Friday, October 10, 2014

Jumatulis Season 2 - 03 Pesona - Mbak Inul

Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
karna terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

Mbak Inul, tengah bergoyang dengan gaya khasnya, goyangan setrum. Sambil melewati pemakaman keluarga Pak Kartadjaya, yang konon katanya sangat angker. Beberapa kali, tempat itu sering dijadikan ajang untuk bertemu dengan makhluk halus, dimana kamera akan berada beberapa tempat sesuai arah mata angin.

Suara dari handphone yang baru dibelikan oleh Bang Roma, pacar barunya setelah memutuskan Bang Meggy, diatur agar mengeluarkan suara musik lagu dangdut sampai maksimal. Tujuannya jelas, Mbak Inul ketakutan dan butuh pengalihan fokus agar tidak ketakutan ketika melewati makam Keluarga besar Kartadjaya.

Lima langkah sebelum melewati pintu masuk makam, dengan dinding yang hanya setinggi pinggang Mbak Inul yang meliuk bagai gitar spanyol - itu kata Bang Roma. Ada embusan angin semilir melewati wajah Mbak Inul. Wangi melati. Kakinya tersentak berhenti, tapi kepalanya ketakutan untuk melihat ke arah kanan dan kiri, tempat makam Keluarga Kertadjaya.


Sementara itu di atas pohon adenium yang menjulang tinggi, duduk seorang wanita dengan paras cantik, rambut panjang, memperhatikan Mbak Inul dari jauh. Sorotnya sedih dan sepi, dia sudah lama tidak merasakan kesenangan. Dan merasa kalau suara dari lagu yang tengah diputar Mbak Inul adalah sesuatu yang sudah lama dicarinya. Ia ingin berkenalan dengan Mbak Inul.

Wuzzzzzz

"Mbak, saya Marni. Itu lagu apa?"

"Huu...huuuu...huuuu."

Mbak Inul hanya bisa tergugu ingin menjawab bahwa lagu ini lagu Kopi Dangdut yang sangat terkenal itu. Tapi kakinya Mbak Inul gemetaran, tangannya menunjuk ke arah sosok di hadapannya yang tidak menapaki tanah, setengah melayang dengan gaun putih kotor, mata yang melotot tajam ke arahnya, serta belatung yang keluar dari sudut matanya.

"Mbak, itu lagunya siapa?"

Mbak Inul tidak pernah kencing sembarangan, tapi malam itu, ketika suara anjing menggonggong samar-samar dari kejauhan. Kaki Mbak Inul yang gemetar, spontan saja tanpa melihat apakah ada toilet atau tidak, Mbak Inul kencing di celana.

"Mbak, celananya basah."

Mbak Inul masih tergagap, celana basah, badan gemetar.

"Mbak, sini saya bantu."

Mbak Inul susah bernapas, bau di sekelilingnya busuk, pengap. Serta gelap,pekat. Mbak Inul berteriak, mulutnya penuh tanah.

Di kejauhan tukang becak yang melewati pemakaman Keluarga Kartadjaya, mendengar suara minta tolong. Dan dikayuhnyalah becaknya dengan cepat, dia ingin segera sampai rumah. Ingin bertemu Mbak Inul pujaan hatinya.


***
Tulisan ini diikut sertakan dalam #Jumatulis

Friday, October 3, 2014

Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Hasrat Hati

Keinginan yang kuat. Itulah yang saya dapatkan saat mencari arti kata hasrat dari Kamus Bahasa Indonesia Lengkap yang disusun Daryanto, S.S. terbitan Apollo Surabaya.
Keinginan yang kuat, bila memang itu adalah arti hasrat maka hasrat hati saya banyak sekali yang dapat dibagi. Salah satunya adalah hasrat hati yang ini.
Komik PopCorn nomor 9, dalam salah satu dialog antara Nakki, Mai, Okita dan Hatsune...Hatsune bilang bahwa cita-citanya adalah jadi ibu rumah tangga no.1 di Jepang. Entah kenapa ya.. kalimat Hatsune itu saya ingat dengan baik.
Pertemuan terakhir mata kuliah Bimbingan Perkawinan. Dosen saya bertanya, apabila nanti setelah lulus ternyata kami yang perempuan tidak bekerja, apakah kami akan merasa menyesal? Saat itu saya menjawab, bahwa saya tidak akan menyesal dan sangat yakin bahwa ilmu yang telah saya peroleh selama kuliah dapat berguna walaupun saya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Menjelang akhir kuliah S1. Di teras rumah kosan Cempaka Putih, saya dan dua orang teman ngobrol sambil menikmati udara Bandung yang sejuk. Seorang teman bertanya, "Ti, kalau lulus nanti mau kerja dimana? Pengadilan Agama?"
"Gak mau, asti mah mau jadi penulis aja kayaknya hehehe".
"Kalau ntar udah nikah masih mau kerja gak?" Dia nanya lagi.
"Jujur, gak pernah kepikiran jadi wanita karir. Pengen jadi ibu rumah tangga aja. Kalau jadi penulis tea kesampean, kayanya masih bisa tetep di rumah tapi kerjaan juga beres."
Obrolan dilanjutkan dengan tema yang lain.
Ketika hamil anak pertama, lalu kemudian lahir anak kedua, keinginan yang kuat itu masih tetap ada. Selalu ada. Keinginan itu yang kerap muncul, sering juga dibarengi rasa bersalah kepada anak-anak ketika saya harus meninggalkan mereka demi memenuhi kewajiban saya. Rekan-rekan kerja meyakinkan bahwa seiring waktu berlalu, anak-anak semakin besar, saya tidak akan lagi kesulitan dengan peran saya sebagai ibu.
Yaaaahhh....mau dikata apa lagi, saat ini hasrat hati saya memang belum bisa terpenuhi, sehingga dalam bio twitter saya menulis: Maunya jadi full time mother.

Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Malila

 Oleh:
 

Aku menatap tumpukan barang-barang yang aku beri label sebagai barang-barang paling berharga di dalam hidupku. Ruangan khusus ini sengaja aku dedikasikan untuk mereka. Bibirku menyunggingkan senyuman penuh rasa senang. Tangkapanku hari ini sangat memuaskan.

***

"Malila. Nama saya Malila..."

"Nama yang bagus. Apa artinya?" 

Aku menatap ke arah pria paruh baya di depanku ini, sambil terus memperlihatkan senyum andalanku, "Tidak tahu, Pak. Saya sendiri tidak memahami artinya. Sepertinya, orang tua saya hanya memberikan nama secara asal saja, yang penting terdengar bagus...."

Aku masih menatap ke arah pria paruh baya di depanku... Tunggu, siapa tadi namanya? Kualihkan pandangan ke arah name tag yang sedang ia kenakan. Oh, Pak Hendrawan. Ya, Hendrawan. Sepertinya, Maura akan sangat senang kalau mendapatkan tangkapan seperti Pak Hendrawan ini. Aku paham sekali dengan selera Maura; tidak peduli dengan penampilan fisik, yang paling penting adalah isi dompetnya. Aku terkekeh membayangkan bagaimana air liur Maura akan menetes dengan deras begitu kukenalkan dengan Pak Hendrawan.

"Ada yang lucu?" pertanyaan Hendrawan membuyarkan pikiranku.

"Tidak ada, Pak. Saya hanya teringat dengan Maura. Bapak, kan, tahu... Kedatangan saya ke kantor Bapak, walaupun terkesan formal, tetapi kita sama-sama tahu ada bisnis apa di antara kita...." jawabku dengan senyum tetap tersungging di bibir.

Sepertinya, Pak Hendrawan cukup puas dengan jawabanku. Kepalanya mengangguk-angguk seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Patuh sekali mendengarkan penjelasanku terkait bisnis kami.

"Bapak sudah siap bertemu dengan Maura malam ini?"

"Tentu! Tentu saja saya sudah sangat siap."

"Kalau begitu, sampai jumpa di tempat pertemuan kita nanti malam, Pak. Nantikan suguhan istimewa dari Maura...."

Ya, suguhan istimewa. Benar-benar istimewa. Aku semakin tidak sabar untuk melaksanakan misi malam ini.

***

Aku mempercepat laju mobil, berharap sampai di apartemen tepat waktu. Malila sudah berulang kali mengingatkanku, pagi tadi, supaya aku tidak terlambat. Kurang dari 45 menit lagi pelanggan baruku akan sampai. Artinya, aku hanya memiliki waktu sedikit untuk mempersiapkan diri. Untungnya, lokasi hotel, tempat aku dan Pak Hendrawan bertemu, sangat dekat.

Aku tidak boleh terlambat. Malam ini harus berjalan dengan lancar.

Aku membayangkan wajah Malila nanti. Dia pasti berhasil untuk mendapatkan yang diinginkannya malam ini. 

Cukup pertemuan terakhir saja yang menjadi satu-satunya kegagalan di dalam perjalanan kisah kami berdua. Saat itu, aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa klien kami begitu licik dan mudah membaca pola kami. Aku dan Malila sampai bersusah-payah mengubah pola supaya tidak lagi mengalami kesalahan yang sama. Bukan berarti, kami berdua, selalu menggunakan pola yang sama. Tidak. Ini tidak pernah terjadi. Kami selalu membuat pola yang berbeda dalam menjalankan aksi, meskipun hasil akhirnya tetap saja sama; ada kepuasan di diriku dan di diri Malila. 

