Wednesday, September 24, 2014

Jumatulis Season 1 - 13 Senja, Ikan, Diversifikasi, Rumput laut, Terumbu - Untitle

Senja sudah menyapa, sore ini sedikit berbeda, menikmatinya sendiri di bibir pantai sambil melihat dari kejauhan nelayan menjaring ikan. Gelombang cahaya mentari yang mendiversifikasi imajinasiku saat ini, bayangan tentang keindahan di bawah laut dengan rumput laut yang gelap serta terumbu nan mempesona.
Kalau saja aku bisa, ingin aku gunakan semua waktuku untuk menyelam. Tapi aku tak bisa karena takdirku di sini.
Aku mengenal segala macam hal yang indah dari seorang Gadis yang senantiasa mengagumi keindahan. Dari sosok termanis yang memiliki senyum mempesona dengan rambut terurai, aku mempelajari banyak hal.
Termasuk kala dia menggambarkan pemandangan di dalam laut. Aku ingin namun tak bisa. Aku bukan siapa-siapa. Walaupun aku tinggal di sini sejak lama.
Gadis itu, sore ini, mengajak seorang lelaki. Berkeliling sekitar pantai. Kemudian dia memperkenalkan kami.

“Ini mercusuar yang dibangun sejak masa penjajahan Belanda. Usianya sudah sangat tua.”
*Binatang Jalang*

**********
Proyek ini diikutsertakan dalam proyek #Jumatulis

Jumatulis Season 1- 13 Senja, Ikan, Diversifikasi, Terumbu, Rumput Laut - Mountain Rhapsody [Prolog]

Oleh:


Sumber: Dusk, Tree, and the Bavarian Sea


Sore hari dan aku memilih duduk di dermaga ini untuk menikmati senja. Aku menatap langit, suasana di sekitarku mulai menggelap. Dari kejauhan aku melihat beberapa remaja baru saja kembali ke darat. Dari pakaian mereka, aku menduga bahwa mereka baru saja snorkling. Iri sekali. Aku sudah lama tidak pernah lagi snorkling maupun diving dan menikmati keindahan bawah laut yang menakjubkan. Ikan berwarna-warni dan terumbu karang yang cantik; pleasures I longed the most. Pikiranku melayang ke alasan-alasan kenapa aku bisa berada di sini sekarang. Aku lelah, sangat lelah, dan sudah tidak lagi memiliki cadangan tenaga yang cukup dalam menyelesaikan urusan di kantor. Aku sudah terlanjur muak menghadapi atasanku yang terlalu banyak menuntut tetapi cenderung tidak realistis, sementara bawahan-bawahanku juga begitu bodohnya dan tidak dapat diandalkan. Dengan kondisi perusahaan yang sedang mengalami kemerosotan pendapatan seperti yang sedang dihadapi kantorku, sudah seharusnya sebuah usaha diversifikasi ekonomi dilakukan. Setidaknya, itu yang aku pahami. Berbagai analisa yang dibutuhkan sudah aku lakukan; analisa biaya masuk, analisa peluang, dan analisa kemenarikan pasar sudah selesai dilakukan bersama tim ahli perusahaan. Penentuan industri apa saja yang bisa kami masuki dan bagaimana cara memasuki industri tersebut, strategi untuk mempercepat pencapaian kinerja dalam industri, penentuan potensi untuk meningkatkan nilai pasar, bahkan membuat kebijakan terkait investasi dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan juga sudah kami lakukan. Entahlah... Aku tidak habis pikir, kenapa justru orang-orang tidak kompeten seperti mereka bisa diterima untuk bekerja di perusahaan selevel kantorku. Ah, sudahlah... Aku di sini untuk berlibur. Bukan untuk memikirkan mereka. Aku memilih kembali menghirup es rumput laut, nikmat sekali.

"Kruk... kruk..." perutku berbunyi. Rupanya memikirkan urusan kantor membangkitkan selera makanku. Aku memanggil salah satu pelayan restoran yang berada di dekat dermaga tempatku duduk sejak tadi. Bola mataku melebar menatap buku menu. Susah payah aku menahan air liur supaya tidak tumpah begitu melihat gambar-gambar menu masakan yang ada di sana. Pilihanku jelas, menyantap menu aneka seafood sepertinya paling nikmat untuk saat ini.

"Saya pesan cumi asam manis, udang kerapu bakar, dan kepiting saus tiram. Untuk minumannya, saya pesan es rumput laut lagi satu porsi ya. Ditambah dengan kelapa muda, yang masih berbentuk bulat. Kalau ada jeruk mandarin, tolong tambahkan perasan air jeruk mandarin ke dalam kelapa muda. Kalau tidak ada jeruk mandarin, pakai jeruk nipis juga tidak apa. Untuk es-nya, tolong diletakkan di dalam gelas terpisah." pesanku kepada pelayan tadi. Aku lihat dia masih mencatat pesananku. Lambat juga. Jika saja dia bawahanku, pasti sudah aku marahi sejak tadi.

"Ada lagi yang ingin dipesan, Mbak?" tanyanya kemudian.

"Sudah. Saya pesan itu saja dulu." jawabku, "Oh, iya. Nanti bisa dibawa ke dermaga semua, kan, pesanannya?" Aku melihat dermaga ini disusun dengan gaya yang cukup unik. Beberapa bagian dibentuk supaya dapat ditempati secara privat oleh 1-2 orang saja.

