Friday, November 7, 2014

Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Satu Mimpi, Satu Tampungan

2003

Aku percaya, setiap mimpi punya langkahnya sendiri di bawah pijakanku. Tak hanya perlu digantung di atas sana. Setinggi apa pun mimpi, ia harus membuatku selalu membumi. Dan di bawah kaki ini, mimpi itu terasa lebih dekat. Di atas sana, mimpi itu terasa lebih nyata.

Sepuluh tahun yang lalu, kita bertiga punya mimpi yang sama di tanah ini. Di tanah yang tetap sama, baik mata maupun rasa. "Kamu menggantung mimpi di atas sana," kataku sambil menatap langit, "dan aku menanamnya di sini," lanjutku sambil mengusap tanah.

"Mimpiku di mana?" Tanya Nela dengan tatapan polosnya.

"Di sini, di depan matamu. Supaya setiap arah yang kamu lihat, semakin dekat dengan mimpi kita." Jawabku sambil menggenggam tangan kedua sahabatku. Nela dan Dewi. Kita bertiga tersenyum, seakan telah mengenal dengan baik tentang kehidupan. Kehidupan yang selalu berubah menjadi kejutan. Kehidupan yang punya arah tersebar, tak selalu lurus. Dan kita masih terlalu kecil untuk mengenal sebuah mimpi besar.

Tapi mimpi kita tak pernah terlalu kecil untuk sepuluh tahun yang mengalir.


***


2013

Aku mulai menggali tanah kecil yang ada di bawah pohon ini sendirian. Menemukan sebuah botol usang dengan beberapa carik kertas di dalamnya. Seharusnya, dua jam yang lalu kita bertiga sudah bertemu di sini. Tapi hanya ada aku, dan kenangan masa lalu.

"Kalau nggak ada kabar lagi dari kita bertiga, ingat saja 10 Oktober jam dua siang di sini, sepuluh tahun lagi. Janji?" Kedua temanku hanya punya senyum untuk menjawab pertanyaanku. Kelingking kita bertiga saling bertautan.

Dan beberapa menit kemudian, aku menyeka air mata yang ternyata ikut menemaniku di sini. Mengenang Dewi dan Nela yang tak juga datang kabarnya. Aku membuka botol itu sendirian.

Di mulai dari kertas Nela.
Kalau sepuluh tahun lagi aku tak ada di sini, percayalah. Aku sedang mengumpulkan uang untuk membangun mimpi kita bertiga. Tunggu aku dua tahun lagi di sini, dan mari bicarakan hal yang tertunda. Maafkan aku...

Lalu kertasku. Sejujurnya aku tak tahu harus menulis apa. Kita sama-sama sudah tahu mimpi kita, tapi aku belum tahu apa yang bisa kuberikan untuk kita bertiga suatu saat nanti.
Jika sepuluh tahun lagi, tanah ini sudah bukan menjadi tempat kita, aku pastikan bahwa kita masih punya tempat lain untuk membangun mimpi kita. Gundulkan kepalaku jika sepuluh tahun lagi kita tak punya tempat pengganti! Haha!

Sejenak aku bersyukur. Pertama, tanah ini masih tetap menjadi tanah kosong tempat kita bertiga bermimpi. Kedua, berarti aku tak khawatir dengan sumpah gundulku, karena belum menemukan tempat baru.

Lalu terakhir kertas Dewi. Tulisannya cukup panjang.
Aku pastikan sepuluh tahun lagi aku akan tiba. Tapi jika tidak, aku titipkan beberapa resep untuk kau pelajari. Karena mungkin aku tak lagi bisa membantumu di dunia ini.

Dan beberapa resep makanan telah ia tuliskan dengan jelas. Pertanda bahwa ia sendiri tak yakin, sepuluh tahun sejak ia menulis, ia masih bisa datang ke sini hidup-hidup.