Kepuasanku, tentu saja, uang berlimpah yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan adikku; Malila. Sejak orang tua kami meninggal dunia saat kami masih berusia 15 tahun dan 5 tahun -- jangan tanya mengapa kami bisa memiliki jarak usia yang cukup jauh. Tanyakan saja pada orang tua kami, yang tentunya tidak akan dapat kalian tanyakan untuk sekarang, hahaha -- aku harus memutar otak untuk dapat bertahan hidup. Satu-satunya pilihan paling masuk akal bagiku, ya, menjalani bisnis ini.

Awalnya, Malila hanya mengekor saja. Anak kecil, dia tidak perlu tahu secara mendetail tentang apa saja peranku selama menjalani bisnis. Meskipun usianya sekarang sudah memasuki 20 tahun, aku melarang keras keinginannya untuk mengikui jejakku. Tidak akan. Dia membantuku mendapatkan klien, ini tidak masalah, tetapi jangan pernah menjadi objek pemuas juga. Cukup aku saja. 

Aku sudah merancang kehidupan baru bagi kami berdua. Pak Hendrawan akan menjadi klien terakhirku. Setelah ini, aku akan mengajak Malila hidup di tempat lain -- tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenali kami berdua, tempat di mana aku dan Malila benar-benar mampu menjalani kehidupan yang lebih normal. Aku sudah mulai khawatir dengan Malila, amit-amit kalau dia menjadi terjebak di bisnis ini seperti diriku. Amit-amit.

***

Berulang-kali aku menunggu kode dari Maura, tetapi tidak juga kudapatkan. Seharusnya, kalau menilik dari kebiasaan sebelumnya, saat ini aku sudah masuk ke dalam ruangan dan melakukan eksekusi akhir dari permainan di bisnis kami. Tetapi, aku tidak berani bergerak tanpa kode karena khawatir akan mengacaukan posisi Maura.

Maura selalu bergerak sebagai starter. Dia akan merayu klien hingga mabuk kepayang -- mabuk dalam arti sebenarnya, kalau kau penasaran, lalu menciptakan sensasi penuh ilusi seolah klien tersebut mendapatkan kepuasan yang mereka harapkan, dan terakhir meninggalkan klien tertidur pulas dengan uang dan beberapa benda miliknya kami rampas.

Aku akan menjadi "tukang bersih-bersih" di permainan ini. Maksudku, membantu menghilangkan jejak. Oh ya, tentu saja ketika berhadapan dengan klien, aku dan Maura tidak pernah tampil seperti apa adanya kami. Haram hukumnya.

Karena penasaran dan juga merasa tidak enak, aku segera menuju ke hotel. Aku mengumpat di dalam hati karena kami tidak pernah mengandalkan gadget atau social media atau email untuk berkomunikasi jika terkait bisnis, demi menjaga kerahasiaan dan tidak meninggalkan jejak. Cukup Malila dan Maura, nama kecil kami yang dikenal, itupun hanya dikenal oleh oleh klien.

***

Aku merasakan firasat buruk. Sepertinya Pak Hendrawan bukan klien mudah. Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Setidaknya aku harus menyelamatkan Malila, harus!

Aku melihat korek gas di meja dekat ranjang. Aku raba perlengkapan lain yang selalu aku persiapkan di dalam tas kalau sedang menjalani bisnis. Aku masih ingat bahwa ada sedikit bensin di dalamnya. Aku perhatikan ruangan suite ini. Tidak ada pilihan lain, bakar!

***
Aku menatap tumpukan barang-barang yang aku beri label sebagai barang-barang paling berharga di dalam hidupku. Ruangan khusus ini sengaja aku dedikasikan untuk mereka. Bibirku menyunggingkan senyuman penuh rasa senang. Tangkapanku hari ini sangat memuaskan; sebuah dompet cantik yang mirip dengan yang dibawa Maura terakhir kali, 10 tahun yang lalu. Aku berhasil mendapatkannya dari hasil lelang online. Susah sekali mendapatkannya karena model yang sama sudah tidak pernah diproduksi lagi.

Di dalam ruangan kesayanganku ini terkumpul semua benda yang mengingatkanku kepada Maura, kakakku. Satu-satunya keluarga yang aku ingat dengan baik. Walaupun Maura sering bercerita bahwa kami pernah memiliki orang tua, tidak ada satupun jejak yang bisa mengingatkanku kepada mereka. Bahkan, selembar foto pun aku tidak punya.

Dengan pelan, kuusap syal terakhir yang ditinggalkan Maura untukku. Dulu, aku selalu mengumpulkan syal. Setiap kali Maura selesai menjamu klien, uangnya digunakan untuk tabungan atas namaku dan sebagian kecil dibelikan syal baru kesukaanku.

Udara dingin merambahi tubuhku, segera saja kuketatkan lilitan syal di leher untuk menghalaunya. Kota kecil ini sudah memasuki musim dingin.

