Kisah SMA saya tidaklah seperti teenlit (efek baru baca ulang Fairish) hehehe...biasa saja. tapi, coba kita korek lebih dalam ya..
Friday, October 31, 2014
Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Catatan Acak Masa SMA
Kisah SMA saya tidaklah seperti teenlit (efek baru baca ulang Fairish) hehehe...biasa saja. tapi, coba kita korek lebih dalam ya..
Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Matinya Masa Remaja
Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Tentang Ti ( Lagi )
Oke, dari judulnya mungkin bisa ditebak, ini lagi-lagi tentang si Ti, yah, dan ini lagi-lagi tentang tema dari grup yang diikutin sama Ti, temanya ialah SMA.
hahaha!! Ti, tertawa dalam hati, setelah sekian lama bengong sambil kerja, dan juga melamun sambil ngeprint laporan dan ngecek kertas kerja sekalian dengerin lagu, dia belom bisa mutusin mau nulis tentang apa.
Sementara itu, dalam pikirannya berputar kembali kejadian-kejadian masa SMA yang, yah, kalau mau dikatakan indah, yah bisalah, secara yah, SMA St. Fransiskus Assisi tempat Ti melanjutkan pendidikannya setelah SMP ini salah satu sekolah favorit, tempatnya strategis, di depan gerbang sekolah ada warnet 2 biji, sampingnya warnet ada warung kopi, terus lurus lagi, pas di persimpangan ada rental ps juga, dan berderetan juga warung makanan.. Itu di depan gerbang langsung loh, nah, kalo di pintu belakang yang bisa dipanjatin, itu ada tempat buat maen biliard, warnet, serta warung kopi juga. Belom lagi peraturan sekolah yang memperbolehkan siswa-siswi untuk berpakaian bebas rapi dari hari selasa-sabtu, serasa anak kuliah gitu. dan boleh dibilang, hal ini dibanggakan siswa-siswi sekolah itu.
Terbayang oleh Ti, hari pertamanya masuk sekolah ini, Masa Orientasi Siswa atau yang biasa disebut MOS, kegiatan geblek yang cuman mo nunjukkin superiornya sebuah sistem senioritas yang ga bermanfaat sama sekali kalo isinya cuman buat bentak-bentak dan ngehukum siswa-siswi baru dengan hal yang ga lumrah seperti ngebawa kacang hijau terus musti diitung, atau ngajakin tiang voli pacaran, juga atribut-atribut memalukan kayak topi dari koran atau name tag gede2 dari plastik hitam yang ditempelin karton putih dengan nama-nama pemberian bodoh yang mesti dipakai. HAH! Geblek.
Jadi, selama seminggu MOS, hanya hari pertama dan hari terakhir Ti menampakkan diri di sekolah, sisanya dihabiskan di warnet, dan sepertinya keputusan itu cukup tepat, mengingat dia punya kenalan beberapa anak kelas 3 yang juga panitia yang bisa dimintain tolong untuk mengisi absennya setiap hari. Dia aman dari perploncoan, nggak nambah musuh kayak temen sekelasnya si Parjo yang sempet berantem ama senior yang ujung-ujungnya, seperti biasa, dikroyok tuh anak.
Masa-masa MOS yang nggak diikutin Ti pun lewat, dan kegiatan sekolah bakal dimulai dengan temen-temen baru, tepatnya baru ketemu lagi setelah berpisah karna lain SMP.
yah, segelintir wajah yang baru dikenal memang ada, dan yang tak disangka, ternyata, Maria, sang pacar pertama (belum pernah ada kata putus, jadi belom jadi mantan) juga sekolah di situ, nggak mustahil sih, toh SMP Maria yah di situ juga, jadi ga aneh kalo dia ngelanjutin di SMA yang sama.
Dia masih cantik dan manis, pikirnya, dan ketika ada saat mereka berpapasan atau bertegus sapa, sorakan teman-teman membahana, kisah mereka ternyata diketahui khalayak ramai, hahahaha. Dan sampai saat ini Ti masih sedikit merenung, mengapa dia bisa pisah begitu aja ya ?
Ada juga saat Ti yang diketahui jago buat puisi dimintain tolong untuk ngebuat surat cinta sama temennya yang mo nembak cewek gebetannya setelah dua tahun memendam rasa, HAHAHAHA!