"Bisa, nanti saya antarkan sendiri. Pesanannya untuk berapa orang, Mbak?"

Aku melirik pelayan tadi dengan kesal. 
Memangnya dia tidak melihat aku sedang sendiri?

"Maaf, maksud saya, supaya saya bisa mempersiapkan yang lain, meja atau kursi kecil untuk dibawa ke sini jika Mbak membutuhkan..." katanya dengan wajah yang menunjukkan perasaan tidak enak terhadapku.

"Untuk satu orang. Tidak usah membawa yang lain. Saya ingin menikmati suasana yang lebih santai, seperti sekarang ini. Segera proses pesanan saya saja, karena saya sudah sangat lapar. Tolong dahulukan pesanan minuman saya. Saya tambah pesanan air mineral yang 1,5 liter. Saat ini saya merasa haus."

Setelah berkata dengan lebih tegas seperti itu, baru kemudian pelayan tadi mengeksekusi pesananku. Syukurlah. Semoga tidak lama.


***

Aku memperhatikan dia. Sejak tadi aku melihat raut wajahnya menampakkan kekesalan. Sepertinya, dia sedang butuh dihibur. Aku segera membayangkan apa saja yang bisa aku lakukan untuk menemaninya. Aku sibuk memikirkan berbagai cara yang dapat aku berikan untuknya, dan membantunya supaya menjadi lebih menikmati hidup.

"Aha! Sedikit mantra pasti berguna..." pikirku dalam hati. Dengan cepat aku bertelepati untuk menghubungi Ratuku, mengabarkan tentang kemajuan tugasku kali ini. Sudah sejak seminggu yang lalu, bangsa kami memonitor perkembangan di negeri yang ditempati oleh makhluk bernama manusia. Kehidupan mereka penuh dengan masalah. Pantas saja jika mereka mudah stress. Kami menyeleksi beberapa kandidat yang layak dibawa ke negeri kami untuk diberikan kesegaran baru dan dibuat menjadi lebih bahagia. Diputuskan, tugasku kali ini, adalah membantu wanita itu.

Perlahan aku bergerak ke arahnya, saat dia sedang menunggu pesanannya datang. Sepertinya kekesalannya semakin bertambah. Kerut di dahinya semakin mendalam, matanya menyipit marah, dan hembusan napasnya sungguh berat. "Kasihan..." batinku. Bersabarlah, sebentar lagi aku akan membantumu untuk merasa lebih bahagia.

Aku semakin bergerak ke arahnya, dan membisikkan sebuah mantra indah untuknya.

Now I lay me down to rest.
I pray that all the world be blessed
Lady Moon and Sister Star Watch over me from afar.
Mother Earth is always there
And keeps me safe within her care
The Lord of Dreams will dance and sing
And happy dreams will to me bring
And when I wake to greet the day
Brother Sun will light my way.



"Sekarang, tertidurlah. Aku akan menjagamu..." aku berbisik lagi kepadanya, mengajaknya dia untuk beristirahat sejenak, "Bersabarlah sebentar. Nikmati apa yang akan kau alami malam ini. Nanti, saat kau sudah lebih siap. Tidak, tetapi besok, saat kau menghadapi esok hari, kau akan memulai sebuah perjalanan indah yang tidak akan pernah kau lupakan."


***



"Mbak... Mbak... Bangun, Mbak... Ini pesanan-pesanan Mbak sudah datang."


Aku mendengar suara-suara yang memanggilku. Mataku berat sekali, aku sulit untuk membuka mata. Rasanya, aku terlalu lelah untuk bangun. Sebentar, sebentar lagi. Aku masih belum ingin bangun.

To-night eternity alone is near:
         The sea, the sunset, and the darkening blue;
Within their shelter is no space for fear,
         Only the wonder that such things are true.

The thought of you is like the dusk at sea --
         Space and wide freedom and old shores left far,
The shelter of a lone immensity
         Sealed by the sunset and the evening star.


Suara itu...

Itu suara orang membacakan puisi Dusk at The Sea karya Thomas S. Jones Jr. Puisi yang pas sekali untuk dibaca dan diperdengarkan dalam suasana seperti sekarang. Senja.

"Mbak..."

Sebentar... Eh, senja?!

Aku membuka mata, kaget. Di sekitarku sudah gelap. Aku melihat pergelangan tangan kiriku, jam tangan Swatch yang aku pakai menunjukkan pukul 19.30 WIB. Berapa lama aku tertidur di dermaga ini?

"Maaf, Mbak, saya terpaksa membangunkan Mbak." pelayan tadi menunjukkan perilaku tidak enak lagi, mungkin karena masih ada efek karena tadi sempat aku kasari.

"Tidak apa, saya justru berterima kasih karena sudah dibangunkan. Seharusnya dari tadi..." ujarku.

"Iya, maaf. Tadi saya takut untuk membangunkan, Mbak. Tapi, karena sekarang sudah lebih dari satu jam Mbak tertidur, makanya saya nekat membangunkan. Maaf, Mbak, maaf."

Duh, aku jadi merasa tidak enak kepada pelayan ini. Aku lihat dia masih muda, mungkin baru saja lulus SMA. Jangan-jangan dia habis dimarahi oleh atasannya. Dari pintu restoran, aku melihat seseorang, mungkin supervisor pelayan ini jika dilihat pakaiannya, menyilangkan tangan di dada sambil menatap terus ke arah kami. Tidak, lebih tepatnya, orang itu melihat tajam ke arah pelayan ini. Aku coba untuk tersenyum, berharap dia merasa lebih tenang, "Tidak apa. Saya yang justru berterima kasih karena sudah dibangunkan."

