Monday, February 9, 2015

Jumatulis Season 2 - 03 SMA - Kamu


Ingatkah kamu saat kita pertama bertemu,
kamu adik tingkatku di sekolah kita
SMA Kasih Abadi
di sudut lapangan di bawah pohon rindang
dihujani daun-daun berguguran
kau menatapku seperti gadis cilik menatap bintang di kelamnya malam
matamu berbicara banyak,
tapi kamu tetap terdiam,
saat itulah aku tahu bahwa aku akan mencintaimu selamanya
melewati masa putih abu denga tawa dan keriangan

Aku tak pernah lupa wajahmu yang merona
ketika pertama kali kuucapkan kata cinta
di bawah pohon tempat pertama kita bertemu
yang selanjutnya kita namakan pohon cinta
Pun ketika kita meninggalkan SMA kita tercinta
pohon itu masih berdiri kokoh
sekokoh cinta kita

Waktu terus merambat tanpa henti
mengantarkan kita pada kehidupan yang tak seindah masa SMA kita
tapi kamu tetaplah wanita tangguh yang kukenal
tak menyerah sekalipun badai menjungkir balikkan duniamu

Kini setelah sepuluh tahun berlalu
matamu masih berbicara banyak
kamu semakin tangguh
tapi mulutmu tak lagi terkunci
senyummu yang menjejukkan hatiku
sapa hangatmu yang selalu mendamaikanku
ocehanmu karena keteledoranku
bukti nyata bahwa kasihmu tetap sama
bahkan selalu bertambah

Kini ….
saat ku lihat kau di sudut sana terbaring kelelahan
berupaya tanpa lelah memberikan yang terbaik untukku
membuatku semakin yakinuntuk tidak mengingkari janjiku
untuk mencintaimu selamanya

Istriku …
terimakasih telah menjadi bagian terbaik dari diriku
terimakasih tak pernah lelah mendampingiku
maafkan aku yang sering lalai memperhatikanmu
aku sayang sama kamu, selamanya .

Jumatulis - 03 Pesona - Cinta Buta


Cinta Buta

Ada yang merasuk dalam jiwa yang hampa
keterpakuan atas logika yang mati
tersedot pusaran pesonamu yang melumpuhkan jiwa

aku terpaku dengan langkah yang merapuh
tanpa daya dan menghamba pada kesunyian
aku sendiri memimpikan kamu
yang telah berlalu dalam ruang hidupku
tapi betapa racun cintamu masih melumpuhkanku hingga saat ini

aku tak bisa berlari dan menjauh dari hal yang berhubungan tentang kamu
ada tawamu, gurauanmu, rayuanmu dan semua tentangmu
aaaahhh... kamu selalu ada disini sayang, di relung terdalam hatiku

aku terpaku pada kamu yang tak pernah ada
hanya hadir sepintas lalu menebar sejuta pesona yang melumpuhkan hati

adakah kamu hadir lagi dalam setiap detik hidupku
karena bersamamu tawa adalah nyata dan bahagia adalah adalah semu
sesemu cinta yang pernah kau tebarkan pada satu ,masa di hidupku
aku mungkin lupa pada kamu yang mencapakkanku dlm indahnya dunia fana
tapi aku tak pernah lupa bahwa pelukanmu adalah yang ternyaman yang pernah ada
aku bisa saja lupa bahwa kamu yang meletakkanku pada lumpur kesakitan cinta yang palin parah
tapi bagaimana aku bisa lupa tentang senyummu yang selalu membuatku merasa damai

kata – kata picisan ini tak akan pernah sanggup menggambarkan pesonamu
yang terlalu kuat mencengkram hati, jiwa dan ragaku
betapa aku merindumu sayang....

bisakah aku sekali saja menemukan senyummu yang tak pernah lagi hadir itu
bisakah kamu sekali saja datang dan menyapaku
meyakinkanku bahwa aku baik-baik saja tanpamu

tapi aku tak pernah bisa menjadi baik-baik saja tanpa hadiemu
kau adalah yang menjadikanku sempurna
apalah artiku tanpadirimu

aku butuh lebih dari sekedar bayangmu yang tak pernah lagi sudi mampir
aku butuh kamu disisiku sayang …..