***


Jantungku berdebar kencang. Tak kuat mendengar Bu Maya menangis sambil mendekap foto Dewi, anak tunggalnya, sepuluh tahun yang lalu. "Kanker tulang menyerangnya sepuluh tahun yang lalu. Entah setelah atau sebelum kalian punya sumpah di botol ini. Yang jelas, setelah itu Dewi tak pernah berhenti mengingatkanku untuk datang menemui kalian di sini tanggal 10 Oktober jam dua siang." Paparnya terbata-bata.

Dan aku tahu, aku harus bisa belajar memasak sekarang. Karena mimpi kita harus tetap hidup, meskipun salah satu dari kita telah mati.

Dan salah satunya lagi masih entah di mana...





Lights go down
In the moment we're lost and found
I just want to be by your side
If these wings could fly

Damn these walls
In the moment we're ten feet tall
And how you told me after it all
We'd remember tonight
For the rest of our lives
(Birdy - Wings)

Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Botol Itu Tidak Ada

Tidak Ada!
Botol itu telah hilang, dan waktu yang tersisa hanya empat menit lagi.
Semua menghilang, bahkan botol yang didalamnya terdapat hiasan kapal laut kecil itu pun perlahan wujudnya lenyap dari dalam pikiran saya.

Tidak ada yang tersisa. Botol itu telah hilang.
Dan waktu telah selesai.

Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Lembar Kenangan di Tepi Kerinduan

Oleh:


14 Maret 2002

Ingat satu hal, di sini kita bermula dan di sini kita mengikat sebuah janji. Peganglah janji tersebut. Jangan pernah melepaskan, apalagi membuang. Inilah satu bukti dari sebuah proses yang kita jalani. 

Mungkin kita masih terlalu muda untuk menyatakan bahwa hari ini adalah hari di mana kita menyongsong masa depan bersama. Mungkin pula kita masih diliputi euforia akan sebuah kesempatan untuk melaju dalam kebahagiaan. Tetapi, ingatlah lagi, sayang... Kita telah memulainya, tepat di hari ini, di tanggal ini. 

Melaju-lah, percayakan pada kemampuan kita untuk menjalaninya. Melangkah-lah, dan kita hadapi bersama apapun yang akan kita lewati nantinya.

Percaya satu hal, aku mencintaimu.


20 April 2003

Aku menyadarinya, sayang, kau sedang marah kepadaku. Terus terang saja, aku bingung dengan segala sikap yang kau tunjukkan. Ini bukan sekadar marah, ini bukan perkara kesal. Aku memarahimu bukan karena aku tidak lagi mencintaimu.

Jika ada sebuah benda yang dapat aku berikan untuk membuatmu bahagia, katakanlah. Jika ada keinginan yang harus aku patuhi untuk membuatmu lebih memahami maksudnya, katakanlah. Jangan diam, karena aku tidak akan pernah mengerti keinginanmu. Jangan pula pergi dari rumah, karena aku tidak ingin berjauhan darimu.

Aku menegurmu, mempermasalahkan kebiasaanmu, bukan berarti aku tidak lagi menyayangimu. Aku memukul meja ketika kesal kepadamu, bukan berarti aku tidak lagi menginginkanmu. Ingat janji bersama kita, sayang.

***

Aimee membuka lagi lembaran di dalam botol yang menjadi botol kenangan bagi dia dan kekasinya. Semuanya lembaran lama, yang bahkan ada yang sudah berusia 12 tahun. Sekitar 1/3 dari usianya saat ini.

Ada rasa hangat yang menyeruak di dalam hatinya, ada rasa rindu yang melingkupi hatinya. Ada pula keraguan untuk memilih; mempertahankan atau melepaskan. Jika ia memilih mempertahankan, maka ia melepas kesempatan baru. Artinya pula, orang-orang terdekatnya mungkin akan merasakan kekecewaan. Rasa kecewa yang menyelimutinya semenjak ia memilih menyimpan kenangannya bersama Nandhito, laki-laki yang dengan berat hati harus dilepas selamanya sekitar 11 tahun yang lalu. Namun, apa mungkin ia siap melepas Nandhito kembali, untuk kedua kalinya, selamanya?

