hal yang tidak dimengerti oleh Gadis Kecil, "Kita harus mendukung gerakan feminisme ini." 

Apa itu feminisme? Gadis Kecil menduga, mungkin itu sejenis permen yang sering Gadis Kecil terima dari teman-teman Mama. 

Ah, sudahlah. Gadis Kecil tidak mau memikirkan itu. 

Saat ini, Gadis Kecil hanya ingin bermain, "Boneka Teddy, sini aku peluk kamu!"

"Hai, Gadis Kecil..." tiba-tiba saja muncul kucing cantik berwarna hitam di dalam kamar Gadis Kecil.

Gadis Kecil menatap kucing cantik itu, "Kamu siapa?"

"Kenalkan, namaku Aurora..." kucing cantik, yang ternyata bernama Aurora itu, menghampiri Gadis Kecil yang masih menatapnya heran.

Kucing Aurora tersenyum melihat Gadis Kecil, "Kamu pasti bingung, ya?"

Gadis Kecil mengangguk, "Kamu masuk dari mana?"

"Rahasia..." bisik Kucing Aurora.

"Rahasia?" Gadis Kecil semakin bingung, "Kenapa rahasia?"

"Karena... Ini memang rahasia..." Kucing Aurora semakin mendekat ke arah Gadis Kecil.

"Kamu mau tahu rahasia lainnya?" tanya Kucing Aurora dan Gadis Kecil langsung mengangguk mengiyakan.

"Sini... Kamu mendekat ke arahku..." Gadis Kecil pun merapatkan telinganya ke dekat Kucing Aurora.

"Kamu lihat Boneka Teddy yang sedang kamu pegang, deh..." bisik Kucing Aurora lagi, "Ssstt... Tapi ini rahasia ya... Boneka Teddy itu bisa berbicara!"

"Boneka Teddy bisa berbicara?!" Gadis Kecil kaget. Mana mungkin Boneka Teddy bisa berbicara? 

Selama ini, sejak Boneka Teddy menjadi boneka kesayangan Gadis Kecil, tidak pernah sekalipun Boneka Teddy Berbicara kepadanya.

Gadis kecil masih tidak percaya, "Kucing Aurora, kamu pasti sedang berbohong..."

"Aku tidak berbohong, Gadis Kecil..." sanggah Kucing Aurora, "Hai, Boneka Teddy. Ayo, kamu bicara juga. Dari tadi kamu diam saja...."

"Hehehe... Halo, Gadis Kecil..." Boneka Teddy ikut berbicara juga!

Gadis melompat senang, "Kamu benar-benar bisa berbicara, Boneka Teddy?! Ih, kenapa kamu tidak kasih tahu aku dari dulu? Kita kan sudah lama selalu bersama-sama..."

"Iya, iya, maaf... Aku menunggu perintah dari Ratu Siland dulu..." ujar Boneka Teddy.

"Ratu Siland?!" Gadis Kecil kembali bingung, "Siapa dia?"

"Itu nama Ratu di Negeri Dongeng, Gadis Kecil. Ratuku dan Kucing Aurora."

Gadis Kecil melihat ke arah Kucing Aurora dan Boneka Teddy secara bergantian, "Kalian berdua berasal dari negeri yang sama?"

Kucing Aurora dan Boneka Teddy tertawa melihat reaksi Gadis Kecil. Lucu sekali wajahnya saat sedang kebingungan seperti sekarang ini.

"Ratu Siland mengundang kamu untuk ke Negeri Dongeng bersama kami." ucap Kucing Aurora.

Boneka Teddy menambahkan, "Karena Ratu Siland sudah mengundangmu, makanya sekarang aku diperbolehkan berbicara dengan kamu, Gadis Kecil. Aku tidak boleh bebas berbicara sembarangan. Aku hanya boleh berbicara ketika kamu sudah diundang ke Negeri Dongeng, supaya aku bisa ikut menemanimu ke sana."