Surat cinta ? yes, surat cinta, masih jamannya kok, secara handphone masih mahal, dan ga semua orang punya.
dan ketahuilah, ternyata cewek yang ditembak temennya itu malah sukanya sama Ti, bahkan dia bisa tahu, surat cinta itu Ti yang buat, bukannya si Yanto. Ajaibnya lagi, ga berapa lama setelah Yanto ditolak dengan alasan klasik "masih pengen fokus skolah" eh Ti ama Evi jadian, dan ini sungguh sangat menyakiti perasaan Yanto yang kemudian stop bertegur sapa dengan Ti karena dianggep merebut sang pujaan hati.
Well, meski kemudian kisah mereka kandas setelah Ti merasa jenuh, dan kisah komplitnya terlalu pedih untuk diceritakan, karena Ti masih teramat menyesal dengan keputusannya itu.
Diingatnya juga saat mereka yang masuk di tim basket sekolah harus berjuang keras ngajuin proposal dan izin hanya untuk ikut kejuaraan antar sekolah, mendaftar dengan uang patungan dengan harapan kecil tuh duit diganti padahal ngebawa nama sekolah. Lalu ada juga perselisihan antar etnis yang bikin heboh sekolah sampai-sampai menelpon polisi beberapa kali.
Shiet, kenapa jadi nostalgia sendiri gini, pikirnya. Ti masih bengong dan layar laptop di depannya masih putih, hanya terisi pada bagian judul.
tak lama, jari-jarinya mulai menekan pelan keyboard sambil mengingat masa yang dirasanya masih terindah sampai saat ini.
"kisahku, kisahmu teman"
kisahku, kisahmu teman,
hanya sekian tahun.
ada gila, ada bodoh, ada canda serta tawa
meski juga kadang ada selisih kata, dan hampir saja bertukar bogem mentah
tapi di akhir kita bisa tertawa mengenangnya.
kisahku, kisahmu teman,
mungkin hanya sekejap dirasakan,
dan tak sama di beberapa bagian,
namun semoga sepanjang hidup masih bisa diterakan.
kisahku, kisahmu teman,
tak seiring harus berjalan, tapi sama-sama berjuang.
mengejar cinta, bertarung dengan keluh kesah,
menikmati hidup, dan lain sebagainya.
sampai nanti kita bertemu lagi
duduk bersama sambil tertawa, saling berbagi cerita .
kisahku, dan kisahmu teman.
itu ada, dan nyata.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
@sayah_ian 31 Oktober 2014.
salam berantakan..~~
Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Tentang Ti
Jadi, alkisah pada jaman sekarang, ada seorang laki-laki, seorang warga keturunan dengan perawakan tidak terlalu tinggi, berkulit (tadinya putih) kuning langsat, berkacamata, memiliki wajah menarik yang seringkali dikira masih anak SMA atau mahasiswa dan yah, baru mulai belajar menulis blog. Sebut saja dia Ti.
Kebetulan, dia mengikuti, ah bukan mengikuti tapi ikut serta -uhmm, bedanya apa yah- dalam sebuah grup, dimana grup tersebut dibuat untuk memotivasi para anggotanya untuk rajin menulis, tak peduli itu sebuah karangan fiksi, prosa manis, puisi cinta, catatan perjalanan, bahkan omong kosong belaka.
Oke, yang terakhir itu kebanyakan Ti yang nulis.
Di tengah kesibukan kerjanya yang mulai padat di suatu waktu di penghujung tahun, dan di hari yang telah ditentukan untuk posting tulisan yang dibuat. Dia kewalahan dengan tema yang diberikan kali ini.
Temanya adalah terasi, iya, terasi. Ti hanya tahu terasi itu bumbu dapur, eh bukan, hmmm. Apa ya namanya, yah pokoknya terasi itu salah satu bahan masakan asli Indonesia. Dibuatnya dari ebi, itu aja udah.
Dan setelah berpikir keras, mencari ide di tengah tumpukan berlembar-lembar kertas berisi angka dan menatap file-file Ms. Excel. Juga berjongkok di American Standard, bahkan duduk di atas Toto, belum ada hasil yang menggembirakan.
Postingan telah selesai dibuat.
Sungguh sebuah mahakarya, sebuah masterpiece abad ini oleh Ti, sang perangkai kata-kata bodoh, pengarang cerita yang sia-sia, dan backpacker wannabe.
Terima kasih.