Pelayan muda ini terus saja menunduk, "Saya sudah membuat kamu dimarahi, ya?"

"Iya," jawabnya pelan dan semakin terus menundukkan kepala.

Duh, aku semakin tidak enak dan merasa bersalah. Aku tertidur jelas bukan kesalahan dia.

"Begini saja. Saya yang akan bicara dengan atasan kamu terkait insiden ini. Terus terang, jika kamu dimarahi karena saya tertidur, itu bagi saya aneh. Kamu, tolong saya untuk membungkus pesanan saya tadi. Saya bawa pulang saja, tidak jadi saya makan di tempat."

"Iya..." dia masih menjawab dengan suara pelan sekali, dan segera membawa pesanan-pesananku untuk dibungkus.

Aku menghela napas saat melihat punggung pelayan tadi bergerak menjauh, ke dalam restoran. Kemudian aku merapikan barang-barang bawaan dan berjalan ke arah supervisor restoran untuk melakukan klarifikasi.

Aku merasa semakin letih dan ingin segera mengendarai mobilku, pulang ke vila keluarga yang terletak di kaki gunung di dekat sini. Sejak terbangun dari tidur tadi, aku dipenuhi oleh perasaan samar entah apa. Seolah akan segera terjadi sebuah peristiwa penting kepadaku. Bukan perasaan samar yang menimbulkan perasaan tidak enak, bukan. Aku merasakan ada semangat baru, ada gairah baru yang muncul.

Entahlah...



***

Mountain Rhapsody Serial
Part 1
Part 2 - End



Catatan Khusus
Cerita diadaptasi berdasarkan interpretasi bebas saya saat mendengarkan Mountain Rhapsody yang merupakan karya dari Kevin Costley.


Detail
Mountain Rhapsody by Kevin Costley. For piano. Sheet Music. FJH Written For You Piano Solos. Early Intermediate. Single sheet. Published by The FJH Music Company Inc (FJ.W9272).

Tuesday, September 23, 2014

Jumatulis Season 1 - 12 Panen, Lumpur, Burung, Kemarau, Keringat - Untitle

Kali ini aku sudah tak lagi berpikir tentang rasa gengsi atau malu. Aku benar-benar kehausan akibat Kemarau sehingga panas terik membuatku selalu kehausan, Keringatku mengucur deras membuat tubuhku kehilangan cairan. Bahkan air keran yang tersedia di tempat wudhu masjid tidak luput dari incaranku. Kalau saja aku bisa mendapatkan pekerjaan, sehingga tak lagi menginap di mushola atau emperan toko.
Aku sering merasa takut pada orang-orang yang berlalu-lalang saat tidur di emperan toko. Wajah mereka seperti tak berbentuk, hanya menyiratkan nafsu yang tak ada habisnya. Aku butuh pekerjaan. Kalau aku memiliki uang untuk ongkos pulang ke desa, mungkin saat ini aku sedang sibuk membantu warga yang sedang Panen. Padi-padi pasti sudah menguning. 
Malam ini tidurku sedikit resah, apalagi suara deru motor yang tidak selesai karena jalanan yang berada tepata di sebrang tempatku tertidur ini dijadikan sirkuit untuk kebut-kebutan. Jantungku terasa copot kalau mendengar suara keras seperti itu.
Ingat dulu, sebelum rumah Ibu terendam Lumpur, aku masih bisa bermain-main dengan temanku. Bahkan warung si Mbah termasuk ramai oleh pembeli yang makan di warung nasi. Karena dulu Ibu sudah mengabdi pada majikannya, sehingga aku sering ikut bersama si Mbah berjualan.
Cicit Burung dahulu masih terdengar ceria, tapi semenjak aku beranjak remaja, ketika kakiku menginjak Ibu Kota ini, tak lagi bisa aku dengar suara binatang bersayap yang sering membuat sarang di atas pohon itu. Aku rindu pada nyanyian Burung, karena itu yang mengingatkanku pada rumah, pada Ibu dan si Mbah yang sudah tiada. Jadi aku benar-benar sendiri di dunia ini.
*******************
Tulisan ini diikutsertakan dalam proyek #Jumatulis 
By : Binatang Jalang

