Friday, September 19, 2014

Jumatulis Season 1 - 06 Kumis, Kopi, Indera, Roda, Bunting - Wishy Washy Marifah

Oleh:



"Aih abang... Sudah pulang... Itu kumis abang rimbun ya..."

Marifah menyunggingkan senyum saat melihat suaminya pulang ke rumah, setelah pergi dinas di luar kota selama dua minggu. Sore itu, dia tidak menyangka jika suaminya akan pulang lebih awal. Menurut pembicaraan mereka pagi tadi, suaminya baru akan sampai kembali ke rumah besok malam. Ternyata oh ternyata, Marifah sengaja diberikan kejutan.

Dengan cekatan, Marifah menyajikan kopi panas kesukaan suami kesayangan -- yang disebutnya sebagai abang itu. Mereka baru menikah dua bulan yang lalu, masih saling beradaptasi dengan pasangan, dan masih saling mengenali kebiasaan masing-masing.

"Bang, kamu mau langsung mandi atau gimana?"

Abang tersenyum dan membalas, "Abang mau duduk-duduk dulu, capek..."

Segera saja abang menyeruput kopi panas dengan nikmat. Hidungnya menyecap wangi kopi yang begitu semerbak, wangi kesukaannya. Matanya terpejam dan senyuman tersungging dari bibirnya, dia begitu menyukai racikan kopi buatan Marifah.

Dengan lembut, Marifah memijat lembut bahu suaminya. Seluruh indera di tubuh abang rasanya luluh lantak setelah melakukan tugas fulltime nyaris tanpa istirahat selama dua minggu, ditambah pula dengan menempuh perjalanan panjang karena pesawat sempat transit beberapa kali saat menempuh rute Papua-Jakarta. Pijatan lembut, lebih tepatnya sentuhan lembut dan perhatian dari Marifah dirasakan abang sebagai makanan nikmat untuk mengembalikan fungsi indera tubuhnya supaya kembali normal.

"Enak..."
"Abang mau tambah kopinya? Aku buat lagi ya..."

Abang mengangguk.

Marifah kembali ke dapur untuk membuatkan kopi gelas kedua. Dia juga mengambil potongan kue dari dalam lemari pendingin, Marifah baru ingat kalau tadi siang dia sempat membeli brownies panggang dengan coklat yang meleleh -- kesukaan abang.

Saat kembali, Marifah melihat abang masih memejamkan mata.

"Bang..."
"Iya..."
"Aku pijit lagi yaa..."

Marifah sebenarnya tidak pandai memijat, tetapi dia terus belajar supaya bisa memberikan pijatan lembut. 

Cita-cita Marifah sejak dulu adalah menjadi isteri yang baik bagi suaminya. Ketika bertemu abang dan akhirnya berpacaran selama enam bulan dengan abang, Marifah sudah memantapkan hati untuk menjadi isteri yang tidak mengecewakan abang. Ketika dilamar, meskipun baru berpacaran enam bulan, Marifah tidak ragu untuk mengiyakan ajakan abang.

Abang merupakan seorang pekerja keras, Marifah tahu persis sifat suaminya yang ini. Abang berasal dari keluarga yang kurang mampu, tetapi dia tidak pernah merasa minder. Abang selalu membuktikan dirinya layak untuk dipertimbangkan oleh banyak orang dengan cara terus meningkatkan potensi dirinya. Secara akademik, abang selalu juara. Secara kemampuan, abang dikenal sebagai orang yang serba bisa.

Abang pernah bercerita kepada Marifah, dulu sekali, saat mereka baru berkenalan. Abang belajar dari orang tuanya, untuk selalu mementingkan pendidikan. Sesulit apapun usaha untuk mendapatkan uang, selama itu untuk pendidikan maka akan terus dikejar. Tentunya dengan cara yang baik.

"Roda kehidupan itu akan selalu berputar. Kita tidak akan tahu kapan ada di atas, kapan ada di bawah. Yang terpenting, kita memiliki modal untuk menghadapi itu. Salah satunya lewat pendidikan, kita belajar supaya mampu bertahan hidup. Lewat apa saja, kita bisa belajar dari mana saja." begitu kata abang mengenang wejangan dari almarhum Bapak dan Ibunya.

Kehidupan Marifah jauh lebih baik. Keluarganya bukan dari keluarga kaya raya, namun semua kebutuhan Marifah selalu terpenuhi. Tidak pernah sekali pun orangtua Marifah gagal dalam memenuhi keinginan Marifah. Ini membuat Marifah cenderung manja. Inilah yang membuat Marifah begitu terpukau pada sosok abang. Baginya, abang sungguh berbeda dengan dirinya dan ini membuat Marifah merasa terlindungi saat bersama abang.

Selain itu, Marifah juga tidak terbiasa untuk mengungkapkan apapun secara terbuka. Ajaran orang tuanya dulu menjadikan Marifah sebagai orang yang tidak blak-blakan. Berbeda sekali dengan abang. Hal ini yang masih menjadi salah satu proses adaptasi mereka sampai sekarang.

"Dek..." masih sambil terpejam dan dipijati, abang memanggil Marifah lembut.

"Iya bang..."
"Kamu sudah kenal abang berapa lama?"

Marifah bingung dengan pertanyaan abang.