Kalian tentu heran mengapa, sekarang, aku bisa terdampar di sini. Aku tidak pernah mengetahui bahwa Maura sudah menyiapkan segalanya untukku, secara diam-diam, termasuk wasiatnya terkait kepindahanku ke sini.

Semakin aku mengingat Maura, semakin pikiranku dibawa ke kejadian dulu, kejadian yang menjadi akhir perjalanan bisnis kami sekaligus menjadi awal mula keberangkatanku ke dunia baru. 

SAYA BUNUH KAMU!!!

Hanya itu teriakan terakhir yang aku dengar dari dalam kamar hotel. Selebihnya, aku tak lagi mengingatnya. Tiba-tiba saya suasana berubah senyap dan terdengar ledakan dari arah kamar, tidak lama muncul api yang cukup besar.

Aku sempat berpikir bahwa Maura terbunuh oleh Pak Hendrawan, ternyata pikiranku salah. Justru di olah TKP selanjutnya -- yang hanya bisa aku simak melalui berita karena pesan terakhir Maura yang diletakkan di kamarnya menyuruhku untuk segera pergi dari Indonesia -- aku menyadari bahwa Maura-lah yang membunuh Pak Hendrawan dan kemudian membakar ruangan hotel. Aku tidak ingat lagi detail-detailnya, sepertinya sudah membeku di dasar otak tanpa pernah aku sadari. Mungkin karena peristiwa tersebut begitu traumatis bagiku.

Tiba-tiba saja aku sudah berada di sini. Tiba-tiba saja aku tidak lagi memiliki keluarga. Tiba-tiba saja aku harus menjalani kehidupan baru sesuai keinginan terakhir Maura, aku menyadari bahwa Maura sudah mempersiapkan kehidupan baruku dengan begitu sempurna tanpa pernah aku mengetahui sejak kapan dia mempersiapkan semuanya. Dan tiba-tiba saja aku menjadi begitu terobsesi untuk mengumpulkan apapun, apapun yang bisa mengingatkanku dengan Maura, karena tidak ada satupun benda-benda milik Maura yang bisa aku bawa. Ada hasrat yang begitu kuat yang membuatku selalu ingin mengumpulkan semua hal yang bisa kuraih, yang dapat membuatku melepas rindu terhadap Maura.

Kamu harus hidup dengan jalan yang lebih baik. Jangan pernah terpikir untuk mengulang kehidupan lama, kecuali kamu sudah tidak menghargaiku sebagai kakak yang begitu menyayangimu. Jangan pernah mencoba untuk kembali ke Indonesia, jangan pernah. Kamu jangan khawatir akan kehilangan aku karena aku akan selalu ada dan mengawasimu, selamanya, mungkin tanpa pernah kamu menyadarinya.

Aku tidak tahu mana yang lebih benar, kenangan Maura atau udara dingin, yang membuatku sekarang terduduk di ruangan kenangan dan menangis histeris. Tangisan histeris pertama yang berhasil aku keluarkan sejak aku kehilangan Maura, selamanya. 

 

Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Skripsi Pasti Berlalu

Sampai jam segini saya belum juga tahu apa yang harus saya tulis mengenai tema #Jumatulis minggu ini; Hasrat. Dan saking kepalang pusing karena kerjaan untuk seminggu ke depan sudah keburu menumpuk, saya nggak punya kesempatan untuk mikirin tulisan apa yang bisa saya tulis hari ini juga sebelum berganti hari.

Aaaaand, thanks to teman lembur kerja saya yang akhirnya mengantarkan ide cerah dan cemerlang kepada saya setelah ngeluh ngobrol tentang masalah hidupnya yang lagi ramai-ramainya menghantui kepalanya: Skripsi. Terus, apa hubungannya sama hasrat?

Menurut KBBI daring, hasrat berarti keinginan (harapan) yang kuat. Bagi mahasiswa tingkat akhir, nggak ada hasrat lain selain lulus skripsi dan menyelesaikan pendidikannya. Lulus sidang adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Menyelesaikan skripsi adalah peperangan yang berat. Daaaan... revisi setelah sidang adalah sisa-sisa luka perang yang masih harus ditahan perihnya, berjuang sembuh, jarak paling akhir menuju kemerdekaan yang dinanti-nanti setelah bertahun-tahun menelan banyak teori di kelas.

"Gue sebel sama Dosen A. Semua yang disidang sama dia, disalahin habis-habisan. Direvisi sebanyak-banyaknya. Kok nggak menghargai apa yang udah gue buat, sih." Keluh teman kerja saya yang baru saja sidang kemarin. Sekarang, dia benar-benar kelelahan, kehabisan tenaga dan putus asa untuk mengerjakan revisi skripsinya yang katanya banyak banget.

"Yang penting kan udah lulus. Disabarin aja dulu, sebentaaar lagi. Habis ini pasti selesai kok. Masih mau selesain kan?" Tanyaku. Nggak tahu harus kasih kata-kata semangat kayak gimana lagi ke dia. Saya pernah tahu rasa beratnya.