Monday, September 22, 2014

Jumatulis Season 1 - 11 Bosan, Tawa, Tindas, Tekanan, Bunuh - Untitle

Tepatnya rasa Bosan itu hadir saat aku berteman dengan tumpukan baju yang harus aku selesaikan segera, mencoba terTawa meski rasanya energiku hanya bersisa untuk nafas saja. Tak ada yang diTindas di sini, hanya saja Tekanan bekerja menjadi pembantu rumah tangga memang begini. Kalau tidak kuat, bisa saja memBunuh semangatku untuk mengerjakan semuanya.
Ibuku dulu mengabdi pada keluarga ini dari usianya 12 tahun. Kini Ibu sudah tiada, warisan darinya adalah dengan menjadi seseorang yang mengabdi dengan baik. Melayani tanpa mengeluh dan bekerja dengan hati yang senang dan riang.
Tapi seandainya saja Ibu tahu, kalau istri dari anak mendiang Bapak Sastroadmodjo ini sangat-sangat tidak bersahabat. Bayangkan saja, pakaian yang baru terjatuh di lantai yang baru aku sapu. Lantas dengan ringannya dia masukkan ke dalam keranjang cuci. Katanya dia alergi dengan debu.
Belum lagi, setiap hari pekerjaanku ini rasanya tidak ada habisnya. Baru selesai mencuci, dia memintaku langsung menyetrika. Setelah selesai aku diminta untuk mengelap semua bagian di rumah yang super besar ini. Kemudian memasak sampai akhirnya menyuapi dan memandikan anaknya.
Jatah istirahatku hanya malam, jam 12 malam hingga jam 3 dini hari. Larut malam aku harus tetap terjaga. Untuk menunggu majikanku, Pak Broto sampai di rumah. Sementara Pak Broto sendiri orang yang sama dengan Pak Sastro, beliau paham betul dengan keletihanku. Sering melindungiku dari omelan istrinya. Tapi kebaikannya terselubung, hanya karena aku pernah tidak sengaja memergokinya berselingkuh dengan sekretarisnya.
Hidupku penuh dengan tekanan yang membuatku merasa penat yang luar biasa. Belum lagi anak mereka yang tidak diajari sopan dan santun pada orang lain. Sering aku dipukulnya atau menangis jika meminta sesuatu.
Jadi, jangan salahkan aku jika akhirnya aku kabur pagi buta ini. Meninggalkan pesan Ibu untuk mengabdi pada mereka. Aku hanya membawa baju-bajuku. Tanpa harta apapun, karena sudah tiga bulan majikanku beralasan lupa membayar gajiku. Katanya aku sudah diperbolehkan menumpang tinggal dan makan harusnya sudah cukup.
Padahal untuk membeli pembalut untuk keperluan bulananku pun, aku meminta pada temanku. Ini kehidupan mengabdi yang membuatku bisa-bisa kehilangan kewarasan.
Maafkan aku Ibu. Tak lagi dapat aku mengabdi pada mereka. Dan malam ini aku menginap di mushola, tak tahu ingin kemana lagi.
*Binatang Jalang*
*************
Tulisan ini diikutsertakan dalam proyek #Jumatulis

Jumatulis Season 1 - 11 Bosan, Tindas, Tekanan, Bunuh, Tertawa - Lily of the Valley

Oleh:

Aku tertawa, getir. Batinku merasa sangat bosan. Aku tersiksa, perasaan tersiksa yang membuatku seperti ingin bunuh diri. Bukan berarti aku benar-benar ingin mati. Bukan. Tidak pernah ada satupun jenis penindasan yang selama ini menghantamku, yang bisa sampai membuatku ingin mati. Dan tidak pernah ada satu kali pun tekanan hidup yang menderaku, yang juga sampai membuatku ingin enyah dari muka bumi ini. Tidak pernah ada. Apalagi, kali ini, hanya sekadar masalah hati; sebuah masalah yang selama ini selalu aku anggap remeh, perkara sepele, worthless.

Forget me, Forget me...

Kacaunya, kali ini terasa begitu nyata. Sakitnya, benar-benar sakit.

Aku, tersiksa.

***


Namaku Lily. Kisahku serupa dengan kisah Lily of the Valley. Bunga lili yang tumbuh subur di sekitar lembah; Convallaria majalis, menjadi simbol saat Paskah dan prosesi pernikahan. Jangan samakan dengan Easter Lily. Bentuk keduanya serupa, tapi tak sama.

Lily of the valley bisa sangat beracun, sama sepertiku. Setelah memancing orang untuk menghampiri -- dengan bermodalkan keindahan ragawi yang dimiliki -- kami, kaum Lily of the Valley, kemudian membuat orang tersebut merasakan kesakitan, bahkan kematian. Di sisi lain, kami juga menjadi obat-obatan mujarab, yang dapat membantu orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang lebih baik. Tidak lagi merasakan kesakitan.

Aku teringat dengan kisah Virgin's Tears, air mata perawan. Air mata dari tangisan perawan Maria pada saat Yesus disalib. Ah, sebenarnya ada banyak lagi mitos terkait Lily of the Valley. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa bunga ini berasal dari air mata Hawa ketika dia dan Adam diusir dari Taman Eden -- taman surgawi -- saat mereka berdua memakan buah khuldi, buah terlarang.

"Ada lagi, Lily. Ada legenda lainnya yang menyatakan bahwa bunga lili muncul setelah ada pertempuran darah antara Saint Leonard, seorang pertapa suci yang berasal dari Noblac dan juga teman dekat Raja Clovis, dengan naga. Pada akhirnya, dia berhasil mengusir naga tersebut pergi. Saint Leonard ini seorang pejuang yang pemberani dan tidak kenal takut. Hidupnya hanya diisi dengan berkomunikasi dengan Tuhan, inilah yang melandasi kenapa Saint Leonard hidup di dalam hutan dan bertemu dengan naga penggoda iman. Tujuan Saint Leonard tinggal di hutan hanya satu; menghindari godaan duniawi. Tapi, naga tersebut menuntut Saint Leonard untuk meninggalkan hutan. Dia membakar gubuk yang ditempati oleh Saint Leonard menggunakan api yang muncul dari napasnya." tambahmu ketika itu.