aaahhh ….. tapi kamu tak pernah hadir lagi dalam hari-hariku
bahkan untuk menyapaku dalam mimpi pun kau takkan sempat
tidakkah kau tahu bahwa aku merindukanmu sedemikian parah
hingga tak sanggup menatap cinta lain yang ditawarkan padaku

mengapa senyummu saja selalu mampu membuatku merasa damai
btapa agung pesonamu yang tak pernah padam dari pusaran ingatanku

aku memujamu laksana dewa cinta tanpa cacat
aku mengagumimu laksana sahaya mengabdi pada tuannya
betapa aku tak pernah lupa cinta ini selalu ada untukmu

semoga suatu saat akan tiba waktunya kau kembali padaku
mendekapku lagi sepenuh cinta seperti dulu …

Friday, November 28, 2014

Jumatulis Season 2 - 10 Perjalanan - Tentang Tian dan Hitungan Waktu

Aku tak hanya mengunjungimu, melalui dua jam perjalanan yang membosankan.
Aku seperti mengenal lagi masa lalu, tapi dengan rasa yang berbeda.
Tapi tatapmu, tetap sama.
Penuh ambisi dan harap bahagia.

Tian, jangan pernah lelah melangkah.
Aku tahu bagaimana perihnya mata yang terus dipaksa terjaga, tapi aku tak mampu bertahan membuatnya tetap teduh
Yang mampu bagiku kini, adalah tetap mengenalmu dengan embusan napas yang perlahan menguat di dalam dada yang bukan milikmu.
Mungkin, itu milikku.

Kuasa Tuhan yang telah menghadirkanmu di sini, telah cukup membuatku tak pernah lelah mengucap syukur sekian kali yang tak tahu hitungan.

Jumatulis Season 2 - 10 Perjalanan - Lagu Ebiet

Temanya perjalanan.
Begitu tema yang harus ditulis jumat ini.

Begitu disebut kata perjalanan, sontak yang terbayang adalah lagu Ebiet... "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan..."

Setiap kali ingat bahwa tema Jumatulis adalah perjalanan, lagi-lagi lagu Ebiet itu terngiang dan dinyanyikan otomatis. "Sayang kau tak berada di sampingku kawan..."

Lagu itu seolah menjadi soundtrack yang mengiringi aktivitas beberapa hari ini. Begitu tersadar bahwa harus menyiapkan tulisan di hari jumat dengan tema perjalanan, mulut saya segera menyanyikan lagu Ebiet lagi tanpa diminta. "Banyak cerita, yang mestinya kau saksikan..di tanah kering bebatuan..."

Racun memang lagu Ebiet itu, dan kenapa pula menyanyikannya harus mengikuti gaya Ebiet? Benar-benar sebuah misteri yang nyata.
"Hoooo.....hooo....hoooo..."
"Kawan coba dengar apa jawabnya...."

Dan lagu Ebiet kembali dinyanyikan.

Friday, November 21, 2014

Jumatulis Season 2 - 09 Beranda - Suatu Sore di Beranda

Sore ini hujan turun deras, setelah seharian mendung bergelayut di atas sana. Udara lembab yang gerah, yang serasa berada di dalam sauna akhirnya berganti dengan udara sejuk yang menghapus keringat dan mendinginkan kulit. Dunia seakan-akan menghembuskan napas lega... Perempuan Itu, saat mendengar suara hujan, menghentikan pekerjaan yang sedang ia lakukan dan keluar ke beranda rumahnya. Ia segera larut dalam pesona hujan, memandanginya dan terus memandanginya tanpa memikirkan apa-apa.

“Bagaimana hujan terjadi?”

Tersentak, Perempuan Itu menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Gadis Kecil berdiri di sampingnya. Rambut sebahunya diikat ekor kuda dan tubuhnya terbungkus jaket tebal selutut berwarna kuning pisang, ia juga memakai sepatu bot anti air berwarna senada dengan jaketnya.

“Kau sudah datang.”

“Hujan itu cantik ya, suaranya merdu, tik tik tik...”

“Ia sangat cantik.”

“Mau main hujan?”