"Hmm... delapan sampai sembilan bulan lah kira-kira bang..."

"Itu kalau kamu hamil, berarti kita bersiap-siap untuk segera punya anak ya. Mungkin kita sekarang ini lagi sibuk persiapan kamu melahirkan, mencari rumah sakit terdekat dan menghubungi keluarga kamu supaya bersiap untuk menemani kamu persalinan."

Marifah semakin bingung.

"Kamu bingung ya?"
"Hehe, iya bang..."

"Dek..."
"Iya..."

"Sembilan bulan itu bukan waktu yang sebentar kan ya?" kali ini abang membuka matanya. Dia menarik tangan Marifah dan mengisyaratkan supaya Marifah duduk di sebelahnya. 

"Kamu tahu kan kalau aku lebih suka kamu berbicara secara terbuka? Kita sudah kenal selama sembilan bulan, bukan waktu yang benar-benar sedikit untuk bisa saling mengenal lho."

Marifah jadi terpikirkan sesuatu. Jika suaminya ini mulai berbicara dengan begitu formal, artinya ada yang akan dia bahas. 

Tapi, apa?

"Iya bang..." Marifah menjawab sambil terus berpikir ke mana arah pembicaraan abang.

"Sejak kapan kamu suka kalau abang berkumis?"

Oh!
Marifah tersenyum serba salah.

"Hehe..."
"Ya abang sih memang selalu ganteng..."
"Huu..." rajuk Marifah, manja.

"Sekarang coba kamu bilang lebih jujur tentang kumis abang." pinta abang kepada Marifah. "Kamu bilang aja terus terang, blak-blakan." lanjutnya.

"Iya..."
"Apa?"

"Kamu tidak perlu bilang abang ganteng saat berkumis, kalau kamu sendiri tidak suka abang berkumis."

Jujur saja, kali ini memang Marifah kebingungan. Dulu sekali, saat baru berkenalan, Marifah memang pernah menyampaikan kalau dirinya tidak suka melihat laki-laki berkumis. Sejak saat itu, tidak pernah sekali pun abang terlihat berkumis di depannya. Jadi, dia memang sedikit kaget dengan penampilan abang kali ini.

"Abang tidak bawa alat cukur kumis, Dek. Makanya selama di Papua abang tidak pernah bercukur. Malas juga meminjam punya orang, itu kan alat cukur, bukan sabun mandi cair. Bahaya kalau pakai punya orang yang kita tidak kenal baik. Lagian, capek banget. Masih untung abang masih ingat mandi hahaha..." jelas abang seolah dapat membaca pikiran Marifah.

Hoh!
Jadi itu penyebabnya.

"Jadi..."
"Apa bang?"
"Apa yang mau kamu bilang sebenarnya?"
"Hehe... Bang, itu kumisnya dicukur aja!"
"Kenapa?"
"Aku baru mau beneran bilang abang ganteng kalau kumisnya dicukur!"

Abang mengacak rambut Marifah dengan gemas, "Nah, gitu dong. Ngomong sesuai yang kamu mau bilang ke abang..."

"Eh iya, bang...."
"Yaa..."
"Aku mau beli gorengan, pengen banget tahu bunting (*)."
"Hahaha... iya. Nanti kita beli yaa. Sekarang abang mau mandi dulu, terus siap-siap shalat. Nah, baru deh kita ke luar bareng untuk beli gorengan di tempat biasa. Oke?"

Marifah tersenyum lebar sekali.


(*)
Tahu bunting = tahu isi.


***


Special Note

Tulisan ini dibuat saat mengingat cerita Mrs. Wishy Washy karya Joy Cowley.



Mrs. Wishy Washy diceritakan mempunyai empat aturan utama, yaitu:
  1. be clean - bersih
  2. be neat - rapi/teratur
  3. look tidy - terlihat rapi
  4. smell sweet - wangi
Sayangnya...

Sampai saat ini, saya belum pernah melihat buku anak Mrs. Wishy Washy ada di toko buku manapun yang pernah saya datangi. Baik itu di toko buku besar maupun lapak kecil, toko buku yang menjual buku baru maupun bekas. Mentok di ebook saja...

Mungkin saya yang kurang gaul yes cyiiin~

Dan demi melihat betapa blangsakannya kondisi kamar kos saat ini, i'm definitely in need of help of Mrs. Wishy Washy A LOT!!!

Hahahaha...

Okek.

Salah satu kisah Mrs. Wishy Washy pernah saya tulis review-nya di sini. Sila mampir, hehe.

Wishy washy sendiri merupakan istilah untuk sesuatu yang bersifat (1) tipis dan berair, misalnya sup; serta hambar, atau (2) idiom untuk menggambarkan sesuatu yang kurang berkarakter, tidak bertujuan, tidak efektif, dan tidak berdaya juang atau tidak berkemauan keras.

Dengan kata lain, wishy washy sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang yang perilaku atau ucapannya hanya berupa omong kosong atau basa basi (busuk). 

Gambaran ini tentu berbeda dengan karakter Mrs. Wishy Washy di dalam buku anak karya Joy Cowley di atas.

Mhehehe~

Nah, penggambaran tentang wishy washy dalam makna sebenarnya inilah yang saya coba adaptasi ke dalam #Jumatulis ke-6 ini.

0 comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar sesuka hati! :)