Iya. Aku tahu. Dan sejak itu, setiap tahunnya, ketika bunga-bunga lili bermekaran di setiap lembah yang terpercik darah Saint Leonard dan menyebarkan mewangian surgawi, kisah tentang Saint Leonard akan selalu berulang. Mengingatkan kita bahwa keindahan duniawi yang terpancar dari bunga lili dan dapat kita nikmati setiap saat ini berasal dari pengorbanan seorang santo. Hutan Saint Leonard masih ada sampai saat ini. Sementara itu... Bekas percikan darah naga, konon ditumbuhi gulma beracun. Aku yakin, racun yang identik dengan Lily of the Valley sebenarnya bukan berasal dari tubuh si bunga perawan, melainkan dari gulma-gulma peninggalan dari darah naga penggoda tadi.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai kisah di balik bunga Lily of the Valley?" tanyamu kemudian.

Jika didasarkan pada kisah perawan Maria, Adam dan Hawa, serta Saint Leonard, maka aku tidak heran jika bunga Lily of the Valley menjadi simbol keagungan, penuh aura kudus, dan menjadi simbol pada acara-acara sakral.

Shoshannat-ha-amaqim...

"Karena... Lily of the Valley merupakan simbol kerendahan hati, agamis. Kemunculannya menjadi simbol kekuatan, simbol semangat untuk membayangkan hadirnya sebuah dunia yang lebih baik. Bahkan, bagi umat Kristiani, Lily of the Valley menjadi tanda kedatangan Kristus yang kedua. Membayangkan ini membuatku merasa tenang. Paling tidak, di balik keburukan akan selalu ada kebaikan. Nyanyiannya, kidung yang disampaikan oleh Lily of the Valley, menyiratkan suka cita."


***

Aku memberikan jawabanku secara asal, itu kalau kau ingin tahu yang sebenarnya. Dan kini, membayangkan itu semua, membuatku terbahak. Entah siapa yang sebenarnya polos, kau atau aku.

"Lily!" Aku mendongak dan melihatmu di sana, berlari tergesa-gesa menghampiriku.

Oh, bukan. Ini, aku, masih membayangkan dirimu di saat yang lainnya lagi. Ketika itu kau melambaikan tanganmu dengan riang, aku heran. Ada apakah? Kau nampak semangat sekali.

"Aku tahu alasan kenapa kamu bisa mengagumi Lily of the Valley!" dengan cepat kau duduk di sebelahku, membuka halaman buku tempat kau menemukan kisah tentang bunga lili ini.

"Lily of the Valley signifies the return of happiness," gumammu, "Pantas saja jika aku sedang bersama kamu, rasanya kebahagiaanku kembali menjadi utuh."

"Hahaha, kamu bisa saja." Mau tidak mau aku tertawa lebar mendengarkan ucapanmu itu. Gombal sekali, aku tidak percaya bahwa aku bisa mencintai laki-laki penuh gombal sepertimu. Sepertinya ada yang korslet di otakku saat aku menerima ajakan untuk menjadi kekasihmu.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai kisah di balik bunga Lily of the Valley?" tanyamu kemudian.

Shoshannat-ha-amaqim...

Aku memikirkan beragam alasan. Apapun itu. Aku mencoba mengingat lagi tulisan-tulisan terkait Lily of the Valley yang pernah aku baca, mencoba merangkainya menjadi alasan sempurna untuk memberikan kesan terbaik kepada kekasihku ini.

Tapi, apa?

"Hmm..." aku tersenyum, berharap senyumanku dapat memberikan banyak jeda sebelum aku menyampaikan jawaban yang tepat.

Dia membalasku, "Hmm... Hayo, apa?"

"Kamu pernah melihat bagaimana bunga Lily of the Valley tumbuh?" tanyaku, mengalihkan pertanyaannya dan memberikan lebih banyak lagi jeda untuk aku berpikir.

"Belum," jawabmu singkat. Sial.

"Lily of the Valley itu kuat. Bunganya kecil, serupa dengan kecilnya bunga melati. Tapi, dia bisa tumbuh di mana saja. Di lembah, ladang, kebun, bahkan di antara dedurian sekali pun. Ada kesan kemandirian, keibuan, sekaligus kelembutan. Yaa, seperti gambaran yang diharapkan ada pada wanita modern."

Lagi-lagi, aku menjawab secara asal.
Apa lagi?
Apa lagi?

Dan aku teringat sesuatu.

"Kamu tahu tentang sebuah mitologi Jerman, tentang seorang Dewi perawan yang menjadi simbol musim semi; Dewi Ostara? Ini simbol adanya kehidupan ala Paganisme di Jerman pada masa lampau juga sih..."

Aku melihatmu menggeleng, dalam hati aku tersenyum menang. 

"Konon, bagi para penyembah berhala saat itu, ketika bunga Lily of the Valley ini mekar, berarti menjadi tanda dibukanya pesta Ostara. Wewangian harum dan warnanya yang putih bersih itu mengingatkan tentang kerendahan hati dan kemurnian jiwa Dewi Ostara."

Aku melihatmu menatapku lebih dalam, dan aku semakin tersenyum menang. Bagiku, kau sudah masuk semakin dalam ke dalam perangkap untuk terikat kepadaku.

"Ada lagi," lanjutku, dan kau duduk semakin merapat di sampingku.

"Kamu ingat nama latin dari Lily of the Valley; Convallaria majalis. Nama majalis ini merujuk kepada belonging to May, yang secara astrologis berada di dalam kelompok Merkurius. Jadi, rasi bintang dari Lily of the Valley adalah Gemini, sama seperti aku hahaha."


***

Asal kau tahu, saat itu, ada yang aku sembunyikan darimu.