Dengan hati-hati, Aimee mengusap lembaran kedua. Ingatannya melayang ke kejadian lebih dari 11 tahun yang lalu, ketika ia memilih menghindari Nandhito. Jika ia dapat memutar waktu, ingin rasanya Aimee kembali ke masa itu dan memperbaiki keadaannya. Jika ia dapat kembali ke masa itu, akan ditahan semua keegoisan dirinya. Tidak akan pernah ia membiarkan Nandhito pergi dalam keadaan sakit dan di tengah hujan deras. Tidak akan pernah. Jika ia dapat memiliki kesempatan untuk mengubah semuanya, akan diredamnya semua kemarahan. Mungkin, dengan begitu, ia tidak akan pernah kehilangan Nandhito. Tidak akan pernah.

Hari ini, di perayaan 11 tahun kematian Nandhito, Aimee kembali mengurung diri di kamar. Kerinduannya begitu sulit untuk dibendung meski seberapa banyak air mata telah ia keluarkan untuk menghalau kerinduan tersebut. Tidak ada satu orang pun yang menyalahi Aimee atas kejadian yang menimpa Nandhito, meski semua tahu bahwa Nandhito pergi karena ingin menuruti keinginan Aimee; demi membuat Aimee kembali senang dan tidak lagi marah kepadanya. Justru itu, justru hal itulah yang membuat Aimee dirongrong rasa bersalah seumur hidup. 

Hari ini, di perayaan 11 tahun kematian Nandhito, Aimee kembali harus mengambil keputusan; mempertahankan kenangannya akan Nandhito, atau melepaskan kenangannya bersama Nandhito dan melangkah menuju kehidupan baru bersama laki-laki baru. Keputusan yang harus segera ia ambil, mengingat laki-laki tersebut dan keluarganya sedang berada di dalam perjalanan ke rumahnya, untuk melamarnya.



Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Botol-botol Kaca Gadis Kecil

7 botol kaca berjejer rapi di rak buku Gadis Kecil:
1 botol tempat ia menyimpan kenangan tentang bundanya,
1 botol tempat ia menyimpan kenangan tentang ayahnya,
1 botol berisikan mimpi-mimpinya,
1 botol menyimpan kesalahan-kesalahannya,
1 botol memuat kisah petualangannya,
1 botol berisi pernak-pernik remeh-temeh, tanda mata dari kesehariannya,
Dan 1 botol ia biarkan kosong, untuk Perempuan Itu.


Kadang Gadis Kecil mengamati botol-botol tersebut; jika ia merasa rindu, kangen, ingin mengambil energi positif dan belajar dari kesalahannya... Saat-saat itu ia merasa seperti Dumbledore yang mengamati kenangannya dari baskom batu pensieve atau Raksasa baik hati BGF yang sedang meracik mimpi untuk anak-anak. 

Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Tempat Makhluk Bernama Sedih

Seandainya kesedihan yang ia rasakan dapat dimasukkan ke dalam botol, Perempuan Itu akan mengeluarkan berliter-liter perasaan itu dari tubuhnya; melalui mulut, hidung, mata, dubur, saluran kencing, dan dari seluruh pori-pori kulitnya. Ia akan menampung semuanya dalam botol, berusaha tak ada setitik pun yang tercecer mengotori lantai, dan kemudian menutupnya rapat-rapat. Setelah itu ia akan membasuh seluruh tubuhnya... dan melupakan semuanya...

Seandainya semudah itu. Maka hidup Perempuan Itu akan jauh lebih enteng.

Tapi nyatanya hidup tidak pernah semudah itu. Meski berapakali pun muntah, kencing, berak, hingga mandi junub dan mandi kembang tujuh rupa, kesedihan itu tetap ada.

Ada kesedihan yang tak bisa, mungkin tak mau, beranjak dari dirinya. Ia serupa benalu yang mengisap sari-sari kehidupan dari inangnya, yang kebetulan adalah dia.