"Ya, mau. Tapi udah capek banget rasanya. Sampai nggak tahu mau mulai dari mana. Nggak doyan makan, kerja nggak konsen, nggak ada semangatnya lagi. Udah habis, dijatuhin sama Dosen semua kemarin."

Ya, saya tahun lalu pun tahu rasanya menyelesaikan studi yang repot banget. Bedanya mungkin Dosen saya lebih fleksibel dan mudah ditemui, dan yang saya kerjakan baru Tugas Karya Akhir. Sedangkan yang dia kerjakan adalah Skripsi S1, dengan Dosen yang kaku dan susah banget dihubungi, dan (katanya) jahat. Hahaha. Jadi kepengin cerita deh pengalaman saya memenuhi hasrat lulus satu tahun yang lalu.

Saya kuliah di jurusan Periklanan vokasi di Jakarta Selatan. Semester akhir bagi saya adalah neraka. Nggak ada yang namanya tidur nyenyak, main dengan tenang, makan enak, semua kesenangan rasanya terhisap karena satu masalah ini: Tugas Karya Akhir. Saya diharuskan melakukan penelitian untuk mendukung proposal kampanye yang akan dibuat untuk sebuah brand. Setelah menempuh tiga bulan yang sangat berat, akhirnya diaturlah skejul sidang yang menegangkan. H-2 adalah hari yang paling nggak bisa saya lupakan. Tinggal sedikit lagi polesan untuk proposal TKA saya selesai, malah dianggap salah dan nggak bisa dibawa sidang. Kek apa woyyy stresnyaaaaa?!

Selama ini saya bimbingan dengan dosen pembimbing saya dengan baik, semua masukan saya dengarkan dan saya patuhi. Lalu, saya mau mecoba untuk meminta pencerahan dari KaProdi saya tentang apa yang membuat saya bingung, Beliau malah bilang bahwa karya saya nggak bisa dibawa sidang. Saya harus mengulang semuanya, sementara waktu dan kesempatan yang diberikan hanya satu bulan. Atau saya lebih baik mengulang di tahun selanjutnya. What the hell is going on?!

Dengan cara apa pun, saya berusaha mengutak-atik sendiri, curhat dengan pihak brand yang saya ambil studi kasusnya, meminta pertolongan ekstra ke dosen pembimbing untuk mengejar ketinggalan saya (yang seharusnya sudah sidang). Semuanya memang selesai. Saya lulus dengan nilai yang alhamdulillah cukup baik untuk menebus semua air mata dan kelelahan yang sudah habis-habisan. Saya cuma nggak mau berhenti di saat pintu tujuan sudah dekat. Saya mau lulus, bukan hanya karena saya menginginkan sebuah gelar di belakang nama saya, tapi karena sesuatu yang saya mulai harus saya selesaikan dengan segala pengetahuan yang sudah saya terima.

Tahu nggak, apa yang membuat saya memegang kuat segala hasrat itu? Ada banyak hal yang selalu menggantung di pikiran saya kalau saya hampir menyerah. Pertama, saya kuliah masih dibiayai sama orangtua, dan akan merasa bersalah kalau saya malas-malasan. Kedua, susah payah saya menemukan passion di dunia ini. Karena (sekali lagi saya tegaskan) saya masuk ke jurusan ini karena iseng dan penasaran, lalu merasa salah jurusan karena saya nggak ngerti apa pun yang mendasar tentang ilmu periklanan atau komunikasi. Setelah saya punya passion di sini, kenapa juga harus menyerah sebelum semuanya selesai?

Maka, sebenarnya passion bisa menuntun kamu ke jalan yang mampu kamu tempuh. Dengan hasrat yang kuat, apa pun yang berat kan pasti bisa lewat :))
Ayoook, semangat ah yang lagi nyelesain skripsi! Semua fase tuh pasti kita lewatin. Tapi kalau sambil ngeluh terus, semuanya pasti makin berat rasanya. Dan kalau kita udah ngelewatin semuanya, pasti drama-drama dan tangis yang pernah kita lakuin bakal jadi lelucon yang kita tertawakan di depan cermin. Betapa mahaberubahnya manusia di hadapan waktu...

Jumatulis Season 2 – 02 Hasrat – Bayi Kami

“Lihat tetangga baru kita, satu setengah tahun menikah, sudah dikaruniai anak.”
“Lantas bagaimana? Kau mau memilikinya?” ucapku sambil membolak-balik halaman koran minggu yang sedang ku baca.
“Tentu saja, dalam kehidupan rumah tangga, siapa yang tak menginginkan kehadiran seorang anak?” Istriku berkacak pinggang, melotot di hadapanku. “Kita sudah sepuluh tahun menikah, Sayang. Aku rasa sudah saatnya kita memiliki bayi.”
“Baiklah, kalau hasratmu untuk memiliki bayi memang sudah tak terbendung lagi, nanti malam kita coba.” Aku mengerling nakal kepada istriku, yang dibalasnya dengan senyuman manja dan sebuah kecupan di pipi kiriku.