Jumatulis Season 2 - 04 Bel - bel ?
Aku terbaring di ruang tamu setelah terlalu lelah memindahkan barang-barangku, dan ketika aku mulai terlelap, bel berbunyi dari arah pintu. Aku pun bangun dengan susah payah dan berjalan ke arah pintu, mungkin ada barangku yang masih tertinggal di truk agen pemindahan tadi, pikirku.
Bel itu masih berbunyi sekali sebelum aku mencapai pintu.
Klek! Pintu kubuka, tapi tidak ada siapa-siapa.
Ahh, mungkin anak tetangga sedang iseng, dan aku pun teringat ketika dulu sering melakukan hal seperti ini. Aku terlalu lelah untuk mencari tahu, dan kemudian setelah menutup pintu dan menguncinya, aku berjalan cepat kembali ke sofa dan akan melanjutkan tidurku.
TETTT!!!
Aku tersentak bangun, bel berbunyi seakan dekat sekali dengan telingaku.
TETTT!!!
Bel itu berbunyi lagi, dengan raut kesal aku menghambur ke arah pintu dan siap berteriak kepada siapapun yang dengan sopannya datang bertamu jam 1 dini hari.
Pintu kubuka dan tak ada siapapun di sana, dan sekilas kulihat ada jejak kotor di lantai depan pintu, siapapun itu, pasti dia yang mengerjaiku. Kubanting pintu dan masuk kembali ke dalam, dan tanpa mau memikirkannya lagi, aku kembali tidur.
Tok tok tok! Ketokan kencang di depan pintu.
"Greee, ini gue Endo, buka woy!!"
Aku bangun lagi untuk kesekian kalinya, setelah semalam diganggu bel yang sepertinya berbunyi setiap jam, dan setiap kali dan secepat apapun aku membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Iyaaa, tunggu bentar." jawabku sambil melangkah ke arah pintu dengan mata tertutup.
"Lama amat sih" kata Endo sambil melangkah masuk, "Ada kali setengah jam gue gedor pintu lu, untung ga gue dobrak" lanjutnya.
"Lahh, kan ada bel, lebih kenceng kali daripada lu mesti ketok" balasku sambil menutup pintu.
"Bel ? Lu ngimpi ?? Baru juga lu pindah ke sini kemaren, emank lu uda pasang bel ?"
Mendengar itu, aku terdiam, secepat mungkin membuka pintu, melompat keluar dan melihat pintu dan sekelilingnya.
Tidak ada bel terpasang.
@sayah_ian 17 oktober 2014
salam berantakan..~~
Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Kisah Di Buku Tulis
Friday, October 24, 2014
Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Sambal Dina
"Makanan di sini enggak ada yang enak!" keluh Mamaku.
"Iya, semua enggak ada rasa!" sahut Papaku kemudian.
Adik-adikku juga tidak mau kalah, aku menatap mereka sambil tertawa, "Di sini, ya, rasanya memang tidak bisa diandalkan. Namanya juga bukan di rumah..."
"Katanya sambal pedas, kok ini malah manis?!"
"Katanya juga ini sambal terasi, kok lebih banyak rasa tomatnya?!"
"Ini juga, jeruk purutnya mana?! Mana enak sambal terasi tanpa dikasih perasan jeruk purut?!"
"Lebih enak sambalnya Dina!" Papa, Mama, dan adik-adikku serentak berseru.
Kali ini aku sedang berlibur ke rumah. Sejak jauh hari aku sudah membayangkan masakan rumah, masakan a la Mama, ditambah dengan racikan sambal a la Dina. Di rumah ini, sambal terasi super pedas sudah menjadi ciri khas tersendiri, salah satu yang amat dirindukan oleh perantauan sepertiku. Pembuatnya, ya, siapa lagi? Gadis remaja berusia 15 tahun yang sudah sekitar dua tahun ini ikut tinggal bersama kami.
Ayahnya Dina adalah salah satu tukang yang ikut membangun rumah kami. Malang, di saat proses pembangunan sedang berlangsung, Ayah Dina terjatuh dan akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itu, Mama dan Papa mengangkat Dina menjadi anak. Dina juga disekolahkan oleh Papa dan Mama. Sebenarnya tidak ada yang memaksa Dina untuk ikut membantu di urusan rumah tangga, apalagi urusan masakan di rumah sepenuhnya ada di bawah tanggung jawab dan kontrol dari Mama. Di rumah juga ada orang lain yang bertugas mengerjakan urusan rumah tangga. Tetapi, Dina terus saja merasa tidak enak hati karena sudah diizinkan tinggal dan disekolahkan. Jadi, dia terkadang ikut membantu Mama memasak.