Pernah Perempuan Itu meyakini, kesedihan itu sesosok makhluk yang menggentayanginya. Dengan suatu cara, ia dapat menyingkirkan makhluk itu dari hidupnya, memasukkannya dalam botol mungkin... lalu membuanya ke laut. Membiarkan ombak membawa jauh botol itu, lebih baik lagi jika ia tenggelam ke dasar samudra terdalam dan tak ada cara untuknya kembali ke permukaan. Dia ngeri membayangkan akan ada seseorang yang menemukan botol tersebut dan membukanya. Seperti kisah seribu satu malam, hanya saja yang keluar dari botol itu bukan jin yang akan mengabulkan tiga permintaanmu, tetapi makhluk yang akan menggentayangimu, menempel di pundakmu, dan memberimu banyak kesedihan.

Mungkin hal itu yang terjadi padanya?
Sewaktu kecil, saat-saat ia tertarik pada petualangan, rahasia, dan obsesi menemukan harta karun, mungkinkah dia menemukan botol yang berisikan makhluk itu dan membukanya? Sehingga hidupnya menjadi seperti saat ini? Bukankah dia dulunya anak yang bahagia?

Seandainya jantung yang berdetak di dadanya ini – tempat yang ia duga bersemayamnya sang makhluk – bisa ia cabut kemudian dicuci bersih... jika tak dapat di cuci juga tak mengapa, ia hanya perlu menyimpan jantungnya itu, di savety box bank misalnya atau di lemari besi yang akan dia tanam di halaman rumahnya, dan membiarkan dadanya kosong.

Sayangnya hidup tidak semudah itu...

Dia harus menanggung dan bersahabat dengan kesedihan itu hingga...

KAPAN?!!


#Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Tali bantal guling

Ani menjinjing plastik berwarna putih, berisi belanjaan dari daftar di secarik kertas dengan tulisan miring ala abad 19. Ibu meminta tolong sebelum maghrib tadi untuk belanja ke supermarket yang sebenarnya letaknya tidak jauh dari rumah. Tapi Ani tadi lupa, setelah lama mengobrol bersama teman satu kelasnya di SDN 01 PAGI. Mereka sama-sama kelas 5 SD, berbincang lama dan serius membahas masalah arisan.

Jadi, justru ketika azan berkumandang, barulah Ani sadar, dia harus segera pulang. Mungkin kalau sang muazin tengah berbai hati pada Ani, rasanya azan tak mungkin berkumandang, demi membiarkan Ani bisa mengobrol dengan temannya.

Sadar karena pulang telat dan azan masih terdengar, Ani memutuskan untuk memotong jalan lewat kampung kuburan. Benar, kuburan yang luasnya seperti satu kampung ini sering dijadikan sebagai jalanan untuk memotong jalan bagi orang yang terburu-buru, sama seperti Ani.
Sebenarnya ada tulisan pengumuman yang melarang melewati kampung kuburan ketika azan berkumandang. Maksudnya memang baik, kuncen kampung kuburan ingin orang segera ke masjid untuk solat saat azan. Tapi tidak ada yang menyangka kalau ada banyak kisah yang terjadi tanpa bisa diceritakan.

Ani bergegas melangkah dengan kaki jenjangnya, kata ibunya dia bisa tinggi karena sering main lompat karet. Suasana hening dan malam segera turun. Jalan di kampung kuburan hanya diterangi oleh cahaya lampu bohlam berwarna kuning, cukup untuk menuntun ke arah jalan keluar. Walau tidak menjamin akan terlindung dari bebatuan serta pecahan kaca atau paku sekalipun.

Sampai di tengah perjalanan, Ani merasa ada bunyi gemerisik, kepalanya menoleh ke belakang. Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang akan membuatnya takut. Ani memang bukan penakut, dia sangat berani, bahkan katanya dia pernah menangkap tuyul.

Tiba-tiba saat melangkah baru saja dua langkah setelah berhenti sejenak tadi, kakinya tak dapat bergerak. Ada yang memegang kakinya, saat melihat ke bawah, dua tangan dewasa mencekal mata kakinya. Saat melihat ke bawah kemudian ke balik tubuhnya, ada sosok yang tubuhnya setengah berada di atas tanah dan setengahnya lagi masih menyembul dari tanah kuburan. Ani tidak berteriak, karena dia kebingungan, entah ingin takut atau ingin pipis.