Memang benar, bunga Lily of the Valley identik dengan belonging to May. Ini juga terkait dengan bagaimana bunga Lily of the Valley memiliki hubungan dengan Maia -- the oldest of the Seven Sisters dalam mitologi Yunani Kuno. Lambang bagi pertumbuhan dan kesuburan. Dia dan Zeus merupakan orang tua dari Hermes (Merkurius). 

Nama bulan Mei yang kita kenal hingga saat ini adalah warisan yang berasal dari nama Maia. Tanggal 1 dan 15 Mei diperingati sebagai hari suci Maia, the Queen of May. Dahulu, di dalam ritual Katolik, hanya perempuan yang diperbolehkan untuk menyembah Maia. Bahkan, di masa Romawi Kuno, bulan Mei dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk melakukan ritual keagamaan. Katanya, bisa mendatangkan keberuntungan, termasuk dalam pernikahan. Inilah yang membuat bunga Lily of the Valley masih menjadi flowers bouquet yang paling diminati bagi para pengantin wanita. Dan ini pula yang aku gunakan untuk menjeratmu agar mau menikahiku dengan berlandaskan pada romantisme kisah Lily of the Valley ini.

Satu hal yang aku tutupi darimu.

Maia, the Goddess of the Lily of the Walley, juga merupakan leluhur bagi ilmu tenung. Rasi bintang Gemini merupakan simbol ramalan dan upacara pemanggilan arwah leluhur. Masa-masa di mana rasi bintang ini muncul, merupakan masa yang katanya paling tepat untuk menebarkan ilmu hitam.

Dan inilah yang aku lakukan sekarang.

Aku, mengutukmu.

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
The curse will always haunting your family
As a punishment for all the hardships you have put me through

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall pay for what has been done
As a punishment for all the hardships they have put me through

With the power from the sky
With the power from the earth
With the power from the sun

I use my power
I use my will for all their trouble
For now on they shall receive struggle

This black curse
This black power
I curse you
I curse your family

Forever
For the hundred years ahead


Forget me not...
Tidak. Kau tidak boleh melupakan aku.

Kau sudah mencampakkan aku, dan keluargamu sudah menghinaku sedemikian besar. Aku terperangkap di dalam imajinasi cinta yang sudah aku persiapkan untukmu, dulu.

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Bring them the suffering by the death of the loves one 

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Rather than death, I wish upon suffering unto

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through
  
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Taking away everything he loves most will certainly do
Taking away everything they love most will certainly do

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through

An eternal life of suffering and depression he will see
 An eternal life of suffering and depression they will see

This is my will
So mote it be
 

Forget me not...

Sunday, September 21, 2014

Jumatulis Season 1 - 10 Gunung, kipas, buku, jalan, kabut - Setoples mata

Namanya Dara, perempuan yang aku jemput di Stasiun kereta api Gambir ini baru saja mendaki Gunung. Katanya di sana dia bisa merefleksikan dirinya serta menenangkan pergolakan dalam dirinya. Aku memang lebih senang mendengarkan ceritanya. Terlebih matanya sering berputar jika dia merasa topik pembicaraannya mulai tidak lagi menarik.
Aku berdiri di depan sebuah Kipas, dekat dengan beberapa orang yang sepertinya juga menunggu sama sepertiku. Sambil menghabiskan waktu, aku memilih untuk membaca sebuah Buku, entah kenapa kisah dalam buku ini terlalu cengeng bagiku. Tapi apa mau dikata lagi? Buku ini dipinjamkan Dara padaku, katanya bagus untuk membacanya. Sementara aku tak sabar ingin bertemu sepasang mata yang membuatku gemas.
Sosoknya terlihat dari ujung jalan, dia melambaikan tangan sambil berlari kecil. Ransel di punggungnya yang besar tampak tak bergeming. Semoga saja punggungnya tidak cedera, tapi apa peduliku, aku lebih senang dengan matanya. Semoga kelelahannya bisa mempermudahku malam ini. Kondisi Jalan yang sedikit padat membuatnya tertidur di sampingku, sayangnya aku tak bisa melihat bola matanya bergerak-gerak, tapi setidaknya masih bisa aku lihat meskipun matanya tertutup. Bola mata itu menari-nari dari balik kelopak matanya, membuatku ingin segera memasukkannya ke dalam stoples.
Dia tertidur lelap sekali, kami belum menjalani ritual seperti menonton televisi, film atau apapun. Sambil memakan makanan dari restoran cepat saji yang tadi aku beli. Akhirnya aku memutuskan untuk segera mendudukkannya di kursi, kelelahan membuat semua ini tampak begitu mudah. Sebenarnya aku tidak suka dengan kemudahan, aku suka dengan erangan yang tercekat, sorot mata ketakutan dan segala macamnya. Tapi aku malas untuk menunggu dia terbangun.
Tangan dan kakinya sudah kuikat kencang, dia masih belum terbangun. Tampaknya benar-benar kelelahan. Aku sandarkan kepalanya di kursi, kubelai kepalanya dan kukecup dahinya. Aku membuka paksa kelopak matanya dan memulai operasi kecil yang aku ketahui saat bersekolah di jurusan kedokteran. Hanya beberapa semester sebelum akhirnya aku di DO karena melakukan tindakan percobaan operasi pada seorang temanku, bukan pada Cadaver. Hei, bukankah mengoperasi pasien harus dipraktekkan secara real? Aku hanya dikenai surat DO, juga kewajiban untuk memeriksakan diri pada seorang psikiater.
Kedua matanya sudah berada di dalam stoples, dia tetap tidak bergerak. Aku kebingungan sebenarnya, tapi aku hanya terdiam. Suara ketukan di tengah malam terdengar dari luar pintu apartementku. Saat aku mengintip, sosok Dara ada di depan pintu. Tubuhku merinding seketika, bertanya-tanya kemudian. Ketukan itu terus berbunyi, sementara aku terduduk lemas di balik pintu tanpa membukanya.
—— The End—-
*Binatang Jalang*
*****************************
Tulisan ini diikutsertakan dalam proyek #Jumatulis