“Tidak. Kamu saja.” Gadis Kecil menatapnya dengan mimik memohon yang sangat memelas, yang akan menyentuh hati siapa pun, kecuali dirinya. Dia menggeleng dan mimik itu seketika berganti mimik merajuk yang sangat menggemaskan. “Tidak”, katanya lagi. Gadis Kecil dengan muka cemberut membuka jeket dan sepatunya lalu berlari ke dalam hujan. Ia tahu, sekali Perempuan Itu berkata tidak, sekeras apa pun ia berusaha membujuknya, dia tetap tidak akan berubah pendirian. Gadis Kecil sering membayangkan Perempuan Itu seperti batuan gunung yang tak tergoyahkan bahkan ketika dilanda badai ataupun gempa.

Hujan seakan menyambutnya, ia bertambah deras dan terus bertambah deras. Gadis Kecil menari-nari, bernyanyi-nyanyi, melompat-lompat meniru kodok, bahkan berguling-guling di tanah yang becek. Perempuan Itu tersenyum dan menggeleng-geleng menyaksikan tingkah Gadis Kecil.

Dia pun beranjak dari beranda dan menuju dapur. Segera sibuk membuat segelas susu coklat panas untuk Gadis Kecil dan sepoci teh panas untuknya. Dengan sekaleng biskuit sebagai teman cemilan di sore hari itu. Dan kembali ke beranda menikmati hujan sekaligus mengawasi Gadis Kecil.

Mereka berdua menyukai hujan. Bedanya, saat hujan Gadis Kecil ingin segera berlari menyambut sang hujan dan bermain hinggah kuyup di dalamnya sedangkan Perempuan Itu lebih memilih menikmatinya dari tempat yang kering yang tidak membuatnya basah kuyup. Perempuan Itu tidak suka rambutnya lepek, makeupnya blepotan karena hujan. Gadis Kecil tidak peduli seluruh tubuhnya basah, bajunya blepotan lumpur, dan mungkin saja dia akan demam selepas bermain hujan itu, dia tidak peduli, kebahagiaan dan keceriaan yang ia rasakan saat itu adalah hal yang paling penting baginya. Perempuan Itu hanya suka memandangi hujan dan menjadi melankolis karenanya...

Setelah puas bermain hujan, Gadis Kecil masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mandi. Membasuh badannya yang berlumuran lumpur dan berganti pakaian. Kemudian dia akan duduk manis disebelah Perempuan Itu, meneguk susu panasnya dengan penuh sukur. Untuk beberapa saat mereka akan duduk diam seperti itu, meneguk minuman masing-masing, mengunyah biskuit, dan tenggelam dalam lamunan atau pikiran masing-masing.

Gadis Kecil berharap ketika suatu saat nanti dia menjadi dewasa -- dia harap tidak, semoga saja tidak – dia ingin seperti Perempuan Itu; rupanya, pembawaannya, dan raut keibuan penuh kasih ketika memandangnya. Perempuan Itu lain lagi, kadang ia merasa iri pada kepolosan, spontanitas, dan rasa percaya yang dimiliki Gadis Kecil. Seakan-akan dunia ini tempat yang paling indah, mengasikkan dan aman ketika kita melihat dari kacamatanya. Semua manusia, semua makhluk baik dan patut dipercayai. Tak ada rasa curiga di hatinya... seandainya Perempuan Itu bisa seperti itu... tapi tidak, dia terlanjur menaruh curiga pada segala hal, bahkan kebaikan yang ditujukan kepadanya. Dia akan bertanya-tanya ada maksud terselubung apa ketika seseorang memberinya pertolongan, dan seberapa banyak dia akan berhutang budi.

Hidup akan menjadi terlalu rumit dan melankolia jika menyangkut Perempuan Itu dan hidup akan jauh lebih menyenangkan dan dipenuhi petualangan mengasikkan jika menyangkut Gadis Kecil. Dengan perbedaan itu, keduanya malah berteman akrab. Dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Mereka punya jadwal bertemu setiap harinya, di sore hari menjelang senja, atau di malam hari ketika manusia dan makhluk lainnya telah terlelap.