Ani terjatuh, kakinya masih dipegang dengan kencang, mata orang itu tertutup kapas, hidungnya juga ada kapas, tali pada kain kafannya masih terikat hingga bentuknya menyerupai bantal guling. Berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan itu, sampai tanah berwarna merah menyebar ke segala arah, ada suara erangan dari bibir sosok bantal guling itu.

Dengan ide cemerlangnya, Ani mengambil BOTOL dari dalam kantung plastik belanjaannya, kemudian berkali-kali memukul tangan sosok penghuni baru kuburan. Terus menerus, lagi dan lagi, sampai akhirnya tenaga Ani hampir habis, tapi kakinya masih dipegang. Ani tidak kuat lagi, dia lupa untuk berteriak minta tolong, padahal tadi ada sepeda motor yang lewat di jalanan umum.

Tanpa berpikir panjang lagi, Ani mendekati sosok itu, walaupun jantungnya berdegup kencang, entah karena takut atau karena bau sangit dari sosok ini. Kemudian Ani menarik tali yang mengikat di atas kepala makhluk itu. Dan kemudian, secepat embusan angin, makhluk itu tiba-tiba sudah masuk kembali ke dalam tanah yang masih merah. Ada lubang menganga di situ, talinya masih berada di genggaman Ani.

Ani mengintip dan mata makhluk itu terbelalak menatap langit malam yang penuh bintang. 
Sampai di rumah, ibunya sudah menunggu di depan pintu. Mengomelinya karena pulang terlambat. Saat menanyakan kenapa Ani pulang lama sekali, begini jawabannya :

"Bu, tadi di kampung kuburan ada yang bentuknya seperti guling, kemudian punya tangan dan menjeratku. Setelah aku ambil ikatannya, dia langsung masuk ke dalam tanah. Itu apa ya bu?"

Tanpa bisa menjawab pertanyaan Ani, sang Ibu langsung jatuh tak sadarkan diri.

*****
Tulisan ini diikutsertakan dalam #Jumatulis dengan tema : BOTOL.

Friday, October 31, 2014

Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Catatan Acak Masa SMA

Tema Jumat ini adalah SMA. Duuh SMA.....apa yang bisa saya tulis?
Kisah SMA saya tidaklah seperti teenlit (efek baru baca ulang Fairish) hehehe...biasa saja. tapi, coba kita korek lebih dalam ya..
Banyak orang bilang, masa SMA adalah masa yang paling indah, sampai-sampai Paramitha Rusady punya lagu yang judulnya Nostalgia SMA. Bagi saya masa SMA juga cukup menarik kalau boleh dibilang indah..ya, ada hal-hal yang menyenangkan, bikin sedih, bikin terharu, bikin salah tingkah. Pokoknya campur aduk masa SMA.
semacam bikin #20facts aja deh.. berapapun fakta yang akan saya beberkan ya.. (nulis di tengah-tengah nunggu jam kuliah selanjutnya, jadi mungkin banyak kata yang gajebo, mohon dimaafkan) ^^
1. Saya SMA di sebuah sekolah negeri yang cukup beken di kota saya ini. Masuk ke SMA ini hampir-hampir gagal karena konon kabarnya passing grade buat masuk ke SMA ini termasuk tinggi. Saya yang waktu itu cuma punya NEM 36 koma sekian jadinya H2C deh. Alhamdulillah ternyata saya lolos dan bisa sekolah di situ.
2. Pas Penataran P4, ada lagu yang begitu memorable bagi saya dan teman-teman di kelas 1-7, bahkan mungkin sampai sekarang. Lagu I Swear yang diplesetin Minions jadi Underwear itu. seorang teman kami didaulat untuk nyanyi lagu itu di depan kelas. Dengan gayanya yang bak penyanyi Idol, teman kami itu menyanyikan lagu I Swear penuh penghayatan, sehingga kemudian namanya diberi embel-embel I Swear.
3. Beberapa kali kabur dari sekolah, kabur bareng-bareng tentu saja. Sebelumnya saya gak ikutan kabur karena takut dimarahi guru, tapi.... ternyata yang jadi sasaran kemarahan para guru justru saya dan teman-teman yang bertahan di kelas. Ya sudahlah ketika ada ajakan kabur lagi, saya dan teman-teman yang awalnya gak ikut kabur akhirnya turut serta demi menjaga kebersamaan. #apeu
4. Ngotot ambil jurusan IPS padahal para guru sudah menentukan saya masuk jurusan IPA. Akhirnya dibolehkan dengan syarat saya harus jadi rangking satu di jurusan IPS. Alhamdulillah persyaratan dari para guru bisa dipenuhi.
5. Daaannn.... alhamdulillah, masa SMA ditutup dengan nilai akhir yang kebalikan dari NEM ketika masuk SMA.. alhamdulillah ^^

Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Matinya Masa Remaja

Masa-masa remaja saya di tingkat SMA hampir habis untuk patah hati. Kepada satu orang. Habis-habisan. Dan menyakitkan jika harus menjawab pertanyaan, "Apa kebahagiaan yang kamu dapatkan semasa remaja?" Hampir tertutup semua dengan kelabu ini. Bukannya tak ada, tapi saya terlanjur hanya mengingat kepahitan ini dibanding memori lainnya yang seharusnya bisa saya kenang dengan senyum setiap saat di hari tua saya.

Saya takut masih menyimpan dendam sampai saya mati nanti. Masalahnya, dua hal ini; memaafkan dan mati, nggak bisa saya tahu kapan tibanya. Sudah berkali-kali berusaha bangkit dan melupakan semuanya, tapi malah semakin besar trauma yang saya rasakan. Mengerikan. Saya harus memaafkan diri sendiri sebelum bisa memaafkan orang lain, tapi yang saya temukan sampai hari ini justru saya semakin lemah dimakan trauma masa lalu. Sedih. Saya nggak mau mati dengan perasaan seperti ini.

Saya mencintai seorang lelaki bertahun-tahun, demi keyakinan yang ternyata nggak pernah terlihat lebih dari seonggok batu mati tanpa tahu apa dan bagaimana fungsinya. Sia-sia adalah buahnya. Dan entah sampai kapan penyesalan ini nggak pernah setimpal sama kata maaf yang sudah ribuan kali saya dengar. Pelecehan seksual, kekerasan fisik, mental, verbal, perselingkuhan dua tahun lamanya dengan perempuan yang sama, dan masih banyak kerugian lainnya yang tak bisa saya bayar dengan sebuah maaf yang tulus. Jatuh sekali, ditumpuk berkali-kali, lalu saya tertimbun dendam yang saya pupuk sendiri bertahun-tahun, sampai hari ini. Saya takut...

Trauma, depresi, dendam, ketakutan, semuanya jadi teman saya selama ini. Mereka menjilat, menggigit, mengunyah, menelan satu per satu kepercayaan diri saya hingga saya merasa tak lagi punya jiwa. Entah, merinding rasanya setiap mengingat ini semua.

Anak muda itu harusnya puas bersenang-senang, berteman, jatuh cinta, patah hati, itu pesan orang dewasa yang (mungkin) telah melewati bahagianya jadi remaja. Tapi mereka lupa, ada harga yang perlu dibayar untuk hal-hal lain yang mengejutkan kita. Selagi bisa menjaga diri sendiri, akan lebih baik untuk bersenang-senang dalam jangkauan mata yang masih bisa terlihat. Pandanglah sejauh apa pun matamu menangkap, tapi jangan tertipu.

Apa saya udah butuh psikiater?

Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Tentang Ti ( Lagi )



Oke, dari judulnya mungkin bisa ditebak, ini lagi-lagi tentang si Ti, yah, dan ini lagi-lagi tentang tema dari grup yang diikutin sama Ti, temanya ialah SMA.
hahaha!! Ti, tertawa dalam hati, setelah sekian lama bengong sambil kerja, dan juga melamun sambil ngeprint laporan dan ngecek kertas kerja sekalian dengerin lagu, dia belom bisa mutusin mau nulis tentang apa.