Jumatulis Season 1 - 09 Setoples, Ransel, Jembatan, Foto, Kayu - Untitle

Puas rasanya menatap mata-mata cantik dan lucu, mereka mengambang di setoples berisi air. Milik perempuan yang pernah menghabiskan waktunya bersamaku. Entah sudah berapa pasang mata kukumpulkan selama lima tahun ini.
Malam ini aku akan kembali mendekati seorang perempuan, dari acara yang setiap tahun diadakan, tahun ini mengangkat tema Ransel Persahabatan. Aku dan perempuan itu, menjalin hubungan tanpa status, itu permintaannya. Jadi kukabulkan saja, untuk mempermudah proses.
Kesukaannya adalah menghabiskan waktu di pinggir Jembatan mana saja yang tertinggi, agar bisa menikmati senja. Jadi aku benar-benar akan menjadikan matanya sebagai bola mata favoritku. Dia sudah banyak menatap keindahan di dunia.
Ibarat sebuah kamera, matanya telah menghasilkan banyak Foto yang merekam jingga keemasan setiap sore. Pada bingkai Kayu, fotonya sudah aku pajang diantara perempuan lain. Hanya saja, terlihat lebih berbeda, karena bola matanya akan menjadi favoritku.
*Binatang Jalang*
************

Tulisan ini diikutsertakan dalam proyek #Jumatulis

Jumatulis Season 1 - 10 Gunung, Kipas, Buku, Jalan, Kabut - Mountain Rhapsody [Part 2 - End]

Oleh:


The Mountains are Calling and I Must Go



The mountains stand waiting. 
Firm, frosty, forgiving. 
They call to me. 
Fervently, familiar, fondly. 
They sing to me. 
Serene, soothing, sacred songs. 
They call to me. 
Caverns, cutbanks, caves cooling me. 
They call me home. 
Holding healing helping heart aches roll away. 

Here in this sacred cabin in the forest I rest. 
Restore. 
Renew. 
Recognize. 
Recollect. 
Rejoice in the calling of mountain. 
Calling me home.



Penggalan ode The Mountains Called Me Home terus berdengung di telinga, membuatku terbangun dan tersadar dari mimpi.

Aku melihat sekelilingku. 
Asing. 

Seingatku, terakhir kali aku sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju kebun teh, sambil berkhayal mengenai bunga kipas dan menyenandungkan alunan piano Mountain Rhapsody karya Kevin Costley dan tiba-tiba dibawa ke perkebunan bunga yang sangat luas.

Jadi, ini di mana?

"Hai, kamu sudah terbangun?"

Suara siapa itu?

Kepalaku menoleh ke kanan ke kiri, mencari sumber suara. Nihil. Aku tidak melihat siapapun. Aku hanya melihat hamparan gunung di seberang sana, terpisahkan oleh area danau yang luas sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berenang di danau itu. Ada kabut tipis melayang di udara, membuat suasana menggetarkan jiwaku.

Aku teringat penggalan kisah John Muir, seorang peneliti -- environmentalist, naturalist, dan juga traveler -- saat dia bercerita di dalam My First Summer in the Sierra;  

We are now in the mountains and they are in us, kindling enthusiasm,
making every nerve quiver, filling every pore and cell of us.

Katanya, hidup di pegunungan akan terasa panjang, sekaligus pendek. Kita merasakan kebebasan sejati yang sifatnya abadi. Tidak ada efisiensi waktu, yang menjadi sistem penghematan waktu dan khas bagi kehidupan perkotaan, seperti kisah di dalam buku Momo karya Michael Ende. Lama-lama, kita seperti diperbudak oleh waktu. 

Suasana di pegunungan menghasut kita untuk berhenti bekerja, menikmati suasana santai yang panjang dan beristirahat. Kita akan merasa kaya, karena seperti memiliki cadangan waktu yang panjang di antara kehidupan yang terasa pendek.

So extravagant is Nature with her choicest treasures,
spending plant beauty as she spends sunshine,
pouring it forth into land and sea,
garden and desert.
And so the beauty of lilies falls on angels and men, 
bears and squirrels, 
wolves and sheep, birds and bees.

Aku jadi membayangkan, para pendaki mungkin akan lebih merasa bahwa kematian yang mulia adalah kematian ketika mereka sedang mendaki gunung. Seperti yang dialami oleh Soe Hok Gie.

"Hei, kamu kenapa diam saja?"

Suara itu lagi.

"Ayo ikuti aku..." suaranya kali ini berdesing di telinga, kepak sayap-sayapnya terdengar begitu jelas. Aku menoleh, astaga.


La petit fairie...

Cantik sekali, sangat cantik dan mungil. Mataku menatap takjub makhluk mungil itu tanpa kedip. Aku baru tersadar, aura penuh semangat yang sedari tadi aku rasakan di sini merupakan pancaran dari aura makhluk ini, peri mungil ini. 