"Jadi, aku sekarang bisa ke Negeri Dongeng?!" seru Gadis Kecil.

"Tentu saja!" balas Kucing Aurora dan Boneka Teddy bersamaan.

"Negeri Dongeng kalian seperti apa? Apa sama dengan yang sering aku baca di dalam buku cerita? Ratu Siland baik atau jahat? Di sana ada monster? Atau ada raksasa? Apa ada banyak mainan yang aku suka? Aku boleh bawa makanan untuk aku bagi ke teman-temanku?"

Gadis Kecil terus saja mengajukan banyak pertanyaan kepada Kucing Aurora dan Boneka Teddy, membuat mereka berdua tertawa sampai terpingkal-pingkal.

"Ayo! Kita berangkat sekarang, supaya kamu tidak penasaran lagi." ajak Kucing Aurora.

"Horeeee!!" sorak Gadis Kecil dengan girang, "Kita ke sana naik apa?"

"Aku tunjukkan rahasia lain kepadamu, ayo ikuti aku!" Gadis Kecil pun mengikuti ke mana Kucing Aurora melangkah. Oh, tentu saja Boneka Teddy ikut serta.

Kucing Aurora membuka lemari pakaian yang ada di dalam kamar Gadis Kecil, "Lihatlah bintik hitam kecil di dalam sana, itu jalan rahasia kita menuju Negeri Dongeng..."

"Tapi, itu bintik yang kecil sekali. Bagaimana caranya kita bisa muat saat berjalan di sana?" tanya Gadis Kecil kemudian.

"Tenang saja...." kali ini Boneka Teddy yang berkata, "Aku perlihatkan rahasia lain kepadamu, ya..."

Boneka Teddy memencet titik hitam kecil tersebut.

Whuuzz!!!

Tiba-tiba saja titik hitam tadi mengeluarkan cahaya putih terang. Gadis Kecil sampai menutup matanya karena silau sekali.

Begitu Gadis Kecil membuka matanya, pemandangan di depannya sudah berubah!

"Selamat Datang di Negeri Dongeng, Gadis Kecil..." ujar Kucing Aurora dan Boneka Teddy.

"Ayo, kita menemui Ratu Siland!" Kucing Aurora dan Boneka Teddy menggandeng tangan kanan dan kiri Gadis Kecil. Mereka melayang menyusuri sebuah kebun bunga yang dipenuhi aneka warna.

Di antara mereka, juga ada peri-peri kecil berterbangan dan menyapa Gadis Kecil dengan riang. Mereka juga menghadiahi Gadis Kecil dengan mahkota bunga, "Terima kasih, mahkotanya cantik sekali..."

Mereka juga melewati sebuah sungai cokelat yang dipenuhi oleh para kurcaci. Di sana juga ada beragam pohon permen, bunga es krim, dan rerumputan yang penuh dengan kue-kue kering. Gadis Kecil menjadi lapar, "Apa aku boleh memakan itu semua?"

"Tentu!" jawab Kucing Aurora.

Kemudian, mereka berhenti melayang dan turun untuk menyapa para kurcaci. Gadis Kecil dihadiahi sekeranjang penuh berisi cokelat, kue kering, permen, dan es krim.

"Whoaaa!!!" lonjak Gadis Kecil dengan penuh semangat.

"Kamu bisa mampir lagi, nanti, Gadis Kecil. Sekarang, temui dulu Ratu Siland yang sudah menunggumu..." ujar salah satu kurcaci.

"Oh, iya! Terima kasih sudah mengingatkanku. Hampir saja aku lupa..." Gadis Kecil segera mengajak Kucing Aurora dan Boneka Teddy untuk berangkat lagi.

Gadis Kecil menjadi penasaran, Ratu Siland seperti apa ya bentuknya? Apa Ratu Siland juga tinggal di istana seperti para Ratu di Negeri Dongeng lainnya?