Sementara itu, dalam pikirannya berputar kembali kejadian-kejadian masa SMA yang, yah, kalau mau dikatakan indah, yah bisalah, secara yah, SMA St. Fransiskus Assisi tempat Ti melanjutkan pendidikannya setelah SMP ini salah satu sekolah favorit, tempatnya strategis, di depan gerbang sekolah ada warnet 2 biji, sampingnya warnet ada warung kopi, terus lurus lagi, pas di persimpangan ada rental ps juga, dan berderetan juga warung makanan.. Itu di depan gerbang langsung loh, nah, kalo di pintu belakang yang bisa dipanjatin, itu ada tempat buat maen biliard, warnet, serta warung kopi juga. Belom lagi peraturan sekolah yang memperbolehkan siswa-siswi untuk berpakaian bebas rapi dari hari selasa-sabtu, serasa anak kuliah gitu. dan boleh dibilang, hal ini dibanggakan siswa-siswi sekolah itu.

Terbayang oleh Ti, hari pertamanya masuk sekolah ini, Masa Orientasi Siswa atau yang biasa disebut MOS, kegiatan geblek yang cuman mo nunjukkin superiornya sebuah sistem senioritas yang ga bermanfaat sama sekali kalo isinya cuman buat bentak-bentak dan ngehukum siswa-siswi baru dengan hal yang ga lumrah seperti ngebawa kacang hijau terus musti diitung, atau ngajakin tiang voli pacaran, juga atribut-atribut memalukan kayak topi dari koran atau name tag gede2 dari plastik hitam yang ditempelin karton putih dengan nama-nama pemberian bodoh yang mesti dipakai. HAH! Geblek.
Jadi, selama seminggu MOS, hanya hari pertama dan hari terakhir Ti menampakkan diri di sekolah, sisanya dihabiskan di warnet, dan sepertinya keputusan itu cukup tepat, mengingat dia punya kenalan beberapa anak kelas 3 yang juga panitia yang bisa dimintain tolong untuk mengisi absennya setiap hari. Dia aman dari perploncoan, nggak nambah musuh kayak temen sekelasnya si Parjo yang sempet berantem ama senior yang ujung-ujungnya, seperti biasa, dikroyok tuh anak.

Masa-masa MOS yang nggak diikutin Ti pun lewat, dan kegiatan sekolah bakal dimulai dengan temen-temen baru, tepatnya baru ketemu lagi setelah berpisah karna lain SMP.
yah, segelintir wajah yang baru dikenal memang ada, dan yang tak disangka, ternyata, Maria, sang pacar pertama (belum pernah ada kata putus, jadi belom jadi mantan) juga sekolah di situ, nggak mustahil sih, toh SMP Maria yah di situ juga, jadi ga aneh kalo dia ngelanjutin di SMA yang sama.

Dia masih cantik dan manis, pikirnya, dan ketika ada saat mereka berpapasan atau bertegus sapa, sorakan teman-teman membahana, kisah mereka ternyata diketahui khalayak ramai, hahahaha. Dan sampai saat ini Ti masih sedikit merenung, mengapa dia bisa pisah begitu aja ya ?

Ada juga saat Ti yang diketahui jago buat puisi dimintain tolong untuk ngebuat surat cinta sama temennya yang mo nembak cewek gebetannya setelah dua tahun memendam rasa, HAHAHAHA!
Surat cinta ? yes, surat cinta, masih jamannya kok, secara handphone masih mahal, dan ga semua orang punya.
dan ketahuilah, ternyata cewek yang ditembak temennya itu malah sukanya sama Ti, bahkan dia bisa tahu, surat cinta itu Ti yang buat, bukannya si Yanto. Ajaibnya lagi, ga berapa lama setelah Yanto ditolak dengan alasan klasik "masih pengen fokus skolah" eh Ti ama Evi jadian, dan ini sungguh sangat menyakiti perasaan Yanto yang kemudian stop bertegur sapa dengan Ti karena dianggep merebut sang pujaan hati.
Well, meski kemudian kisah mereka kandas setelah Ti merasa jenuh, dan kisah komplitnya terlalu pedih untuk diceritakan, karena Ti masih teramat menyesal dengan keputusannya itu.