Jumatulis Season 2 - 09 Beranda - Beranda Impian

Letaknya akan terasa indah bila terletak di samping rumah kami. Harus di samping, tidak di depan, tentu saja di depan rumah kami harus ada juga beranda tapi beranda impian saya yang terletak di samping adalah yang istimewa.
Seperangkat kursi dari kayu akan menjadi penghuni beranda tersebut, warna kayu yang hangat akan memberi rasa nyaman bagi siapapun yang menghabiskan waktu di situ. Pot-pot mungil dengan beraneka jenis bunga juga harus ada di sana. Sebuah meja bundar akan diam di sudut beranda, tempat saya meletakkan buku-buku ketika menikmati waktu di sana. Pemandangan yang akan memanjakan mata kami adalah hamparan rumput hijau dan tanaman pagar serta pohon-pohon yang akan memberi kesan teduh dan segar.
Hmmm....membayangkannya saja sudah membuat hati saya senang, beranda impian.

Friday, November 14, 2014

Jumatulis Season 2 - 08 Reuni - Dua Orang yang Dikenang Seumur Hidup

Musim basah itu kini kembali lagi dengan curah yang sama, namun perasaan yang berbeda. Aku mengunjungi ingatan yang pernah tersayat dan tambalan-tambalan tanda pernah disembuhkan. Sejenak, kupikir semua ini hanya kenangan masa lalu yang telah kutinggalkan ribuan jejak sampai detik ini. Tapi, kembali ke sini mengingatkanku bahwa ada sebuah pintu yang tak pernah menemukan kuncinya. Sebab sebuah kesalahan akan terbayar lunas dengan sebuah maaf. Dan batu nisan di hadapanku tak pernah memberi jawaban atas maaf yang selalu kuminta puluhan tahun ini.

Tiga pembunuh bertemu lagi di tanah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya yang sudah mengulang puluhan kali. Satu masih hidup, dua sudah mati. Aku, si cacat yang berhasil hidup, tak pernah tahu rasanya dimaafkan. Bahkan dengan dua bongkah batu yang menjulang dua jengkal, yang katanya punya nama, tapi tak pernah bersuara.

Apa semua kenangan ini akan selalu bertemu kembali di tempat yang sama disetiap tahunnya seumur hidup, tanpa pernah bisa menemukan kunci dari sebuah pintu yang kuharap akan terbuka, suatu saat nanti? Yang kutahu... Pintu maaf itu tak akan pernah terbuka. Sebab si pemegang kunci telah masuk ke pintu berbeda yang mungkin tak bisa juga kutemukan. Pintu yang kelak akan mengadilinya atas apa yang ia perbuat sebelum ia mati. Pembunuhan...

Jumatulis Season 2 - 08 Reuni - 020202

REUNI IPS 1: 02-02-2002
Begitulah tulisan yang terpampang di papan tulis kelas kami.
Ide itu terlontar setelah kami pulang dari studi tur ke Kampung Naga dan Pangandaran.
Kebersamaan ketika studi tur ternyata mempererat pertemanan kami. Padahal kami hanya satu tahun ajaran saja menjadi teman sekelas, tapi mengingat setelah studi tur ini masa kebersamaan kami sebagai teman sekelas akan segera berakhir dan justru kami merasa semakin dekat, belum berpisahpun kami sudah merencanakan pertemuan kembali.
Akhirnya kami semua harus berpisah, setelah kelulusan yang kami rayakan di laut Palabuan Ratu. Sebelum benar-benar berpisah kami semua berjanji bahwa lima tahun lagi di tanggal 02 bulan 02 tahun 2002 kami akan bertemu kembali.
Catatan akhir:
Tanggal 02 bulan 02 tahun 2002 kami benar-benar bertemu kembali. Kami reuni di acara pernikahan teman sekelas kami yang sengaja melangsungkan pernikahannya pada tanggal tersebut.

Jumatulis Season 2 - 08 Reuni - Sekedar Cuap-Cuap

Tema Jumatulis hari ini Reuni...saya tau, mamah Asti saat mengeluarkan tema ini terpengaruh hebohnya film mini AADC. Pasti Mamah terkenang masa-masa mudanya, masa-masa dimana ia rela antri untuk menonton film AADC itu. Saya sendiri, di tahun 2002 baru duduk di kelas 6 SD. Masih unyu-unyunya dan tentunya belum bisa masuk bioskop untuk menonton film seperti ini (dulu adegan ciuman udah uwoooowoooo banget si). Belakangan, saya menonton film ini dari dvd bajakan yang dibeli sepupu, juga dari TV. Saya menyukai film AADC ini, ceritanya tidak lebay macam film berlatar SMA zaman sekarang dan... errr... saya lupa apalagi yang membuat saya menyukai film tersebut. Hahahaha...