"Sekalian saya belajar memasak, Bu..." begitu alasan Dina.
Di situlah kemudian rahasia sambal a la Dina mulai terkuak. Sambal yang membuat kami semua tergila-gila. Rasanya tidak lengkap jika makanan di rumah tidak dilengkapi dengan sambal terasi buatan Dina.
"Ma, Dina ke mana?" Ini pertanyaan pertamaku ketika sampai di rumah, "Aku kangen banget, Ma, dengan sambalnya Dina. Kok tidak ada di meja makan? Adanya sambal buatan Mama..."
"Dina pulang ke rumahnya hari ini, besok baru kembali ke rumah kita."
"Yaaah..."
"Kan ada sambal buatan Mama, nak..." bujuk Mama.
"Iya sih, aku juga paling suka sambal buatan Mama. Tapi, kalau sambal buatan Mama hampir tiap hari juga aku makan di kos. Kan, Mama rutin mengirimkan sambal ke aku..."
"Sudah, dari pada kamu semakin kelaparan, mending sekarang makan. Besok, kamu bisa memakan sambal buatan Dina.
Dengan muka masih ditekuk, aku menuruti Mama dan beranjak ke meja makan. Bagaimana pun, cacing-cacing di perutku sudah bergemuruh sejak tadi.
![]() |
| Sumber: Menu Resep Masakan |
Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Ngidam Sambal Terasi
"Aku mau sambal terasi."
"Nanti aku bilang si Mbok ya, Mas."
"Kamu aja yang bikin, Nduk."
"Aduh, Mas. Baunya tajam. Aku nggak kuat, ah."
"Cuma disuruh begitu aja sama suami ngeluh terus. Aku lagi kepengin sambal terasi. Itu aja. Memangnya susah?"
Ardi terus mengomel seperti anak kecil yang tak boleh beli permen atau kembang gula karena dianggap sebagai sumber penyakit. Ia bahkan seperti lupa bahwa isterinya sedang berusaha menahan mual yang terus mengganggu keadaannya setiap hari. Bagaimana bisa ia bertemu terasi dan bumbu dapur lainnya yang baunya menyengat? Mencium parfum suaminya sendiri saja kadang bisa menimbulkan perkara.
Semenjak Ratna dinyatakan positif hamil, Ardi jadi mendadak berubah manja. Kadang, ia merasa bahwa suaminya yang mengidam. Sedangkan Ratna tak pernah lepas dari rasa mual dan pusing sepanjang hari. Si Mbok juga perlu ekstra perhatian untuk mengingatkannya makan, karena Ratna seringkali lupa, atau bahkan pura-pura lupa karena tak lagi punya nafsu makan.
"Mbok, aku aja yang masak sekarang, ya. Aku mau masak sambal terasi untuk Mas Ardi."
"Si Mbok aja, Mbak, yang buatkan. Nanti Mbak muntah lagi, gimana?" Si Mbok menjawab sambil memegang tubuh Ratna yang lunglai.
"Mas Ardi maunya saya yang buatkan. Ya, maklum saja, Mbok. Kayaknya dia yang kena ngidam, hehe." Tawa Ratna terdengar getir karena ia lebih merasa mau muntah daripada tertawa. Hanya ada rasa sakit, dan tak ada bahan lawakan yang mampu ia tertawakan lagi. Mau menjadi Ibu saja harus merasakan sakit seperti ini, batinnya.
"Ya, sudah. Kalau butuh bantuan, panggil Si Mbok ya, Neng. Hati-hati di dapur. Si Mbok ada di halaman belakang, kok. Mau nyiram bunga." Jawab Si Mbok sambil perlahan meninggalkan dapur dan membuka pintu belakang yang menunjukkan dataran rumput hijau yang asri dan penuh bunga warna-warni. Taman kecil ciptaan Ardi untuk isterinya yang senang menanam bunga. Ratna memaksakan senyum, berharap Si Mbok mengerti bahwa ia sudah dewasa dan bisa menjaga diri di dapurnya sendiri.
Sementara Ardi terus mengumpat dan mengeluh di kamar, dan tak mau keluar sampai malam hari.