Diingatnya juga saat mereka yang masuk di tim basket sekolah harus berjuang keras ngajuin proposal dan izin hanya untuk ikut kejuaraan antar sekolah, mendaftar dengan uang patungan dengan harapan kecil tuh duit diganti padahal ngebawa nama sekolah. Lalu ada juga perselisihan antar etnis yang bikin heboh sekolah sampai-sampai menelpon polisi beberapa kali.

Shiet, kenapa jadi nostalgia sendiri gini, pikirnya. Ti masih bengong dan layar laptop di depannya masih putih, hanya terisi pada bagian judul.
tak lama, jari-jarinya mulai menekan pelan keyboard sambil mengingat masa yang dirasanya masih terindah sampai saat ini.


"kisahku, kisahmu teman"

kisahku, kisahmu teman,
hanya sekian tahun.
ada gila, ada bodoh, ada canda serta tawa
meski juga kadang ada selisih kata, dan hampir saja bertukar bogem mentah
tapi di akhir kita bisa tertawa mengenangnya.

kisahku, kisahmu teman,
mungkin hanya sekejap dirasakan,
dan tak sama di beberapa bagian,
namun semoga sepanjang hidup masih bisa diterakan.

kisahku, kisahmu teman,
tak seiring harus berjalan, tapi sama-sama berjuang.
mengejar cinta, bertarung dengan keluh kesah,
menikmati hidup, dan lain sebagainya.
sampai nanti kita bertemu lagi
duduk bersama sambil tertawa, saling berbagi cerita .

kisahku, dan kisahmu teman.
itu ada, dan nyata.


---------------------------------------------------------------------------------------------------



@sayah_ian 31 Oktober 2014.



salam berantakan..~~



Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Tentang Ti




Jadi, alkisah pada jaman sekarang, ada seorang laki-laki, seorang warga keturunan dengan perawakan tidak terlalu tinggi, berkulit (tadinya putih) kuning langsat, berkacamata, memiliki wajah menarik yang seringkali dikira masih anak SMA atau mahasiswa dan yah, baru mulai belajar menulis blog. Sebut saja dia Ti.
Kebetulan, dia mengikuti, ah bukan mengikuti tapi ikut serta -uhmm, bedanya apa yah- dalam sebuah grup, dimana grup tersebut dibuat untuk memotivasi para anggotanya untuk rajin menulis, tak peduli itu sebuah karangan fiksi, prosa manis, puisi cinta, catatan perjalanan, bahkan omong kosong belaka.
Oke, yang terakhir itu kebanyakan Ti yang nulis.
Di tengah kesibukan kerjanya yang mulai padat di suatu waktu di penghujung tahun, dan di hari yang telah ditentukan untuk posting tulisan yang dibuat. Dia kewalahan dengan tema yang diberikan kali ini.
Temanya adalah terasi, iya, terasi. Ti hanya tahu terasi itu bumbu dapur, eh bukan, hmmm. Apa ya namanya, yah pokoknya terasi itu salah satu bahan masakan asli Indonesia. Dibuatnya dari ebi, itu aja udah.
Dan setelah berpikir keras, mencari ide di tengah tumpukan berlembar-lembar kertas berisi angka dan menatap file-file Ms. Excel. Juga berjongkok di American Standard, bahkan duduk di atas Toto, belum ada hasil yang menggembirakan.
Layar laman entri di laptopnya masih kosong, dan Ti pun hanya menatap kosong sambil tangan menggerakkan mouse sesekali. Tak lama, dia mulai mengetik.
"Terasi itu ......


















BAU!!
Selesai."
Tangannya mengarahkan mouse. Klik!
Postingan telah selesai dibuat.
Sungguh sebuah mahakarya, sebuah masterpiece abad ini oleh Ti, sang perangkai kata-kata bodoh, pengarang cerita yang sia-sia, dan backpacker wannabe.
Terima kasih.
@sayah_ian 22 Oktober 2014.
Salam berantakan..~~