Spontan aku kembali teringat pada penggalan kisah John Muir, masih dari kisah My First Summer in the Sierra;

A few minutes ago every tree was excited, bowing to the roaring storm, waving, swirling, tossing their branches in glorious enthusiasm like worship. 
But though to the outer ear these trees are now silent, their songs never cease. 

Every hidden cell is throbbing with music and life, every fiber thrilling like harp strings, while incense is ever flowing from the balsam bells and leaves. 
No wonder the hills and groves were God's first temples, and the more they are cut down and hewn into cathedrals and churches, the farther off and dimmer seems the Lord himself.


Aku jadi menduga, jangan-jangan sabda Muir di dalam kisah itu terinspirasi oleh pertemuannya dengan peri mungil yang memancarkan cahaya semangatnya di pegunungan Sierra. Mungkin saja, kan?

Peri mungil menarik tanganku, aku kembali dibawanya melayang. Terbang, menuju sebuah singgasana indah. Singgasana yang dihiasi rerimbunan pepohonan dan bunga-bunga cantik, tidak terkesan megah namun terlihat sangat elegan.

"Aku perkenalkan kamu dengan Ratu kami, pemimpin kami. Ayo..." peri mungil masih menarikku, terbang, terus ke atas.

Di sana ada peri mungil lainnya, dengan penampilan yang lebih anggun. Ada mahkota mungil di atas kepalanya dan kipas-kipas yang berlarian di sebelah kanan dan kiri sang Ratu, memberikan belaian lembut dari para dayang yang seolah tidak ingin Ratu mereka kehilangan kesejukan.

"Salam, manusia. Selamat datang di dunia kami, para peri penjaga pegunungan." sapa sang Ratu kepadaku. Dan aku, hanya dapat berdiri kikuk, canggung, tidak tahu harus membalas salam dengan cara apa. 

Aku membayangkan cara-cara yang dilakukan oleh para penghuni kerajaan di dalam kisah-kisah dongeng yang aku baca atau tonton. Aku mempraktikkan gaya mereka dan berakhir dengan terjatuh. Sial, peri-peri mungil menahan tawa atas tingkah konyolku ini.

Aku langsung berdiri tegak, menatap kembali suasana di sekitarku. "Everything is flowing," desahku, dalam hati, baru menyadari wujud menakjubkan di sini.

Ratu peri mungil sepertinya mampu membaca pikiranku, "Di sini, semua mengalir ke sebuah tempat. Bukan hanya air yang mengalir. Tumbuhan, hewan, bahkan batu yang tak bernyawa pun akan mengalir. Pernah melihat salju yang mencair? Seperti itulah wujud aliran yang menghidupi wilayah di sini. Aliran yang melaju dengan cepat maupun lambat, semua bergerak membentuk keindahan, berpadu dengan udara yang membawa mineral-mineral penting, berirama seperti alunan musik yang meneduhkan."

Mulutku menganga, air liur sampai terjatuh. Memalukan. Aku merasa betah di sini. Suasananya memang asing, tetapi membuatku sangat nyaman.

"The infinite lavishness and fertility of Nature," aku bergumam. Pantas saja John Muir menerjemahkan keindahan seperti ini sebagai inexhaustible abundance amid what seems enormous waste.

"Benar sekali. Alam melimpahkan begitu banyak kemewahan kepada kita. Lihatlah hingga ke kedalaman semesta raya, tidak ada sedikitpun partikel yang sia-sia. Semuanya akan mengalir, bermanfaat, bahkan membentuk keindahan Maha Sempurna." lanjut Ratu peri.

Aku merasa ingin menetap di sini, selamanya. Di sinilah perwujudan dari rumah yang sebenarnya, berada. Damai sekali.

Here...
The mountains are calling and I must go, and I will work on while I can, studying incessantly.


***


"Ah, ini serenade yang cantik sekali. Alunannya begitu indah." sayup-sayup aku mendengarkan lantunan suara merdu dari kejauhan. Mataku memejam, menikmati serenade tadi dengan lebih khusyuk.

Aku memukul lenganku. Aduh! Sakit sekali. Kalau bukan karena terasa ada serangga yang menggigit, aku tidak akan memukul lenganku sekeras itu.

Rasa kesal memaksaku untuk membuka mata. 

Eh?!

Seingatku, aku sedang bersama Ratu peri dan peri mungil penjaga gunung lainnya. Kenapa sekarang ada di sini?

Aku melihat ke arah meja, ada catatanku yang belum selesai.

So, here I am, sitting on the veranda, looking at the views around, and drinking a couple cups of coffee. My tummy is full, obviously.

Oh, talking about coffee...

We do all know what the most expensive coffee beans in the world is, don't we? 

It's civet coffee, a kind of coffee beans. A real coffee and delicious, indeed. It was coming from Sumatera - Indonesia. But, the most disgusting fact about civet coffee is, well, it was harvested from the poo of the civet cat.

Hmm...

Mountain Rhapsody dari Kevin Costley kembali mengalun dari dalam kamarku.



***



Mountain Rhapsody
Prolog
Part 1


Catatan Khusus
Cerita diadaptasi berdasarkan interpretasi bebas saya saat mendengarkan Mountain Rhapsody yang merupakan karya dari Kevin Costley.


Detail
Mountain Rhapsody by Kevin Costley. For piano. Sheet Music. FJH Written For You Piano Solos. Early Intermediate. Single sheet. Published by The FJH Music Company Inc (FJ.W9272).