Enam bulan kemudian...
"Anak kita perempuan, Nduk." Tutur Ardi sambil mengusap lembut kepala Ratna.
"Alhamdulillah. Sehat, Mas?"
"Iya. Kamu jangan mikirin apa-apa dulu, ya. Biar pulih dulu badanmu." Terlihat senyum terpaksa di wajah Ardi. Ada yang tertahan di kepalanya. Beban yang entah kapan dan bagaimana bisa ia selesaikan setelah ini. Maafkan aku, Ratna. Aku pernah menyumpahi anak kita. Dan ia lahir dengan banyak bulu.
Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Tentang Seseorang
Sebuah post it tertempel di situ, "sedikit oleh-oleh dari Cirebon". Saya buka dengan penasaran, sebatang coklat anti galau (saya pikir coklat anti galau biasanya dari Garut) dan satu bungkusan lagi yang menunjukkan kalau benar ini datang dari Cirebon, terasi.
Seseorang yang mungkin pernah menjadi calon menantu paling didambakan oleh orang tua saya. Seseorang yang mengaku menunggu saya selama 12 tahun. Seseorang yang bahkan ingat semua pertemuan tak sengaja yang terjadi setelah kami lulus SMA. Seseorang yang tidak diduga tiba-tiba datang bersilaturahmi Lebaran. Seseorang yang pernah meminta saya untuk menunggunya pada liburan Natal tahun itu karena dia akan pulang.
Seseorang yang ternyata tidak datang ketika liburan Natal itu. Seseorang yang pada suatu subuh menjelang tahun baru mengirimkan sebuah sms yang membuat saya bingung. Seseorang yang kemudian mengirimkan email pada saya di bulan Februari. Seseorang yang emailnya saya baca setelah saya memanjatkan doa terlebih dahulu.
Maaf, aku gak bisa menepati janji. Aku mau menikah akhir bulan ini. Tolong mintakan maaf ke mamah sama bapak ya..
Sekali lagi aku minta maaf.
Jumatulis Season 2 - 05 Terasi – Sambal Terasi Ibu
#Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Nasi dan Terasi

Friday, October 17, 2014
Jumatulis Season 2 - 04 Bel - Perihal Kehilangan
![]() |
| Sumber Gambar: Dreamstime |
And when you have reached the mountain top, when you shall begin to climb.
*
Taken from The Prophet by Gibran Khalil Gibran.
Jumatulis Season 2 - 04 Bel - Njum,aku...
Bel tanda jam pelajaran berakhir telah berbunyi. Aku bangkit dari kursiku, kurapikan seragamku dan dengan tidak bersemangat menuju pintu kelas.
Aku sudah melihatnya, dia menungguku di tangga yang menuju perpustakaan. Dari jauh senyum tipisnya sudah seperti menyambutku, pelan aku melangkahkan kaki ke arahnya.
Aku masih belum tahu, aku harus mengatakan apa.
Jumatulis Season 2 - 04 Bel – Penantian Kepulangan
![]() |
| sumber: pinterest.com |
Jumatulis Season 2 - 04 Bel - Jasa yang Terbuang Sia-Sia
Tiga tahun sudah dia pergi. Hanya meninggalkan lonceng emas yang hanya punya satu bunyi. Sama sepertinya yang hanya punya satu kenangan di mataku.
"Nyanyi dulu, yuk, sama-sama. Saya tulis dulu ya liriknya." Ujar Dosen bahasa Inggris di depanku yang sudah cukup tua, tapi masih sangat lincah.
Beberapa mahasiswa sudah sangat tak sabar untuk menyudahi sesi perkuliahan ini. Mereka memang tak pernah menyukai Dosen ini. Mereka pikir, Pak Jaya freak, membosankan, tidak bisa mendidik. Aku hanya bisa diam. Membenarkan keadaan yang digambarkan mereka, tapi tak sanggup mengeluh.
Beberapa baris kata sudah tertulis dengan (tidak) rapi di papan tulis putih. Teman-temanku mengeja dengan sulit, sambil sesekali bersuara. Berusaha untuk terlihat tetap semangat mengikuti irama nyanyian yang Pak Jaya tirukan.
When I was a student at Cadiz,
I played on the Spanish guitar, ching, ching!