***
“Kau benar-benar menginginkannya?” aku berbisik di kuping istriku. Malam telah larut, lampu telah padam, tetapi aku bisa melihatnya tersenyum sembari menganggukkan kepala.
“Baiklah, dalam hitungan ketiga...”
“Satu...”
“Dua...”
“Tiga!”
Sekuat tenaga aku membenamkan bantal pada wajah lelaki yang tengah terbaring itu, diikuti oleh istriku, pada perempuan yang tidur di sebelahnya. Lelaki itu tersentak dan mengejang, tangannya berusaha menggapai, yang kubalas dengan menekan bantal pada wajahnya lebih kuat. Butuh waktu sedikit lama membuatnya benar-benar tak bergerak.


Setelah memastikan kedua tetangga baru kami­­ tak lagi memberi perlawanan, istriku melangkah ke keranjang bayi, mengambil bayi itu dengan hati-hati agar tak terbangun, menciumnya perlahan sambil berbisik, “Sekarang kau anakku...”

Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Catatan hidupku

Waktu usiaku masih lima tahun, ibu pernah bercerita tentang kisahku yang saat itu setelah bermain di tanah kosong milik pemerintah, kemudian pulang sambil menangis kencang. Kata Ibu, saya bukan menangis kencang saja, tapi juga menjerit-jerit. Aku tidak ingat kejadian itu, tapi yang aku tahu, itu adalah awal dari semua yang aku alami hingga saat ini.

Ibu menuturkan, bahwa aku menangis sampai seminggu, hanya diam beberapa saat. Memeluk ibu dengan pegangan yang erat, bahkan tidak mau dilepas dari gendongan ibu. Beberapa kali ibu sempat memarahiku, karena kondisiku ini mengganggu pekerjaannya sebagai buruh di pasar. Tugas ibu adalah memisahkan cabai yang masih bagus dengan yang sudah busuk. Sementara kalau berada di dekat cabai, mata bisa berair karena pedas. Dan aku saat itu masih tidak mau melepas cengkramanku, hingga akhirnya ibu mencubit kakiku, tapi tetap saja aku tidak jera. Ada sesuatu yang membuatku ketakutan.

Setelah hampir menginjak seminggu, seorang tetangga yang mendengar jeritanku yang lagi-lagi terdengar memilukan, bertamu ke rumah. Bapakku sedang pergi, maklum sebagai kenek angkutan, bapak hanya pulang beberapa kali dalam sebulan. Tetangga kami itu, menyarankan pada Ibu untuk menemui Mbah Jarwo, paranormal terkenal di kampung kami.

Keesokan harinya, Ibu langsung berangkat menuju Desa Sumber Urip, tempat Mbah Jarwo membuka prakteknya. Banyak mobil yang mengantri di sana, kata Ibu. Memang, ketenaran indra ke-enam Mbah Jarwo terkenal sampai ke ibu kota Jakarta. Setelah mengantri hingga beberapa jam, sementara aku masih saja menangis. Hingga membuat wajah Ibu yang lelah bertambah lelah. Saat kemudian, kami berhasil masuk ke dalam ruangan yang berbau menyengat, Mbah Jarwo langsung memegang kepalaku dan menyembur wajahku.

Tidak ada yang aku ingat. Hanya saja, semenjak itu, aku terbiasa dengan sosok lain yang berada di sekitarku.

**
Kelas lima SD, aku melihat sosok gadis yang menggantung tepat di atas meja belajarku, saat pelajaran Agama Islam. Tidak ada yang melihat lagi, kakinya yang kotor bergelayut tepat di depan mataku. Ketika perlahan aku berusaha untuk melihat apa yang menggelayut, mataku tertuju pada matanya yang melotot, tangannya terkulai mengudara. Mata itu, menatapku kosong, pedih, sakit dan kejam.

**
Pernah juga, saat kelas dua SMP, hasrat untuk buang air di kamar mandi sekolah harus aku tahan hingga sampai di rumah. Ketika itu kami sedang mengikuti pelantikan anggota OSIS, yang memakan waktu hingga saat Magrib tiba. Ketika, aku benar-benar kebelet, dan saat hendak masuk ke dalam kamar mandi. Seorang ibu menggunakan kebaya berwarna hijau, dengan rambut di sanggul, wajah yang datar, putih dan pucat. Memanggilku, kemudian memarahiku untuk tidak masuk ke dalam kamar mandi.

Tubuhku merinding, kakiku bahkan berat untuk melangkah pergi. Seperti ada sesuatu yang membebani langkahku. Dan tidak lama sebelum azan Magrib berkumandang, terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi, dan kemudian bagai terkena angin kencang, pintu kamar mandi tertutup kencang.