Nah saat menonton mini film AADC ini saya sadar, memori saya campur aduk antara film AADC dan GIE, Catatan Seorang Demonstran. Apalagi saat Rangga baca puisinya, mirip Gie banget ya?!! Hahahaha...
Terus kenapa? Ya enggak apa-apa si. Hihihi... Terus hubungannya dengan reuni apa? Ya enggak ada juga si ._. #plak

Jujur ya, saya gak tau mau nulis apa perihal “Reuni” ini. Soalnya aku baru lulus SMA, enam tahun yang lalu – eh sudah lama juga ternyata – dan masih seringlah ketemu teman-teman SMA, meskipun memang tidak sama lagi seperti saat bersekolah. Terakhir ketemu sahabat SMA waktu kawinanku dan ngumpul-ngumpul sahabat SMP bulan lalu. Jadi ya...

Terakhir waktu iseng cek Find Alumninya Line aku nemu lelaki yang imut, teman SMA bahkan dulu satu jurusan di IPS. Tapi kayaknya dia dulu gak cakep kayak gitu deh, apa aku yang gak pernah merhatiin ya?!!! Hahahah


Oh ia, reuni juga gak selamanya dengan teman sekolah ya. Saat ini keluargaku lagi ngumpul-ngumpul. Ya ngumpulnya si karena ada kabar duka, tetapi hal positif dari kabar duka itu ya ngumpul ^^

#Jumatulis Season 2 - 8 Reuni - Secangkir teh manis hangat

Ada teh manis hangat dalam secangkir gelas bening. Bergaris-garis bak lekukan seorang perempuan. Warna coklat kemerah-merahan, sebagai tanda berasal dari daun teh berkualitas. Mungkin sama seperti Malika yang berasal dari kedelai berkualitas juga. Tapi teh ini belum pernah bertemu dengan Malika.

Tapi suatu ketika, saat terhidang di meja kayu, menemani sang Bapak berkumis, sambil menonton berita di televisi. Di sampingnya ada koran, sesekali dia melirik sambil membaca berita-berita tentang tanggapan pidato Presiden saat APEC. Di bawahnya, seperti biasa, kolom berita kriminal. Tidak ada yang menarik.

Di lembar kedua, ada kisah tentang harga BBM yang melonjak lagi untuk kesekian kali. Katanya mencekik leher orang-orang yang tidak mampu. Padahal yang sering berteriak justru orang-orang yang memilii mobil pribadi namun enggan untuk mengisinya dengan pertamax.

Lembara berikutnya, bertambah banyak orang-orang sok tau dan sok pahlawan yang mengurusi banyak hal dengan pemikiran sempit mereka. Tapi halaman terakhir membuat mata tertuju pada beritanya. 

Line 'Reuni' AADC. Iklan yang sering bertebaran hingga membuat orang-orang seakan mengenang saat-saat mereka mengantri demi menonton film yang saat itu, adalah saat dimana perfilm-an Indonesia sedang bangkit kembali, dari mati suri.

Ada banyak berita tentang mengapa begini dan begitu yang dibuat singkat oleh banyak orang. Tersebar di dunia maya. Kemudian menjadi bahan perbincangan selama berhari-hari.

Sebenarnya bukan berita yang begitu hebat, tapi ini hanya sekedar berita kilas balik. Yang juga mengingatkan pada rentetan peristiwa yang pernah terlewati, AADC pertama sudah mengalami 3/4 kali ganti presiden. Berarti sudah banyak waktu yang terlewati.

Ini masalah waktu, seperti secangkir teh manis hangat yang sudah mulai menguap panasnya, kemudian menjadi sedikit dingin, dan tersisa tinggal 2/3 saja di dalam gelas. Bapak berkumis mematikan televisi, beranjak dari kursi dan melangkah pergi.

Mencari nafkah demi anak dan istri.