I used to make love to the ladies,
I think of them still from afar, ching, ching!Ring, ching, ching, Ring, ching ching, Ring out ye bells
Oh ring out ye bells, Oh ring out ye bells!
Ring ching ching, Ring ching ching, ring out ye bells,
As I play on my Spanish guitar. Ching, ching!
Sambil mengambil sebuah bel dari tasnya, ia bercerita dan berjalan mendekat ke arah tempat duduk mahasiswanya. "Saya berusaha memberikan banyak nyanyian sebelum kalian pulang dari perkuliahan saya. Niatnya, sih, supaya kalian bisa mengingat saya dan tak bosan dengan pelajaran saya." Tuturnya pelan. "Ini bel dari cucu saya yang kuliah di Kanada," lanjutnya.
"Tapi saya tetap nggak mengerti dengan metode belajar yang Bapak berikan." Salah satu mahasiswa berucap ketus. Raut wajah Pak Jaya berubah mendung, ia terdiam. Tepat di sebelahku. Menaruh bel lucu di mejaku, yang sedari tadi ia pegang.
"Mohon maaf, kamu mau belajar dengan cara apa, Yuan?" Tanya Pak Jaya. Suaranya kini yang berubah melemah, ada getar yang menunjukkan getir.
"Masa Dosen malah bertanya dengan muridnya?"
"Ya sudah, saya akan belajar untuk mengajar lagi nanti. Pelajaran hari ini sudah selesai. Semoga kalian selamat sampai rumah ya, anak-anakku..."
Belum selesai Pak Jaya berbicara, teman-teman saya sudah bergerak membereskan buku dan tasnya, lalu membaur ke luar ruangan kelar. Pergi ke tujuannya masing-masing; ke kantin untuk main, ke rumah teman, ke mall, atau ke mana pun yang membuatnya tak mengingat lagi pelajaran hari ini. Dalam hati, aku bertanya. "Siapa yang sebenarnya salah? Adakah ilmu yang salah alamat? Sang pengantar pesan yang tak tepat, ilmu yang belum cukup dilimpahkan, atau sang penerima yang belum membuka hati untuk ikhlas menerima?"
Satu bulan kemudian, Pak Jaya berhenti mengajar di kampusku. Ia sakit-sakitan dan tak pernah ada kabar yang jelas tentang keadaannya. Teman-temanku senang bukan main, beberapa minggu kelasnya kosong dan mereka tak perlu mendengar basa-basi Pak Jaya lagi. Satu minggu sebelum UAS, Dosen pengganti yang mendadak datang mengisi kelas bahasa Inggris, menggantikan peran Pak Jaya, hanya memberi beberapa kisi-kisi untuk dipelajari sebelum UAS. Kami semua pusing dan pasrah karena tak tahu harus menyiapkan apa untuk mata kuliah dasar ini.
Setelah UAS, kami mendapat kabar bahwa Pak Jaya telah meninggal dunia. Seluruh teman menangis, menyesal karena tak sempat -dan atau bahkan tak pernah berniat- menjenguk, bahkan meminta maaf atas semua kesalahan. Aku datang ke pemakaman, mencari salah satu anggota keluarga yang bisa kutanyakan perihal keadaannya yang membuatnya pergi selamanya.
"Depresi." Begitu jawaban singkat yang kudapat dari salah satu anak perempuannya, yang kutahu ternyata juga masih berstatus mahasiswa di perguruan tinggi di Bandung. Aku tersentak, merasa bersalah dan tak berani lama-lama menatap mata anaknya yang penuh duka. Mungkin anaknya Pak Jaya juga punya niat untuk memukulku. Salah satu anak yang tak mau diajar Ayahnya, dan membuatnya mati perlahan dan tersiksa.
Haruskah kita merasa kehilangan sebelum sadar ada kasih sayang yang terhalang ego?
Bel kecil ini akan selalu aku simpan. Semoga Beliau tak lagi merasa sendirian... atau terabaikan.
Sumber pencerahan: http://piphiblog.org/tag/ring-ching/
(Ditulis karena merasa bersalah pernah sebel sama beberapa Dosen di kampus. Salah satu Dosen pernah kasih lagu RIng Ching Ching ini di sela-sela pelajaran yang membosankan.)
Jumatulis Season 2 - 04 Bel - Akibat Membaca Saya Sakit Seminggu!
#Jumatulis Season 2 - 04 Bel - Bunyi Bel