Mereka ada dimana-mana, bahkan sering berada di sebelah kanan atau kirimu, menunggu untuk berbincang denganmu.

Tulisan ini diikutsertakan dalam #Jumatulis


Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Tips Menekan Hasrat Berbelanja Buku

Ada yang sering menimbun buku?
Tidak henti-hentinya membeli buku tetapi tidak memiliki waktu untuk segera membaca semuanya? Akhirnya membiarkan buku-buku tersebut menumpuk di rak buku – bagus jika memiliki rak buku, mungkin saja hanya ditumpuk di lantai atau di dalam kardus – masih terbungkus plastik dan bertahun-tahun hanya tergeletak berdebu tanpa membacanya. Dalam hati berdalih, demi membenarkan tindakan kalian, bahwa suatu saat buku itu pasti akan dibaca juga, atau buku yang dibeli itu sudah lama masuk dalam wishlist, atau takut jika buku itu akan hilang dari peredaran, atau demi perpustakaan pribadi impian.

Ada yang tidak lagi pernah membeli pakaian, tas, sepatu, maupun alat makeup karena seluruh uang bulanannya, gajinya, habis untuk membeli buku?
Pakaian, tas, dan sepatu yang dikenakan sudah kumal, tubuh (apalagi wajah dan rambut) cu’mala’ (dekil) karena tidak mendapatkan perawatan. Hayooo siapa?!! Kamar pun menjadi sesak karena buku-buku yang bertimbunan.
Gambar di ambil di sini

Ada yang berjanji di dalam hati akan puasa membeli buku tetapi ketika melihat daftar buku atau diskonan di sebuah toko buku langsung kalap berbelanja?
Ada! Pasti Ada! Saya salah satunya ._____________. #ehh

Ia saya sendiri sangat susah meredakan hasrat untuk berbelanja itu. Godaannya datang dari mana saja, membuat saya membeli buku dan terus membeli buku, padahal tumpukan buku-buku yang belum sempat dibaca terus menggunung. Sulit si karena saya memang selain suka membaca juga mengoleksi buku dan punya keinginan memiliki perpustakaan pribadi. Syukur-syukur perpustakaannya seperti punya Elinor Loredan, lebih bagus lagi jika seperti di bibbi boken ^O^ Hohoho.... serasa surga deh!!! Ehhh... ini topik udah melenceng ya. Okesip mari kita lanjut!

Untuk itu saya ingin berbagi sedikit tips yang berasal dari pengalaman saya sendiri, semoga tips ini bermanfaat dan dapat  menekan –sukur-sukur meredakan – hasrat berbelanja buku kalian...(ecieeee bahasaku! Hahahaha)

1. Jangan mampir ke toko buku! (baik fisik apalagi online)


Lah ia, niatnya mau puasa berbelanja buku tapi setiap keluar rumah mampir ke toko buku. Katanya sudah berbelanja terlalu banyak buku di bulan ini, tapi tiap hari kerjanya ngecek katalog buku di toko buku online. Gimana tidak tergoda untuk belanja dan terus berbelanja lagi jika seperti itu?!!

Ia si teorinya emang gampang banget, prakteknya itu yang susah. Rasanya memang ada yang kurang dan tidak lengkap saat keluar rumah, apalagi jika ke moll, dan tidak mampir ke toko buku. Tangan ini rasanya gatal dan gemasnya bukan main setiap melihat updatean buku terbaru yang dijual di toko buku online, inginnya langsung ngeklik dan plototin daftar bukunya lalu booked ini-itu. Ia saya tahu, itu pun saya alami. Maka dari itu perkuat tekad dulu!!! Eh harusnya perkuat tekad jadi poin pertama ya?!! Hahaha... Next~

2. Kurangi membuka media sosial! Kalau perlu selama masa puasa itu jangan membuka media     sosial.


Tau deh media sosial saat ini marak dengan toko online, toko buku online pun bertebaran tidak hanya di facebook dan twitter, tapi kini juga telah merambah di whatsapp dan instagram. Belum lagi ada teman yang hobinya pamer buku yang baru saja ia beli (siapa itu??? Siapa itu??? SIAPA ITU??? *lirik sinis*). Ada juga yang begitu baiknya mengabarkan diskon di toko ini dan itu dan bersedia dititip... ITU SANGAT MERONTOKKAN TEKAD KAWAN!!! Hufttt... eh ini tips atau curhat ya?!! Hihihi

3. JANGAN PUNYA UANG!


Nah tips terakhir ini yang paling ampuh buat saya ._.
Setergoda apapun kamu, sehancur lebur apa pun tekad mu, jika kau tidak punya uang, niscaya kau tidak akan berbelanja buku lagi. Okesip!

Semacam inilah muka bengong saya di depan toko buku pas tidak punya uang ._. btw gambar diambil di sini

Sekian tips saya di hari Jumat yang cerah ini, semoga bermanfaat bagi kalian duhai pembaca setia blog ini ^O^ Hwahahahah...




Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Belum ada judul


kali ini sayah ngepost puisi tentang cinta, topik yang ga pernah mati, dari awal penciptaan, sampai nanti kiamat. selalu ada cerita tentang cinta, yang entah itu ada sakit, ada luka, ada senang, ada sayang, dan ada hasrat, juga khianat..
ahahahahha, keren ye bahasa di atas,.
hmmm.. silakan dicaci maki..

"..... "

hasratnya bergejolak
dia jatuh cinta pada wanita indah.
tapi,
sayangnya,
sang wanita indah tak mengindahkannya.

dia mengharap kebersamaan,
penerimaan, sedikit.
mungkin sekian menit.
tak harus juga setiap hari,
mungkin satu dalam beberapa hari sekali.
atau pula minggu.
agar bisa memadu seperti kekasih baru.

dia berharap, karena tahu.
sang wanita indah juga punya hasrat rasa.
dan semakin wanita indah menyembunyikannya,
semakin semuanya terlihat nyata.
lewat tulisan, tutur ucapan dan juga,
sekian banyak pencarian.

dia mencintai,
wanita indah tak mau mengakui.
hasrat ini, mungkin tak bisa saling memiliki..


@sayah_ian 27 September 2014



yepp.. ini posting jumatulis season 2 yang kedua dengan tema "hasrat", sayah sudahhh, untunglah tema yang ini ga seribet tema yang kemaren..
oh iya, sekiranya ada yang mau berbaik hati untuk ngasih judul ke tulisan bodoh sayah di atas sayah akan sangat berterima kasih..


salam berantakan..~~




Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat ~ Surat Batal Kawin

Sutinah seorang janda kaya yang ditinggal mati suaminya, ia memiliki satu anak, tinggal di Jakarta.
Sutinah ingin menikah lagi. Hasratnya yang terpendam bertahun-tahun lamanya.

        "Mas, cepat nikahin aku," ujar Sutinah. "Mas, tak perlu berpikir uangnya dari mana."

       "Ia sayang, aku akan menikahimu, tapi dengan hasil keringatku sendiri, aku akan usaha di Jakarta."

                   * * *

Jepri kekasih Sutinah pun pergi ke esok harinya. Dengan membawa sejumlah uang dan perhiasan yang ia minta ke Sutinah. Sutinah memberikannya semalam, selepas berzinah, katanya untuk modal usaha.

                  * * *

Di Jakarta.

Jepri tidak seperti yang dibayangkan Sutinah. Jepri ke Jakarta bukan untuk usaha, melainkan menemui Dona; kekasihnya.

    "Dona, bilang pada orang tuamu, aku akan melamarmu, lusa." Ujar Jepri.

Awalnya Dona kaget mendengar kata-kata Jepri, namun setelah Jepri meyakinkan dengan sejumlah uang, akhirnya Donapun percaya.

Keesokan harinya Jepri berniat menemui Dona, namun ia tak mendapati apapun. Ponselnya nonaktif. Ia merasa ditipu: karna uang dan perhiasannya habis semua diberikan kepada Dona.
Kemudian  pemilik kontrakan keluar dari balik pintu. Ia memberikan sepucuk surat dari Dona.

Mas, jangan kaget membaca isi surat ini
Uang dan sejumlah perhiasan yang kau berikan telah aku kembalikan kepada pemiliknya.
Aku tak ingin menikah dengan lelaki sepertimu.

Apa kau tau, mas?
Aku ini anak seorang janda yang hartanya kau rampas, kau telah membohongiku juga orang tuaku. Aku tak mau menikah denganmu, dan tak sudi menjadi anak tirimu.

Sekian.

Segala apa yang kau miliki hanyalah titipan, kelak semua akan kembali kepada-NYA.

Tulisan ini diikut sertakan dalam #Jumatulis Season 2 dengan tema Hasrat

Jumatulis Season 2 -POP Sebab Aku Mencintaimu.

Sebab Aku
Mencintaimu

Sebab aku mencintaimu
aku berbincang dengan kepulan
asap batang nyala api,
menciptakanmu di tiap
hembusan sunyi

Sebab aku mencintaimu.....
saat lagu POP favoritmu yg tak
pernah kusuka terputar di radio
HP-ku, telinga dan hatikupun
menikmatinya

Sebab aku mencintaimu....
aku rela menunggu walau kau
tak pernah memperdulikan aku

Sebab aku mencintaimu.......
Mampu menepis terjangnya
badai rindu yang kian hari kian
menerkamku

Sebab aku mencintaimu.....
ialah tanpa sebab kecuali
akibat yang membuatku
semakin terpikat.




Tulisan ini sebagai hukuman telat ngepost.